"Akh, Ishdia. Serius deh, gue stress tau," kata Arumy sambil merebahkan kepalanya dimeja. Ishidha hanya melirik sekilas sebelum kemudian kembali asik dengan buku yang sedang di bacanya. Saat itu keduanya memang sedang berada di perpustakaan sekolah.
"Loe kok santai aja si?" tambah Arumy lagi.
"Memangnya loe stress kenapa?" tanya Ishida kemudian.
"Hufh," Arumy kembali mengangkat wajahnya. Menoleh kearah Ishida yang juga sedang memberikan perhatian kepadanya.
"Kita kan sudah kelas tiga. Bentar lagi UN. Loe kok santai banget si?"
Ishida tersenyum. "Terus gue harus gimana. Emangnya kalau gue stress semua jadi lebih mudah? Enggak kali. Yang ada semua jadi kacau," terang Ishida. "Lagian ni ya. Kenapa loe keliatan cemas gitu. Secara selama ini juga loe selalu lebih pinter dari gue. Jadi santai ajalah. Mending juga focus belajar."
"Tau ah. Cape gue belajar mulu. Mendingan gue tidur aja deh. Ntar kalau udah bel, loe bangunin gue ya," kata Arumy sambil kembali merebahkan kepalanya. Tak lupa ia bentangkan sebuah buku guna menutupi wajah. Ishida hanya mengeleng tak percaya melihatnya. Memangnya dengan posisi seperti itu bisa tidur. Walaupun iya memang bisa, bisa di pastikan leher dan pinggang pasti nanti akan sakit. Tak ingin memikirkannya lebih jauh, Ishida lebih memilih memusatkan perhatian pada buku yang ia baca.
Selang beberapa saat kemudian, Ishida mengalihkan tatapannya dari buku yang ia baca. Lehernya terasa agak sakit karena terlalu lama bertahan pada posisi yang sama. Diliriknya jam yang melingkar ditangan. Waktu istirahat hampir habis. Dan saat menoleh kearah Arumy, gadis itu masih bertahan pada posisi yang sama. Membuat Ishida mengernyit heran. Apa gadis itu beneran tidur?
"Arumy," panggil Ishida lirih. Tapi gadis itu sama sekali tidak bergerak.
"Hei, Arumy. Loe beneran tidur ya?" tanya Ishida lagi, kali ini dengan tangan yang bergerak menguncang pelan pundak sahabatnya.
Arumy tampak mengeliat untuk sejenak. Secara perlahan matanya mulai terbuka. Pandangan ia edarkan kesekeliling sebelum kemudian terhenti diwajah Ishdia yang sedang menatapnya.
"Astaga. Gue beneran ketiduran," sahut Arumy sambil menutup mulutnya. Berusaha mengenyahkan sisa sisa kantuk yang masih mampir diwajah.
"Gue juga heran loe bisa beneran tidur," gumam Ishida lirih.
Arumy hanya tersenyum singkat. Matanya menoleh kesekeliling, sepi. Tidak terlalu banyak anak-anak disana seperti sebelumnya. Mungkin masing – masing sudah kembali kekelas. Dengan perlahan Arumy bangkit berdiri sambil merapikan buku – bukunya.
"Ya udah. Kekelas yuk," ajak Arumy kemudian. Ishida hanya membalas dengan anggukan setuju.
"Tapi temenin gue ke toilet dulu ya. Gue mau cuci muka dulu."
Lagi – lagi Ishida hanya membalas dengan anggukan. Terlebih keduanya telah tiba dihadapan penjaga perpustakaan. Ishida berniat untuk meminjam beberapa buku untuk ia baca dirumah. Arumy hanya berdiri menantinya sambil menatap kesekeliling.
"Arsyil, loe sedari tadi disini juga?"
Ishida menoleh seiring dengan kalimat yang ditangkap telinganya barusan. Saat berbalik matanya langsung terkunci dengan tatapan Arsyil yang juga sedang menatapnya. Bibir Ishida yang sudah terbuka untuk menyapa kembali tertutup saat melihat bayangan Laura yang berdiri tepat disamping Arsyil.
"Hei, Arumy. Jadi loe belajar juga?"
Arumy mengangguk membenarkan. Seulas senyum ikut ia tembangkan guna membalas senyuman dari wajah Laura yang baru saja menyapanya. "Iya donk. Kan kita udah kelas tiga. Yah gue harus belajar extra kalau mau lulus UN besok."
"Sama donk."
"Kalian belajar berdua?"
Ishida langsung menyesali kalimat yang ia lontarkan barusan. Tak perduli seberapa penasarannya ia akan hal itu, tidak seharusnya ia menanyakannya langsung. Memangnya apa salahnya kalau mereka belajar berdua?
"Iya," balas Laura membenarkan sembari mengangguk. "Kebetulan kita dapat tugas kelompok bareng," sambungnya lagi.
Ishida mengangguk – angguk mendengarnya. Tugas kelompok? Bisa saja sih. Toh mereka memang sekelas.
"Ya sudah deh. Kalau gitu kita duluan ya," kata Ishida lagi setelah mendapatkan buku yang ingin ia pinjam. Dengan sebelah tangannya ia segera menyeret Arumy untuk melangkah mengikuti.
"Ishida, jujur saja deh. Kalian berdua kenapa?" tanya Arumy saat keduanya melangkah beriringan menuju kekelas.
"Kalian berdua? Maksutnya?"
"Loe sama Arsyil. Gue ngerasa ada yang aneh. Tu anak kenapa tadi diem aja?"
"Loe ngerasa aneh kan? Sama, gue juga," balas Ishida yang membuat kerutan di dahi Arumy bertambah. "Gue ngerasa kayaknya Arsyil menghindari gue deh. Loe liat aja tadi."
"Memangnya loe bikin salah apa sampai dia harus menghindari elo?" selidik Arumy lagi.
"Itu dia yang gue nggak tau," balas Ishida sambil angkat bahu. Untuk seseaat keduanya terdiam. Tenggelam dalam pemikiran masing – masing.
"Tapi kayaknya dia berubah sejak dia deket sama Laura deh. Jangan – jangan mereka berdua beneran jadian," gumam Ishida lirih.
"Kalau gitu kenapa loe nggak tanya langsung sama dia?"
"Ya nggak mungkin lah. Masa ia gue tiba – tiba nanyain hal begituan. Emangnya gue siapa?" tolak Ishida cepat.
"Elo kan sahabatnya dia," balas Arumy cepat. "Memangnya kalau sahabat nggak boleh nanya?"
Ishida tidak membalas. Gadis itu tampak kembali terdiam sambil menunduk. Arumy sendiri hanya meliriknya sekilas tanpa berniat untuk bertanya lagi. Lagi pula kini mereka telah tiba di kelas. Bel sendiri barusan juga telah terdengar. Saatnya untuk mengikuti pelajaran yang selanjutnya.
To Be Continue....

KAMU SEDANG MEMBACA
{Bukan} Sahabat Jadi Cinta
Novela Juvenil"Gimana? loe mau kan temenan sama gue?" "Boleh, tapi ada syaratnya." "Syarat? Apa?" "Loe nggak boleh jatuh cinta sama gue. kalau sampai loe jatuh cinta sama gue, maka persahabatan kita akan berakhir. Deal?" "Deal!"