How Could Be?

182 30 154
                                        

Mata Aida membulat tak percaya, saat menatap layar ponsel berderet nama-nama asing yang tak ia kenal.

"Apa gak salah, nih?" pekik Aida sambil menutup mulutnya. Saking penasarannya Aida kembali mengulang memijit huruf 'M' dan masih saja sama yang muncul deretan nama tak familiar bukan nama sahabatnya Mia. Biasanya jika ia sekali klik maka akan tersambung ke nama sahabatnya. Tapi tidak kali ini.

"Berarti, ini bukan punyaku, jadi ini milik siapa? lalu ponselku dimana?" tanya Aida bingung.

Aida mencoba mengingat-ingat aktivitas seharian dari kemarin hingga ia balik ke flat-nya. Hanya ada satu hal yang ia ingat saat di bandara seorang pria menghubunginya, dan memanggil sebuah nama yang asing baginya.

Jangan-jangan, ponselku tertukar. Benak Aida.

***

Suasana pagi ini sangat dingin, saking dinginya Fatih menyalakan pemanas ruangan untuk menghangatkan ruangannya, hampir dua pekan ini Fatih menempati sebuah flat .Memang letak flat yang satu ini sangat strategis dengan segala fasilitas publik, diantaranya dekat pusat perbelanjaan, halte bus MRT, arena olahraga hingga taman dan yang paling penting flat yang ia tempati tidak terlalu jauh ke tempat kerjanya.

Dengan mengenakan sweater tebal berwarna merah marun, Celana training hitam bergaris merah, tak lupa di atas kepalanya menggunakan topi kupluk. Pemuda berambut ikal itu berlari pelan mengelilingi trotoar sepanjang taman. Hampir sudah tiga putaran Fatih berlari mengitari taman. Cuaca wakrah pagi ini menembus 9 degree, sinar matahari pelan-pelan menampakan cahayanya. Joging adalah aktivitas olah raga yang ia sukai, mau winter atau summer setiap ada waktu luang Fatih menyempatkan merelaksasi otot-otonya dengan berlari. Bedanya kalau saat summer Fatih sedini mungkin atau saat pada malam hari. Jadi tidak heran di negeri Qatar saat musim panas pada malam hari orang-orang berlomba-lomba keluar namun sebaliknya di siang hari akan cenderung berdiam diri di dalam flat-flat.

"Payah si Ahmed ini, diajak jogging, malasnya bukan main," keluh Fatih. Nafasnya mulai terdengar tersengal-sengal, ia mencoba mengatur nafasnya pelan-pelan. Meregangkan ke dua tangannya mengangkat ke atas kemudian menghempaskan ke bawah pelan-pelan.

Perlahan suasana taman mulai ramai dijejali pengujung yang tinggal di sekitar kawasan Al ghasam Park. Taman ini tidak terlalu luas dengan bentuk memajang di sekilingnya di lingkupi flat-flat. Taman ini di lengkapi musola serta lapangan futsal dan lengkap area bermain anak-anak. Seorang wanita arab bertubuh gemuk mengenakan busana serba hitam turun dari mobil Pradonya. Memang busana yang di kenakan kaum hawa di Timur Tengah cenderung berwarna hitam gelap.

"Yalla, yalla," teriak wanita arab itu meminta anak-anaknya turun dari mobil. Anak-anak arab itu berlarian menuju play ground. Tampak juga seorang wanita berwajah asia duduk manis di bangku taman sambil menemani buah hatinya bermain pasir. Terdengar pula gelak tawa bocah saat ibunya mengayun kencang ayunannya.

Fatih setiap melihat apa yang ia lalui hanya tersenyum, apalagi saat ayunan bocah itu semakin kencang di ayun bocah itu malah semakin tergelak tawa.

Tak lama ponselnya bergetar. Fatih sibuk merogoh saku celana trainingnya lalu ponsel itu telah dekat dengan telinganya.

"Halo ini dengan siapa? Maaf sepertinya ponsel kita tertukar." Terdengar nada suara perempuan di ujung telepon.

"Whattt ... siapa ini?" tanya Fatih bingung saat menerima telepon. Tangan kanannya mengenggam ponsel sedang tangan lainnya berkacak pinggang.

"Bisa kita ketemuan sekarang ?" terdengar kembali suara di ujung telepon.

"O-ok, tentu, sekarang aku sedang berada di Al ghasam park, tahu kan?" ucap Fatih sambil menggaruk-garuk kepala.

"Baiklah, aku ke sana." Tak lama nada sambung terputus.

Wajah pemuda khas Turki masih bingung, Benarkah ponselnya tertukar? lalu ia mengamati ponsel di genggamannya. Tidak ada yang aneh bentuk dan warna masih sama. Namun saat ia menggeser layar touch screen. Barulah ia sadar ini memang bukan ponselnya.

Fatih langsung menepuk dahinya,"How could be? "

Beberapa menit kemudian Ponselnya kembali berbunyi.

"Aku sudah di depan taman persis dekat lapangan futsal, dekat gedung Capital One." Terdengar kembali suara perempuan yang sama.

Cepat sekali dia sudah sampai. Batin Fatih.

Ia pun membalikkan tubuhnya dan matanya mencoba mengitari area taman dan dari kejauhan tampak seorang perempuan berbalut hijab berwarna cokelat senada dengan busana yang ia kenakan, berdiri tepat di depan lapangan futsal.

Fatih melangkah dan mendekati area lapangan futsal, dan tak menyangka akan bertemu lagi dengan perempuan yang ia temui semalam di parkiran. Masih hangat di ingatannya gadis itu bersikap menyebalkan dan keras kepala pula. Begitupun Aida sama terkejutnya, diluar dugaan pemilik ponsel itu adalah pemuda semalam. Aida menunduk saat langkah Fatih menghampirinya.

"Aku tidak mengerti, bagaimana bisa ponsel kita tertukar?" tanya Fatih dengan nada agak heran. Saat menepi mendekati Aida.

"Aku kira kita tertukar saat di bandara," jawab Aida datar sambil menyodorkan ponselnya pada Fatih. Dengan cepat mereka saling bertukar ponsel.

"Terima kasih." Ucap Aida

Baru saja Fatih mau menyampaikan maksud berkaitan dengan kejadian semalam, tapi Aida sudah berlalu meninggalkannya.

Di pelataran parkiran flat gadis itu bertemu dengan seseorang yang tak asing sering ia jumpai di flat.

"Permisi, Nona Aida, ada yang ingin saya sampaikan, mulai hari ini parkiran nomor delapan ini sudah ada yang punya," ucap salah satu penjaga gedung berkebangsaan Bangladesh.

Ia bernama Ibrahim, seorang laki-laki berkulit sawo matang dengan berbadan gemuk. Tangannya memegang sapu dan pengki. Selain pejaga gedung ia pun sebagai penjaga kebersihan di gedung tersebut.

"O,ya, siapa dia Ibrahim?" tanya Aida menoleh sebentar ke arah Ibrahim. Pura-pura tidak tahu.

"Nah, itu dia orangnya!" jawab Ibrahim sambil setengah berbisik, wajahnya menunjukkan ke arah Fatih yang baru saja sampai di depan gedung.

"Hm, dia lagi!" desah Aida.

Gadis itu menghela nafas, teringat kejadian semalam. Ada rasa malu menyusup dalam hatinya, wajahnya tiba-tiba jadi merah melihat Fatih mendekati mereka berdua. Ada rasa bersalah dalam hati Aida.

"Ibrahim, Aku butuh bantuanmu!" seru Fatih, pemuda Turki itu mendekati Ibrahim dan Aida, kemudian Fatih melipat kedua tangannya di dada.

"Ya, Tuan apa yang bisa saya bantu?" tanya Ibrahim, wajahnya tersenyum.

"Bisa tolong keluarkan barang-barangku dalam mobil, sekarang?" gumam Fatih, matanya melirik ke arah Aida.

"Mobilku, di parkir di sana," jawab Fatih, sambil menjulurkan jarinya ke arah luar pelataran kemudian ia melirik kembali ke arah Aida,

"Dan, kamu Nona, maaf mulai sekarang ini adalah tempat parkirku." Fatih menatap tajam ke arah Aida.

Tatapan pemuda Turki itu, membuat Aida menjadi grogi, wajahnya semakin memerah, tiba-tiba tenggorokannya tercekat tak mampu untuk bersuara. Tatapan laki-laki itu telah membuat kikuk Aida.

***

Yang ingin tau visualisasi Aida Shafira

Jangan lupa tinggalkan jejak vote dan komennya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Jangan lupa tinggalkan jejak vote dan komennya.🤗

CInta Bersemi Di BursaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang