Bab 14

18.9K 1.4K 16
                                        

"Mari silahkan duduk. Silahkan dipesan juga. Ada yang bilang rapat baru bisa terjadi kalau perut sudah terisi haha." canda Pak Gian kepada Nara dan Bian.

Bian menyebutkan pesanannya sebelum akhirnya menolehkan kepalanya kepada Nara, "Yamie bakso sama jeruk hangat kan?"

Belum sempat Nara menjawab, Bian sudah memesankannya kepada pelayan yang ada disana.

Kali ini Pak Gian benar-benar tidak bisa menyembunyikan tawanya. Berbanding terbalik dengan Nara yang menekuk mukanya.

"Bian...Bian...baru setengah bulan saya kirim kesini, sepertinya saya sudah ketinggalan banyak berita ya." Pak Gian menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menahan tawa.

"Berita saya baik Pak. Hanya sedikit demam kemarin karena kehujanan. Alhamdulillah sudah baikan sekarang." ujar Bian.

"Oiya Bu Nara bagaimana kesan dan pesan bekerjasama dengan Pak Bian?" Pak Gian mengalihkan pandangannya ke arah Nara.

"Sejauh ini yang saya tahu Pak Bian orangnya berkomitmen dan bertanggungjawab Pak. Semoga ke depannya bisa semakin baik." Nara memaksakan seulas senyum di wajahnya.

Bukan maksud membela Bian, Nara hanya mengutarakan kenyataannya. Meski dendam dengan Bian, tapi Nara bukan tipe mencampuradukkan urusan pekerjaan dan urusan pribadi.

"Kalau mengenai tanggungjawab memang saya akui Bian nomor satu untuk itu. Tadi saja awalnya saya hanya akan mengajak Bu Nara untuk makan siang setelah mengetahui Bian sakit. Setelahnya dia justru menghubungi saya bahwa dia akan menjemput Ibu di kantor."

Penjelasan Pak Gian membuat Nara mengerutkan alisnya. Nara menatap Bian dan menemukan Bian yang tampak salah tingkah atas perkataan Pak Gian barusan.

Pembicaraan mereka terpotong ketika makanan yang mereka pesan datang.

Nara yang memang sudah menahan lapar sejak tadi tidak bisa menyembunyikan binar bahagianya.

Tanpa sadar kuah yamie itu mengenai khimar yang dia pakai. Menimbulkan noda bekas cipratan yang tampak samar.

Tiba-tiba sebuah sapu tangan biru laut berlogokan huruf "B" sudah mendarat di atas tangannya.

Nara terkesiap ketika tahu yang melakukannya adalah Bian, "Terima kasih, Pak."

Bian mengalihkan pandangannya dari Nara dan berkonsentrasi kembali pada hidangan di depannya.

Usai makan, mereka berdua melanjutkan perbincangan dengan Pak Gian.

Pak Gian menanyakan perkembangan terkait partisipasi masyarakat adat di sekitar lahan hutan milik pemerintah setempat yang kemudian dijelaskan oleh Nara dengan lugas dan jelas.

Pak Gian menutup pembicaraan mereka siang itu dengan tepuk tangan pelan, "Bu Nara ini kalau dilihat-lihat sangat mirip karakternya dengan kamu ya, Bian. Cerdas dan humoris."

"Bapak bisa saja." sahut Bian kalem, mengabaikan tatapan sinis Nara.

Nara gerah, ia ingin segera keluar dari sini. Nara tidak tahan berada dalam satu ruangan yang sama dengan Bian.

"Kalau begitu saya pamit. Baik-baik kalian berdua, terutama kamu Bian, jangan lama-lama jalan sama anak orang, segera di ikat sebelum menyesal." goda Pak Gian yang dibalas dua jempol oleh Bian.

Mereka berdua akhirnya kembali ke kantor, di perjalanan pulang Nara tidak kuasa melanjutkan rasa penasarannya tadi, "Jadi marah saya sudah bisa di-continue sekarang, Pak?

Bian terkekeh pelan, "Apa yang mau kamu tahu? Alasan saya posting? Alasannya ya karena saya ingin."

Nara mengernyit tampak tak puas dengan jawaban Bian, "Iya tapi masalahnya itu foto saya Pak."

(Un) finished Business - ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang