"Tarrrrrrrrr"
"Apaan sih del, lo itu ya be---" ketusanku terpotong saat aku melihat murid baru yang sedang berdiri di depan bersama bu ismy.
Aku tak pernah menyangka. Jujur aku ingin bangkit dan pergi keluar. Lalu aku ingin berteriak sekeceng mungkin di lapangan. Aku ingin banting meja,kursi dan apapun itu. Hari yang sungguh menyebalkan untuk diriku. Bahwa yang kalian harus tahu yang berdiri kini bersama bu ismy adalah Fahmi. Aku kira dia main main buat pindah ke bandung ternyata benar. Lalu kenapa harus satu kelas bersama aku sih. Aku gak suka. Kenapa dia gak ke kelas lain aja sih? Kenapa harus satu kelas bersamaku? Sungguh aku tidak mood sekali. Aku sendari tadi melihat bu ismy dan fahmi di depan dengan tatapan yang amat sangat kesal.
Aku mengacungkan tangan sebelah kananku dan meminta izin ke bu ismy untuk ke toilet.
"Bu, saya izin ke toilet" Ketusku.
"Tar lo mau kemana gue ikut" Odel pun bangkit dan ikut bersamaku ke toilet.
Aku berjalan keluar dan sumpah sangat kesal. Aku kesal. Rasanya pengen makan orang. Eh jangan deh tar di sangka kanibal hehe. Sampai di toilet, aku langsung cuci tangan dan diam di hadapan cermin besar.
"Gua kira dia becanda, ternyata dugaan gua salah. Apa yang dia mau dari gua sih? Gua kadang mikir dia yang datang dia yang pergi. Gua ngerasain samudera yang mengalir. Sama ngerasain pohon yang tumbang." Aku hanya bisa berbicara kesal dan kesal di hadapan cermin.
"Maksud lo tar? Lo tau kalo murid baru itu fahmi? Lo berarti tau sebelumnya dong?" Tanya odel yang bingung kenapa aku tadi berbicara seperti itu.
"Gua tau dia bakal pindah itu, dia nelpon gua kemaren malem, dan dia bilang ya gitu bakal pindah. Sumpah dikira gua murid baru itu ya siapa gitu. Kenapa harus fahmi coba." Ketusku.
"Yaudah tar lo ga usah dipikirin lagi. Kita juga gatau kan kalo fami bakal pindah kesini? Tar lo kan udah gak ada hubungan lagi kan sama fahmi jadi lo tenang yaa." Odel yang menasehatiku lalu mengusap pundakku.
Aku hanya diam dan tidak bisa berbicara karna aku masih kepikiran sama kutu kupret itu. Arghhhh.
Setelah dari toilet aku langsung kembali lagi ke kelas bersama odel.
"Eh tara" Suara yang tak asing lagi adalah kak rere.
"Eh kak kenapa?" Ucap lemasku.
"Pulang sekolah gue tunggu lo di gerbang ya" Ucap dingin dia.
"Tapi kak" belum selesai aku ngomong udah main pergi pergi aja nyebelin banget sih.
"Cie sekarang si kamvret itu malah makin deket sama lo." Ucap odel sambil ketawa jahat. "Oh iya tar, gimana kalo lo terus terusan aja nempel sama si kamvret itu, lumayan buat manasin si fahmi. Gimana? Ya walaupun gue gak suka liat lo sama si kamvret, tapi ini demi kebaikan lo." Lanjutnya.
Aku fikir sejenak odel ada benernya juga. Aku bisa aja kan jalan sama kak rere. Tapi bagaimana dengan lyra?
"Heh cacing keremi, otak lu memang encer. Tapi si rega itu udah punya cewe gimana sihh lu" ketusku kepada odel.
"Iya sih itu yang gua bingungin" Jawabnya sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.
**
"Assalamualaikum"
"Walaikumsalam" Ucap seorang pria yang agak tua yaitu papahku."De kamu makan dulu nak, langsung mandi terus ikut papah nanti jam 7 malam. Kita ada acara" lanjut papah.
"Mandi dulu baru makan, gimana sih ihh" batinku.
"Ga ah males" jawab sinisku
"ATTARA AMELYA" Suara lantang dari mulut papah bikin aku ketakutan. Aku nurut aja deh apa yang papah mau. Aku hanya mengangguk kepala. Dan pergi untuk ke kamar.
Aku berfikir sejenak, tidak biasanya papah ngajak aku keluar, karna ada acara, biasanya juga di telantarin, tapi kenapa hari ini beda banget yaa papah? Lagi sakit? Ah kagak tahu. Udah ah aku mandi dulu.
Setelah selesai mandi aku langsung siap-siap, dan kini aku sudah rapi dan tidak kucel kaya tadi pulang sekolah hehe. Aku langsung berjalan menepati meja makan dan membuka tudung saji dan memasukan makanan aku ke piring, tak lupa bersama lauknya juga. Selamat makan untuk kalian.
Setelah selesai makan aku dan papah bergegas untuk pergi keluar dan kini aku bersama papah naik mobil. Mobil papah keluar dari bagasi rumah. Dan sudah keluar aku pun menutup bagasi, kalau pagar di rumah aku sengaja di buka. Karna pagar aku lagi macet sedikit. Jadi di buka. Kini mobil papah pun melaju dengan kecepatan standar. Suasana di mobil ini tidak ada gairahnya. Aku yang tak mau bicara. Dan papah yang tidak mau mulai bicara. Karna apa, karna males harus ngomong sama papah yang gak jelas mau nya apa.
Aku sekarang dan papah sudah sampai di tujuan. Setau aku ini jalan komplek yang ke rumahnya si neda. Tapi aku takut salah.
"Pah kemana sih kita?" Tanyaku sambil melihat di sekeliling tempat ini.
"Udah deh dede jangan bawel" Jawab papah sambil menarik tanganku untuk masuk ke sebuah rumah. "Ayo" lanjut papah.
Sejujurnya kalo bukan suruhan papah untuk ikut aku malas untuk ikut bersamanya.
"Assalamualaikum" papah mengucapkan salam dan mengetok pintu rumah tersebut.
Clak. Pintu terbuka.
"Walaikumsalam, eh mas dafid masuk dulu, wah ini anaknya yaa? Kenalin saya marisa teman kantor papah kamu" Wanita itu menyodorkan tangannya. Aku bersikap sepenuhnya aku pun menyodorkan tanganku juga.
"Tara" Jawab sinisku. Lalu aku melepaskan tangannya.
"Oh iya, yaudah ayo masuk" Aku dan papah pun masuk ke rumah si wanita tersebut. "Ayo silahkan duduk. Bibi buatkan minum ada tamu ini." lanjutnya sambil tersenyum gak jelas.
"Iya terimakasih risa, maaf jika kedatangan kami ini cukup membuat kamu terganggu" Papah yang berbicara seperti agak sedikit malu gak karuan gitu.
"Ah gak apa-apa mas, lagian aku lagi santai ko."
Ada seorang wanita tua di rumah ini yang kini sedang membawa baki minuman untuk di antarkan ke meja ruang tamu. Yaitu asisten rumah tangganya bu marisa.
"Makasih bi" ucap bu marisa
"Saya kembali bekerja lagi bu" jawab wanita tua itu. Dan bu marisa hanya memberikan anggukkan yang tandanya iya. Lalu wanita tua itu pergi meninggalkan ruang tamu.
"Pah sebenernya aku dibawa kesini mau ada apa sih?" Tanyaku yang sendari tadi membawa hawa-hawa tidak enak.
"Jadi gini sayang, ibu dan papah kamu itu ingin meminta restu dari kamu bahwasannya kita akan menikah" Mendengar kata-kata bu marisa sungguh hati aku serasa ada petir masuk gak karuan. "Gimana kamu setuju kan?" Lanjutnya.
"Iya de, bagaimana?" Tanya papah.
Tanpa basa-basi aku langsung bangkut dari tempat dudukku. Lalu keluar pergi meninggalkan papah dan bu marisa.
"Dede, kamu mau kemana?" Suara keras papah.
Hari ini cuaca tidak mendukung. Setelah aku keluar dari rumah tersebut dan di luar sekarang sedang hujan. Sungguh aku tidak peduli, aku berlari entah tujuanku sekarang mau kemana. Hujan terus mengguyuri seluruh tubuhku. Saat ini aku masih terus berlari. Hingga sesaat aku menangis di bawah hujan yang membasahi tubuhku di malam ini. Aku sedih. Aku kecewa. Aku kesal. Aku ingin marah.
"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA"
Continue---------->

KAMU SEDANG MEMBACA
HOPE!!
Teen FictionAku Attara Amelya. Aku pernah ditinggal dan merasakan bagaimana pahit hidup di kenyataan dunia. Aku adalah orang yang tak luput dari masalah. Aku juga mempunyai kakak. Dia pun sama sepertiku orang yang tak luput dari masalah. Tetapi aku dan kakakku...