Chapter 17 - Sacrifice

932 113 4
                                    

Chapter Sebelumnya :

"AKU INGIN BULAN MADU!!!!" - Chanyeol

.

"Bagaimana?" Tuan Park menatap dalam manik mata Ten berusaha membuat laki-laki manis itu masuk ke dalam rencananya. "Kau tidak hanya mendapatkan Chanyeol, tapi juga uang dariku" ucap Tuan Park lagi menarik nafasnya lalu menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Tangannya menggaruk dagunya dengan pandangan masih fokus pada bekas peliharaannya yang kini duduk meringkuk di hadapannya.

Ten menundukkan kepalanya takut untuk membalas tatapan tajam menusuk Tuan Park. Bibir bawahnya dia gigit sebagai pelampiasan rasa takutnya.

"Jangan takut denganku, aku tidak bernafsu lagi padamu. Saat ini yang aku inginkan hanyalah memiliki Choi Sehun" ucap Tuan Park mengulurkan tangannya ke samping meminta berkas yang dibawa Kangin sejak tadi.

Kangin menyerahkan sebuah map berwarna biru tua ke tangan Tuan Park. Map yang berisi dokumen-dokumen perjanjian yang dia rencana itu tidak terlihat tebal sama sekali. Kemungkinan hanya berisi beberapa lembar kertas.

"Kau bisa membaca kan? Semua berkas di dalam sini berbahasa Inggris. Jika kau masih tidak mengerti, aku memberikan kebebasan padamu untuk membawanya terlebih dulu. Kau bisa membacanya secara perlahan dan mendalaminya. Oh, atau kau menginginkan penerjemah bahasa? Aku bisa memberikannya padamu" tawar Tuan Park menaikkan sebelah alisnya. Tangannya terus bergerak agar Ten segera menerima map yang sejak tadi dia bawa.

Jakun Ten yang sedikit terlihat bergerak naik turun untuk menimbang apakah dia harus melakukannya atau tidak. Tapi mengenai sedikit apa yang diucapkan Tuan Park tadi, dia tidak mungkin mengkhianati Johnny yang sudah mau menjadi kekasihnya sejak sebulan ini. Walaupun dengan sebuah perjanjian tidak tertulis, tapi Ten yakin jika sekarang Johnny sudah menaruh hati padanya, yang mana membuatnya tidak pernah berpikir lagi untuk mengganggu kehidupan Chanyeol dan Sehun lagi.

Ten semakin menggigit bibirnya bingung. Jika dia menerima perjanjian tertulis ini, bagaimana dengan perasaan Johnny?

"Berikan dia alat tulis!" perintah Tuan Park melirik Kangin.

Kangin menganggukkan kepalanya kemudian melangkah keluar ruangan.

"Mereka merawatmu dengan baik. Kau terlihat sedikit lebih gemuk daripada saat laki-laki itu membawamu pergi. Kulitmu juga tampak sangat mulus dan putih bersih bersinar" ucap Tuan Park menaikkan sudut bibirnya tersenyum remeh menatap tubuh Ten yang terus bergetar ketakutan.

Ten bingung harus bagaimana sekarang menanggapi ucapan Tuan Park. Pikirannya saat ini justru teringat pada Johnny. Pasti sekarang Johnny mencarinya karena dia tidak ada di rumah. Itu karena orang-orang Tuan Park dengan paksa membawanya kemari tadi, membuat sedikit luka lecet di sekitar wajahnya terlihat jelas. Matanya juga sedikit sembab karena terlalu lama menangis menolak dibawa pergi oleh orang-orang Tuan Park.

Ketakutan juga semakin memenuhi dirinya ketika mobil yang dia naiki sampai di halaman rumah Tuan Park tadi. Bulu kuduknya berdiri saat itu juga. Apa yang terjadi di masa lalu tiba-tiba terlintas lagi di dalam otaknya. Dia sangat takut kejadian waktu-waktu yang lalu akan terulang kembali yang membuatnya tidak bisa menikmati hidup.

Tapi mendengar apa yang dikatakan Tuan Park padanya tadi, membuat bulu kuduknya sedikit-sedikit menghilang menyadari jika Tuan Park sama sekali tidak menginginkannya.

"Taruh itu di depan Ten. Biarkan dia menulis apa yang dia ingin bicarakan" perintah Tuan Park mengarahkan dagunya pada Ten ketika Kangin kembali dengan membawa beberapa alat tulis.

(COMPLETE) WATCH ME 2 : HOLD MY HANDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang