Happy Reading!
~~~
Wajahnya keras bagaikan batu, matanya menatap tajam kedua orang pria yang hanya mampu menundukkan kepala ketakutan akan kemarahan sang tuan yang sangat mengerikan, mereka hanya berharap sang tuan tidak membuat hidup mereka melarat seketika karena mereka juga memiliki keluarga kecil yang harus nafkahi oleh mereka.
"Setahun! Setahun sudah saya meminta kalian untuk mencari keberadaan wanita dan anak saya tapi hasilnya apa!?" Bentak Erlang memukul keras keras meja kerjanya membuat kedua pria itu terlonjak kaget.
"Ma--maaf tuan tapi keberadaannya benar benar tak bisa kami temukan, sama sekali tak ada jejak"ucap salah satu pria memberanikan diri untuk membuka suara.
"Tak becus!" Teriak Erlang kemudian dengan kesal meninju dinding yang berada dibelakangnya hingga jari jarinya mengeluarkan darah.
"Tuan--"
"Saya menyewa kalian untuk menemukan wanita dan anak saya! Namun setahun saya menyewa kalian hanya membuang uangku saja!" Bentak Erlang mulai meninggikan suaranya membuat kedua pria sewaan Erlang mundur beberapa langkah menjauhi amukan sang tuan.
"Keluar dari ruanganku dan ambil uang kalian dari Deric! Biar aku sendiri yang mencari keberadaan wanita dan anakku!" Bentak Erlang tak sekeras tadi membuat kedua pria sewaannya itu mengangguk patuh kemudiani dengan hormat keluar dari ruangan sang tuan.
Erlang mengambil handphonenya yang berada diatas meja kerjanya kemudian mencari kontak seseorang.
"Hallo"ucap Erlang datar tak bernada.
"..."
"Siapkan tiket pesawat menuju kalimantan tengah! Aku akan mengadakan rapat untuk membangun hotel mewah disana"
"..."
"Hm"
Erlang langsung menutup sambungan telfon sepihak.
Ia memandang nanar sebuah bingkai foto yang didalamnya terpampang seorang wanita dengan senyum lembutnya tak sadar bahwa dirinya sedang dipotret.
"Hey, please come back. I need you.. you're my life, my breathe. I'm going crazy because you. Kumohon kembali.."lirih Erlang kemudian mencium lembut foto yang terpajang dimeja kerjanya selama satu tahun terakhir.
Sedang asik memandang wajah cantik wanitanya tiba tiba pintu ruang kerjanya terbuka tanpa ada ketukan ketukan membuat Erlang menatap tajam orang yang berani berani masuk kedalam ruangannya tanpa izin darinya.
Seorang wanita cantik dengan tinggi semampai masuk kedalam ruang kerja Erlang sambil menebarkan senyum manisnya yang dibuat menggoda namun bagi Erlang senyuman itu adalah sebuah tanda kesengsaraan yang sebentar lagi akan ia alami.
"Hey darling! How are you?" Ucap wanita itu sambil menyentuh lengan kekar Erlang yang langsung ditepis dengan kasar oleh Erlang hingga sang Wanita memanyunkan bibirnya kesal.
"Keluar!" Ucap Erlang datar tak bernada namun menunjukkan perintah yang tak ingin dibantah.
"Sayang, kamu kasar banget sih.. Aku kan kesini karena perintah tante Lily"ucap sang wanita dengan manja membuat emosi Erlang makin mengebu ngebu.
Oh shit! Dasar ibu tirinya itu benar benar mengganggu kehidupannya. Ada saatnya nanti Erlang akan memberikan pelajaran pada wanita matre yang menginkan harta Ayahnya dengan cara mengambil posisi ibu kandungnya yang hampir sepuluh tahun meninggalkannya dan Erlang percaya bahwa ibunya selalu memperhatikannya dari sorga.
"Sama saja" gumam Erlang menatap sinis Wanita yang sama sekali tak terpangaruh dengan kesinisan yang Erlang tuju pada wanita aneh didepannya ini.
"Sayang.. temanin aku shopping yuk"pinta wanita itu menatap memohon pada Erlang yang sama sekali tak memperdulikan keberadaan wanita cantik itu.
"Minta lah pada om om yang biasa menemanimu" ucap Erlang dingin membuat wanita itu membulatkan matanya tak percaya atas apa yang dikatakan oleh Erlang.
Tak tanggung tanggung sang Wanita langsung saja menampar pipi kiri Erlang hingga pipi putih Erlang berubah menjadi berwarna merah.
"Shit! KELUAR dari ruanganku sekarang!"bentak Erlang dengan suara yang meninggi, kali ini Erlang benar benar emosi apalagi ditambah keresahannya karena tak dapat bertemu dengan wanitanya selama satu tahun belakang ini, itu membuat Erlang benar benar payah dalam mengatur emosinya.
"Kasar sekali kau padaku apakah karena wanita ini!?" Bentak wanita itu mengambil foto Alenna yang terpajang indah dimeja kerja Erlang.
"Nadin! Kembalikan foto itu!" Perintah Erlang dengan tangan yang mengepal sempurna.
"Kembalikan? Lihat ini ku kembalikan!" Bukannya mengembalikannya Wanita bernama Nadin itu malah membanting foto itu hingga bingkai dan kacanya pecah menjadi kepingan kecil kecil membuat Erlang benar benar marah, ia tak pernah semarah ini sebelumnya.
"SIALAN!" Erlang berteriak keras kemudian mendekati Nadin yang hanya tertegun dengan wajah pucat pasi.
Dengan keras Erlang menampar pipi Nadin hingga wanita cantik itu jatuh terjerungkup diatas lantai marmer nan dingin.
Erlang mengambil foto wanitanya tanpa perduli tangannya yang berlumuran darah yang diakibatkan oleh pecahan pecahan kaca yang melukai tangannya.
"I'm sorry darling.."lirih Erlang menatap nanar selembar foto yang ia pegang.
Kemudian Erlang menatap tajam Nadin yang tengan menatapnya dengan tatapan kebencian yang sama sekali tak dipedulikan olehnya.
"Sekarang keluar dari ruanganku atau aku bisa kehilangan kendali dan berakhir dengan membunuhmu"ucap Erlang yang sama sekali tak membentak namun ucapannya benar benar menusuk kedalam hati siapapun yang mendengarnya.
Nadin bangkit berdiri kemudian keluar dari ruang kerja Erlang tanpa mengucapkan sepatah katapun membuat Erlang menghembuskan nafas lega karena dapat menyingkirkan Nadin yang tak ada bedanya dengan parasit yang selalu merugikan siapapun yang mereka temui.
Erlang mengambil handphonenya yang tiba tiba bergetar menandakan sebuah pesan masuk dan pesan dari nomor tak dikenal itu membuat darah Erlang berhenti sejenak dan jantungnya berhenti berdetak selama beberapa detik.
Pesan yang berisikan foto seorang bayi yang diakui sebagai anaknya oleh sang pegirim pesan.
"Itu anakku, benar benar anakku semuanya mirip denganku kecuali matanya. Mata itu.. Alenna ya mata itu milik Alenna"gumam Erlang sambil terisak merasakan air matanya mengalir deras melewati pipinya.
□ □ □
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
Second Chance
Roman d'amourKisah tentang perjuangan seorang pria brengsek untuk mendapatkan kesempatan kedua untuk kembali bersama dengan wanita yang ia cintai-- wanita yang dulu ia permainkan, ia sakiti dan ia hancurkan masa depannya karena wanita itu harus hamil atas perbua...
