{Bukan} Sahabat Jadi Cinta Part 15

1.6K 52 0
                                    

Setelah selesai dengan seragam yang ia kenalkan, Ishida segera melangkah keluar dari kamarnya. Sedikit heran ketika menyadari kalau kakaknya juga keluar dari kamar dengan setelan rapi yang ia kenakan, padahal Ishida sangat ingat kalau hari ini tidak ada jadwal kuliah pagi.

"Tumben jam segini udah keren," kometar Ishida.

Vano angkat bahu sambil melangkah kedapur guna sarapan yang sudah disiapkan oleh adiknya pagi tadi. "Gimana sih? Kemaren bukannya loe sendiri yang bilang kalau gue harus ngantar jemput loe."

Ishida tidak membalas. Gadis itu hanya mengangguk dalam diam. Sepertinya ia sendiri lupa akan hal itu.

Setelah sarapan, Ishida segera melangkah keluar rumah. Sesekali ia melirik jam yang melingkar di tangannya dan kadang menatap kearah jalan sembari menunggu sang kakak memanaskan mesin motornya. Tanpa sadar gadis itu menghembuskan nafas berat ketika mendapati kalau Arsyil benar – benar tidak menampakkan batang hidungnya.

"Ayo, buruan."

Ishida menoleh dan baru menyadari kalau kakaknya sudah ada disampingnya. Tanpa kata gadis itu segera melangkah menghampiri.

"Tu rumah, udah loe kunci kan?" tanya Vano mengingatkan.

"Udah kok. Nih," kata Ishida sambil menukarkan kunci rumah dengan heml yang juga sedang di sodorkan oleh kakaknya. Beberapa saat kemudian keduanya sudah melaju di jalan raya.

"Ntar kalau loe udah mau pulang, loe SMS aja. Soalnya gue mo jalan sama temen gue jadi ntar sekalian. Hari ini gue nggak ada kelas," kata Vano begitu keduanya sudah tiba di halaman sekolah.

Lagi – lagi Ishida hanya membalas dengan anggukan. Dengan perlahan gadis itu turun. Setelah menyerahkan helm kepada sang kakak, ia segera melangkah masuk kekelas.

"Ishida."

Merasa namanya dipanggil Ishida menghentikan langkahnya dan segera berbalik. Tampak raut ngos – ngosan Arumy yang berlari menghampirinya.

"Baru datang juga loe?" tanya Ishdia begitu Arumy tiba di sampingnya.

Kepala Arumy mengangguk membenarkan. "Gue tadi liat loe diantar sama kakak loe. Kok tumben? Arysil mana?"

Ishida tidak langsung menjawab. Gadis itu kembali menghemuskan nafas sebelum kemudian memilih angkat bahu sambil kembali melangkah.

"Loe nggak barengan sama dia?" tanya Arumy lagi. Kali ini Ishida hanya membalas dengan gelengan.

"Kenapa?"

"Nggak kenapa – kenapa. Udah yuk, buruan kekelas. Bentar lagi masuk. Mana gue lupa nyelesein PR gue lagi, gue nyontek punya loe ya?" ajak Ishida sembari mengalihkan topik.

"Busyed, maksut loe. Loe belum nyelesein PR matematika kita?" tanya Arumy tampak tak percaya. Secara guru Matematika mereka kan terkenal galak.

"Iya, makanya buruan."

Arumy manut, dan untuk sejenak topik tentang Arsyil pun terlupakan.

Begitu bel istirahat terdengar, seperti biasa Arumy segera menyeret Ishida untuk menemani kekantin sekolah. Gadis itu sengaja melangkah dengan cepat sehingga Ishida sedikit kewalahan mengimbanginya. Tanpa bertanya pun Ishida tau alasan kenapa Arumy melakukan hal itu. Karena tadi jam keluar sedikit lebih lama dari biasanya gara gara ada ulangan dadakan. Jadi jika mereka memang sedang tidak beruntung, mereka tidak akan kebagian tempat duduk dikantin. Jam istirahat adalah jam dimana kondisi kantin sedang rame-ramenya.

"Tuh kan, elo jalan lelet banget sih. Nggak kebagian tempat duduk nih kita," keluh Arumy sambil matanya mengawasi sekeliling. Hal yang sama dilakukan oleh Ishida.

"Eh, tu Arsyil cuma sama temennya. Mejanya dia masih ada yang kosong, kita samperin yuk," ajak Arumy yang langsung tertahan karena Ishida dengan cepat mencekal tangannya. Tak hanya itu, gadis itu justru malah menarik tangan Arumyi kearah berlawanan.

"Disana ada yang kosong," jelas Ishida sebelum Arumy sempat bertanya. Dan sepertinya gadis itu juga tidak berbohong. Tepat di sudut sebelah utara meja kantin itu memang kosong walau piring dan gelas bekas pelangan sebelumnya datang belum dibersihkan.

"Kenapa kita nggak gabung sama Arsyil aja si?" tanya Arumy setelah keduanya duduk diam.

"Kalau masih ada meja yang kosong kenapa kita harus ganguin mereka," balas Ishida tanpa menoleh karena perhatiannya terjurus kearah buku menu di tangan. "Gue mau bakso sama Teh es manis. Loe mau pesen apa?" tanya Ishida cepat. Secepat yang bisa di lakukan sebelum Arumy kembali bertanya.

"Emp, samain aja deh," balas Arumy setelah berpikir sejenak. Ishida hanya mengangguk membenerkan sebelum kemudian beranjak bangun untuk memesankan pesanan mereka. Beberapa saat kemudian keduanya kembali duduk berhadapan.

"Loe berantem ya sama Arysil?"

"Maksut loe?" Ishida balik bertanya. Arumy hanya angkat bahu, memberi isarat kalau Ishida hanya perlu menjawab pertanyaannya tanpa perlu bertanya balik.

"Enggak, kita baik – baik aja," sahut Ishida setelah sempat terdiam untuk beberapa saat.

"Nggak usah bohong. Nih, Arsyil sms katanya kalian lagi nggak baikan," kata Arumyi lagi sambil mengoyangkan handphond yang ada ditangannya.

Ishida terdiam dengan tatapan terjurus kearah sahabat yang duduk dihadapannya. Sedikit merasa kesel dengan gadis itu.

"Terus kalau loe udah tau kenapa loe masih nanya?"

"Ya gue kan pengen tau kenapa?"

"Kenapa nggak tanya langsung aja sama Arsyil?" tanya Ishida lagi.

"Udah. Tapi kali ini gue pengen denger versi loe pula."

Lagi – lagi Ishida terdiam. Gadis itu sengaja mengalihkan perhatiannya kearah pelayan kantin yang kini sudah berdiri di hadapannya sambil menghidangkan pesanan mereka.

"Loe kok diem aja sih. Jawab donk," desak Arumy lagi.

"Nggak ada yang harus di ceritain. Gue sama Arsyil sekarang udah nggak temenan lagi. Udah, gitu aja."

"Idih, kayak anak TK banget sih pake berantem segala. Emangnya ada masalah apaan? Kali aja gue bisa bantuin. Secara kalian kan udah sahabatan sejak kapan tau."

Ishida hanya membalas dengan gelengan. Dengan perlahan gadis itu mulai menyuapkan bakso kedalam mulut.

"Sebenernya gue nggak tau pasti sih, kita ada masalah apaan. Cuma kayaknya Arysyil beneran lagi naksir sama seseorang deh. Makanya itu dia nggak mau tu cewek salah paham sama kedekatan gue sama dia."

"Loe serius?" tanya Arumy lagi. Kali ini Ishida membalas dengan anggukan.

"Loe tau tu cewek siapa?"

Ishida tidak langsung menjawab. Gadis itu kembali menatap kearah sahabatnya yang masih terdiam menanti jawaban darinya. "Gue juga belum tau pasti. Tapi kayaknya gue udah bisa nebak tu cewek siapa. Cuma..." Ishida tanpak mengantungkan ucapannya.

"Cuma?" ulang Arumy penasaran.

"Cuma sedari tadi kenapa loe malah ngajak ngobrol mulu. Tadi loe bilang kelaperan. Lagian entar ngembang tu mi, nggak enak lagi tau. Mana bentar lagi bel masuk," omel Ishida sambil melirik jam yang melingkar ditangannya.

Mendengar itu, Arumy hanya bisa pasang tanpang cemberut. Tapi ia sama sekali tidak membantah secara apa yang Ishida katakan memang benar adanya. Dengan perlahan gadis itu mulai ikut menikmati makanannya walau sebenarnya ia masih tidak puas dengan jawaban yang Ishida berikan.

To Be Continue 

{Bukan} Sahabat Jadi CintaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang