SC | 18. Surprise

6.2K 418 52
                                        

Happy reading!

***

Erlang berdiri didepan sebuah pintu rumah mewah dengan wajah kerasnya, matanya mengkilatkan kemarahan besar dan urat urat yang terlihat pada lengannya karena ia terlalu kuat mengepalkan tangannya. Nada yang melihat kemarahan Erlang itu tanpa diperintah mulai mengelus elus lembut lengan keras milik Erlang, ternyata apa yang dilakukan oleh Nada itu mampu meredakan sedikit amarah Erlang. Nada tersenyum manis saat Erlang menatapnya lembut tanpa ada kilatan amarah sedikitpun karena, jujur Erlang sangat menyeramkan dengan wajah seperti tadi.

Tok! Tok! Tok!

Erlang tanpa rasa segan menggedor gedor pintu rumah tersebut, Erlang tau apa yang dilakukan olehnya ini akan memancing keributan seisi rumah tersebut. Erlang tetaplah Erlang, pria egois dan sangat keras tak perduli siapa yang dihadapinya.

Tak lama seorang wanita paruh baya keluar dari rumah itu dengan wajah paniknya kemudian, menatap bingung kearah Erlang.

"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya sang wanita paruh baya itu.

"Saya ingin bertemu dengan Renold Alfrado," jawab Erlang dingin dengan wajah datarnya yang membuat sang wanita paruh baya itu sedikit salah tingkah.

"Silahkan masuk, saya akan panggilkan den Renold nya dulu ya," Erlang hanya menanggapi ucapan wanita paruh baya itu dengan sedikit anggukan, ia masih saja menampilkan wajah datarnya dan aura dingin yang sangat terasa mencekam.

"Oh iya, tuan ingin minum apa? Biar saya buatkan," tanya wanita paruh baya itu yang kembali membalikkan badannya setelah hampir saja meninggalkan ruang tamu karena, hampir saja lupa menawarkan minuman pada tamunya tersebut.

"Terserah," ucap Erlang dengan nada yang sangat dingin tanpa mengalihkan pandangannya dari ponselnya dan itu membuat Nada yang sedari tadi memperhatikan sikap Erlang menjadi gemas sendiri.

"Maaf ya Bu, eum.. air putih saja Bu minumnya," jawab Nada sopan yang membuat sang wanita paruh baya itu tersenyum lembut kearah Nada, sedangkan Erlang masih fokus menatap layar ponselnya tanpa memperdulikan pembahasan antara Nada dan wanita paruh baya tersebut.

"Tunggu sebentar ya non, saya panggilkan den Renold nya dulu," pamit wanita paruh baya itu dengan senyum lembutnya yang dibalas senyum yang tak kalah lembut oleh Nada, "Iya Bu, terimakasih banyak ya,"

"Ih! Kamu apaan sih?" Tanya Nada dengan nada tak suka membuat Erlang mengernyitkan keningnya bingung.

"Apa?" Tanya Erlang singkat sambil menatap tak paham pada Nada.

"Gak sopan banget tau gak kamu itu tadi sama orang tua," tegur Nada yang hanya ditanggapi santay oleh Erlang, pria tersebut hanya ber oh ria kemudian, kembali fokus menatap kearah ponselnya.

"Ih, nyebelinn bange--," belum sempat Nada menyelesaikan ucapannya tiba tiba saja seorang pria dengan wajah tampannya melangkahkan kakinya menuruni tangga, tangannya sibuk memperbaiki lengan kemejanya dan pandangan fokus memperhatikan anak tangga yang satu persatu dituruninya.

"Kenapa?" Tanya Erlang yang belum sempat mendengarkan ucapan Nada hingga selesai, Erlang menolehkan kepalanya menatap kearah Nada dan ternyata Nada sedang memandang kearah lain yang membuat Erlang penasaran lalu mengikuti kearah pandangan Nada saat ini.

"Renold!" Panggil Erlang dengan tatapan penuh kebencian yang ditujukan kepada Renold, reflek Renold yang merasa namanya dipanggil  mulai mencari sumber suara dan betapa terkejut dirinya saat pandangannya terjatuh pada seorang wanita cantik yang saat itu juha sedang menatap kearahnya dengan tatapan yang tak bisa diartikan.

"V-- Via?" Gumam Renold dengan suaranya yang bergetar, tubuhnya terpaku saat melihat wanita yang tak pernah ia bayangkan untuk kembali ke dalam hidupnya.

Second ChanceCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang