{Bukan} Sahabat Jadi Cinta Part 14

1.5K 54 0
                                    

Selesai mandi dan berpakaian rapi, Ishida kembali keluar dari kamar. Matanya mengamati sekeliling. Rumah masih terlihat sepi. Hanya saja lampu diruang sudah menyala, menandakan kalau sudah ada seseorang yang masuk kedalam rumahnya. Dugaan gadis itu segera beralih kearah kakaknya.

"Kak Vano," kata Ishida sambil mengetuk – ngetuk pintu kamar kakaknya tapi tidak ada jawaban. 

Dengan perlahan, Ishida memutar knop pintu yang langsung terbuka karena tidak di kunci. Kepala gadis itu segera melongok kedalam. Sepi, hanya terdengar gemerci kran air dari dalam kamar mandi. Tanpa kata Ishida kembali menutup pintu kamarnya. Berjalan menuju kearah dapur guna menyiapkan makan malam karena Bi Inah, pembantu rumahnya izin pulang kampung tadi siang.

Tepat saat makanan tertata rapi di hadapan, Vano muncul dengan setelan santainya. Ishida hanya menoleh sekilas sebelum kembali melanjutkan aksinya menyiapkan air minum.

"Wah, ada ayam goreng. Hemz, enak nih kayaknya. Gitu donk, baru namanya adik gue. Udah cantik, baik, pinter masak lagi..." puji Vano sambil menyambar paha ayam dan langsung melahapnya sebelum kemudian meraih piring yang di sodorkan padanya.

"Tapi sayang, udah oke gitu tapi tetep aja masih jomblo," lanjut Vano yang langsung mendapat lirikan tajam adiknya. Tapi pria itu hanya angkat bahu, pasang tanpang polos di wajahnya.

"Ck, apaan sih. Kayak sendirinya punya pacar aja."

"Dengerin nasehat gue ni ya, dari pada loe jomblo menahun, mendingan juga loe jadian tuh sama si Arysil. Perasaan udah lengket kayak prangko masih aja tetep status 'temenan'. Cih, apa apaan itu."

Mendengar nama Arysil yang di sebutkan kakaknya, mau tak mau kembali mengingatkan Ishida akan apa yang pria itu katakan tadi. Membuat tenggorokannya terasa seret, dengan segera diraihnya air yang ada digelas dan segera meneguknya.

"Lah, loe malah diem aja. Gue serius tau. Lagian kalau loe sama dia, gue juga dukung kok. Secara tu anak kan baik. Tampangnya juga oke. So apalagi."

"Alah, bilang aja mau gue jadian sama dia biar jelas kalau loe nggak perlu nganter jemput gue sekolah. Iya kan?"

"Tepat, emang itu tujuannya!" tunjuk Vano mantap membuat Ishida lagi lagi mencibir.

"Kakak apa – apaan sih. Kan kemaren dulu gue udah bilang, kalau Arsyil itu udah punya cewek yang dia suka," kata Ishida lirih sambil mulai kembali menyantap makanannya.

Kali ini gantian Vano yang terdiam. Tidak langsung membalas justru matanya malah mengamati tingkah laku sang adik. 

"Loe serius?" tanya Vano dengan raut serius, tapi Ishida sama hanya membalas dengan angkat bahu.

"Terus loe gimana?" tanya Vano lagi.

"Ya emangnya gue kenapa?"

"Loe yakin kalau loe nggak kenapa – kenapa kalau Arsyil jadian sama cewek lain?"

Ishida tidak langsung menjawab walau sebelah bibirnya tampak terangkat membentuk sebuah senyuman samar. Senyuman sinis lebih tepatnya. 

"Selain fakta kalau gue udah nggak bisa pulang pergi bareng dia lagi, kayaknya gue baik – baik aja. Akh, palingan gue jadi ngereponin kakak lagi buat jadi ojek dadakan."

Vano tidak berkomentar. Justru ia malah serius mengamati raut adiknya. Gadis itu sama sekali tidak menatap kearahnya justru malah terlihat menikmati makanannya. Akhirnya Vano hanya mampu angkat bahu sambil mulutnya bergumam. "Syukur lah kalau emang gitu."

To Be Continue...

{Bukan} Sahabat Jadi CintaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang