Bab 7

20K 1.7K 8
                                        

Nara sengaja berangkat pagi-pagi sekali hari ini. Setengah jam dari jam kantor dimulai. Selain karena hari ini hari Jumat yang menurut dia itu hari berkah, juga agar dia tidak usah repot-repot bertemu dengan Bian, si makhluk astral satu itu.

Buka ruangannya. Letakkan rekap data ini di mejanya. Kelar urusan.

Nara bersenandung kecil, teringat besok weekend yang artinya merupakan jadwal hangout-nya, Zia, dan Sheina. Rencananya mereka akan menonton film romance yang cukup recommended akhir-akhir ini.

Setelah itu mungkin mereka akan mampir ke booth The Body Shop yang sedang mengadakan garage sale dan berakhir dengan makan di HokBen. Nara sangat rindu dengan ekkado favoritnya.

Nara sudah sampai di depan ruangan Bian. Tanpa repot mengetuk pintunya, Nara langsung memutar knop dan masuk ke dalam.

"Astagfirullahaladzim..." Nara mengelus dadanya perlahan. Apa yang ada di depannya cukup membuatnya terkejut.

"Kamu kenapa?" Bian tampak santai seolah-olah keberadaannya di jam 06.00 pagi ini di ruangannya bukan hal yang aneh.

Nara masih termangu. Selain karena kehadiran Bian yang tak disangka-sangka di jam kantor sepagi ini juga karena pakaian yang dikenakan Bian.

Setiap hari Jumat kantor Nara memang memberlakukan baju bebas untuk para karyawannya.

Tak ketinggalan Bian yang hari ini tampak sedikit kalem menggunakan baju koko lengan panjang berwarna putih tulang dengan kerah berdiri.

Nara sudah merencanakan datang pagi-pagi sekali agar tidak bertemu Bian. Tapi ternyata Bian justru datang lebih pagi dari dirinya.

Kembali Nara harus merasakan sendiri kalau sebaik-baik rencananya masih lebih baik rencana Allah.

"Loh, Bapak kok sudah datang?" Nara bertanya kepada Bian masih dengan tampang tidak percayanya.

"Memang ada peraturan jam minimal boleh datang di kantor ini?" Bian balik bertanya.

"Itu rekap data yang saya minta kemarin kan? Letakkan di sini saja."

Nara langsung meletakkan map yang sedari tadi dia peluk di atas meja Bian sembari berpamitan. Sudah cukup pagi ini rencananya berantakan.

"Baik Pak. Kalau begitu saya permisi dulu."

Nara baru saja hendak memegang kenop pintu ketika mendengar Bian memanggil,

"Kamu sudah sarapan?"

Nara mendengar itu seperti sebuah ajakan, "Yuk, kita sarapan bareng." Sehingga kalimat yang keluar dari mulutnya justru,

"Sa...saya lagi puasa. Iya saya lagi puasa Pak.", jawab Nara gugup. Semoga Allah mengampuni bohongnya di Jumat berkah ini.

Bian mengernyitkan dahinya,

"Saya baru tahu kamu puasa di hari Jumat."

Nara berdecak dalam hati. Lupa kalau dia sedang berusaha mengelabui orang yang justru sangat mengenal dirinya hampir empat tahun lamanya.

Kebiasaan Nara semenjak kuliah dulu memang dia tidak mau puasa di hari Jumat. Apalagi kalau bukan karena hari Jumat merupakan hari rayanya umat Islam.

"Iya Pak saya lagi diet." Nara merasa hari ini dirinya terlampaui impulsif menjawab pertanyaan Bian.

Atau memang nyatanya setiap berhadapan dengan Bian jawaban dari mulut Nara memang terlampau impulsif?

(Un) finished Business - ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang