Bab 10

20.1K 1.5K 13
                                        

Nara mengerjap-ngerjapkan matanya pelan. Merasa ada pergerakan dari kasur di sampingnya. Ketika membuka mata, Nara mendapati Ana yang tidur pulas di sebelahnya.

Dirinya merasa bingung. Sejak kapan Ana tidur di kamarnya. Nara mengamati sekelilingnya. Warna abu-abu dan putih memdominasi. Bukan warna salem cerah khas kamarnya.

Ini bukan kamarnya! Jadi kamar siapa ini?

Belum hilang rasa terkejutnya, pintu kamar diketuk dari luar. Nara segera merapikan jilbabnya yang kusut karena semalam dibawa tidur.

"Ya sebentar." sahut Nara setengah mengantuk.

Cklek.

Pintu kamar terbuka. Menampilkan sosok Bian dengan baju koko dan sarung. Rambut Bian tampak basah bekas air wudhu.

"Setelah Subuh kalau mau langsung pulang tidak apa-apa. Kunci saja. Terus kuncinya letakkan di bawah keset depan." sambung Bian.

Nara menganggukkan kepalanya.

Kebaikan Bian seharian kemarin dan hari ini cukup membekas di ingatan Nara. Sedikit membuat Nara lupa akan sakit hatinya dengan sang mantan ini.

Belum lama Bian meninggalkan kamar Nara ketika terdengar panggilan Nara untuknya.

"Bian..."

Bian menoleh, "Ya?"

"Em terimakasih ya." Nara berucap pelan.

Bian tampak diam sesaat sebelum kembali menjawab, "Its okay. Bukan sesuatu yang besar."

"Saya berangkat ke masjid. Assalamualaykum." pamit Bian.

"Waalaykumsalam."

Nara mengamati punggung Bian yang semakin menjauh. Seandainya saja waktu bisa diulang. Mungkin sekarang mereka masih bersama.

Seandainya saja dulu Bian berniat menjelaskan. Seandainya juga dirinya mau mendengarkan. Mungkin bukan seperti ini akhirnya.

Namun terlalu banyak pengandaian membuat kita sulit melangkah, bukan?

————————————————————————

Rapat rutin hari Kamis untuk para staf DLH dilaksanakan sejak sejam yang lalu. Nara terlihat sekali menahan kantuk. Dirinya bahkan menguap hampir setiap 5 menit sekali.

Zia menyenggol pelan lengan Nara. Nara langsung melayangkan tatapan bertanya pada Zia.

"Itu lo dari tadi diliatin Bu Ambar. Fokus kek." bisik Zia pelan.

Nara membentuk jarinya menjadi tanda "OK" kemudian kembali mencoba memusatkan pandangannya pada presentasi di depannya.

Belum lama memfokuskan pikirannya, Sheina yang duduk di seberangnya menyodorkan sticky notes dengan warna kuning yang mencolok mata.

Mulut Nara bergumam sembari menatap ke arah Sheina, "Apaan?"

Sheina tak menjawab, sampai tangan Nara meraih sticky notes tersebut dan kalimat yang ditulis Sheina cukup membuatnya terkejut.

Saking terkejutnya dia sampai tidak sadar telah mengaduh keras karena kakinya terpentok kursi di sampingnya.

Pak Tony berdehem, "Ibu Nara, saya perhatikan sejak tadi kurang konsentrasi. Tidak biasanya. Tolong hargai presentasi di depan. Ini juga berlaku untuk semuanya ya."

Nara yang baru kali ini mendapat peringatan langsung dari Pak Tony tak ayal kicep juga.

"Saya memang sedikit mengantuk Pak. Mohon maaf, boleh saya izin cuci muka sebentar?" pinta Nara.

(Un) finished Business - ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang