Part.2[Kabar Buruk kah?]

83 10 4
                                        

"Eth.. Elah, baru gue mau mejem," batin Erel yang setelahnya ia mulai menyobek pertengahan bukunya untuk menulis jawaban pada soal yang sudah diperintah, walau sebenarnya ia sangat malas, tapi mau gimana lagi kalau sudah tersemat kata "dikumpulkan".

🍁

"Assalamualaikum," suara Erel menggema di seisi ruang utama rumahnya.

Dirinya sedang berjalan gontai layaknya beban lelah yang tak kuasa ditompang tubuh.

"Waalaikumsalam, udah pulang Rel?" tanya Livia, lalu menghampiri putri sematawayangnya itu.

"Udah bun," sahut Erel tanpa merubah posisinya. Tengkurep di sofa tamu, dan malah sekarang dia sudah mulai memejamkan matanya dengan balutan seragam, juga sepatu kets yang masih melekat di tubuhnya. Seperti enggan beranjak dari zona nyaman.

"Mandi, ganti baju, makan, baru males-malesan. Masa anak cewek kaya gini, ayok cepet bangun," perintah bunda. Namun tetap tidak membuat Erel mengubah posisinya.

"Nanti bun, Erel masih capek, bentar dulu ya?" tawar Erel berharap bundanya mengerti, tetapi sepertinya sampai tom and jerry  bersilaturahmi pun itu TAKKAN pernah terjadi.

"Engga engga, udah ayokk bangguun.." bunda mulai bertindak dengan menarik lengan Erel, berusaha membuat dirinya berdiri tegak.

"Huft.. Iya iya deh, ini Erel udah bangun kok," mau tak mau, Erel akhirnya bangun, membuka besar-besar kelopak matanya dan menyetujui perintah mutlak sang bunda yang jika A tidak akan pernah bisa berubah menjadi B.

🍁

Suasana makan malam terasa sunyi, hanya ada suara dentingan sendok di piring kaca yang mendominasi ruang makan ini. Sampai suara berat pria satu-satunya di keluarga ini mulai menyapa keheningan.

"Minggu depan kita bakal pindah rumah," hampir saja Erel tersedak makanannya jika belum sampai meluncur ke perutnya. Apa maksud dari ucapan papanya itu? Pindah?

"Yah kok gitu sih pah, jangan pindah dong, Erel kan di sini udah banyak temen," keluh Erel. Mimpi apa dia semalam sampai akan pindah.

Jika pindah, bagaimana kabarnya hubungan dia dengan Gavin, dia masih belum mau LDR- an.

"Keputusan papa ini sudah mutlak, karena papa harus sering meninjau cabang perusahaan di sana," Erel semakin bungkam, otaknya berpikir keras apa yang akan terjadi dikelanjutan alur hidupnya jika begini jadinya.

Padahal dia benar-benar sudah sangat bahagia tinggal di Jogja, apalagi di sini dia sudah memiliki pacar, Gavin, juga teman baiknya Sera. Walaupun kadang anaknya ngeselin.

"Yaudah, terserah papa aja," kata Erel dan memilih bangkit dari kursinya, dirinya sudah kehilangan nafsu makan karena ini.

🍁

Saat di mana ia akan meninggalkan kota asalnya pun tiba. Erel sudah mengemasi semua barang-barang bawaannya ke koper, juga hubungannya dengan Gavin, yang terpaksa terpisah jarak.

Gavin sempat menolak, dan malah ingin ikut Erel ke Jakarta juga, berlebihan sekali bukan? Tapi, Erel menolak keras, karena Gavin juga sudah kelas 12, harus fokus pada ujiannya tahun ini, dan akhirnya kesepakatan itu dimenangkan Erel. Demi kebaikan keduanya, mereka pun hanya bisa mengikuti alur selanjutnya dan takdir.

My ImaginationTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang