Part 17

24K 1.6K 98
                                        

Malam ini malam Sabtu. Harusnya Nara bisa tidur dengan sleeping mask Laneige-nya. Atau membaca novel metropop kesukaannya ditemani secangkir matcha latte.

Namun yang terjadi justru malam ini Nara terpaksa harus melembur berdua dengan Bian. Zia dan Sheina sudah balik kantor sejak 2 jam yang lalu.

Meninggalkan Nara dengan setumpuk deadline yang harus diselesaikan malam ini juga. Sementara mereka berdua berencana berburu diskonan di The Excecutive.

Mereka sangat merepresentasikan arti teman sejati.

Jam sudah menunjukkan pukul 09.00 malam namun, belum ada tanda-tanda pekerjaannya akan selesai.

Tiba-tiba saja Nara memegang perutnya yang terasa sangat lapar. Terakhir ia makan siang tadi, itupun hanya tahu campur tanpa lontong. Tubuhnya seakan meronta meminta karbo.

Nara melihat Bian yang masih tampak serius mengamati MacBook di depannya sambil jari-jarinya terus mengetikkan sesuatu.

Tak lama, pergerakan jari Bian terhenti. Ia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju luar ruangan.

Seakan menjawab raut heran Nara, Bian berkata, "Saya ke belakang sebentar. Kamu gak apa-apakan sendirian?"

"Oh, eh, iya gak apa-apa, Pak."

Tak lama berselang Bian kembali dengan dua bungkusan bento dari salah satu restoran Jepang terkenal di Bogor.

Tanpa berkata apapun Bian meletakkan bungkusan makanan itu di atas meja dan memanggil Nara dengan isyarat supaya mendekat.

"Ini saya tadi pesan Go-Food, saya tahu dari tadi kamu gelisah. Suara keroncongan perut kamu itu bahkan sampai di telinga saya."

Nara sempat mematung beberapa detik. Mencoba meyakinkan diri sendiri kalau yang ada di hadapannya ini Bian. Si otoriter yang hanya memikirkan diri sendiri.

"Ayo sini, malah bengong." Bian kembali memanggil Nara.

Nara akhirnya melepaskan mouse dari genggaman tangannya. Wangi katsu yang begitu menggoda merasuk indera penciumannya.

Nara duduk dan langsung membuka bungkusan katsu. Cacing di perutnya sudah tidak bisa diajak kompromi.

"Baca Bismillah dulu." ujar Bian mengingatkan Nara.

Nara memutar bola mata malas. Tanpa Bian ingatkan, Nara sudah pasti membaca doa.

Tidak sampai 10 menit, makanan yang dipesan Bian ludes tidak bersisa. Nara menatap takjub, membandingkan dengan piringnya yang masih terisi separuh.

Porsi makanan yang dipesan Bian termasuk besar untuk ukuran lambung Nara. Nara merasa lambungnya sudah penuh namun ia tak enak hati dengan Bian yang sudah memesankan makanan untuknya.

"Kenyang?" Bian melihat ritme menyendok Nara semakin lambat, menandakan ia sudah kenyang.

Nara mengangguk dengan raut memelas.

Bian dengan sigap menarik piring Nara dan lantas menyendokkan makanan Nara ke mulutnya.

Nara melihat Bian takjub, "Bapak gak kenyang?"

(Un) finished Business - ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang