"Pake nih"
Nata empet liat anaknya uda tau sakit malah telungkup di sofa ruang tv.
"Dek!!! ini pake dulu"
"Pakein mah"
"Manja, siniin jidatnya"
Mereka baru saja tiba di rumah setelah menjemput Novan di bandara.
"Gendong dong mah keatas"
Nata memutar bola matanya, anak terakhirnya ini memang kelewat banyak tingkah.
"Sini mama geret"
Novan mendecih "abang sama kakak belum pulang?"
"Kakak di rumah sebelah kayaknya, abang masih di jalan bentar lagi sampe"
Novan menaiki tangga sedikit sempoyongan, kepalanya amat pening.
"Ngapain aja sih semalem? kayaknya vidcall kemarin masih sehat" Nata membantunya berjalan ke kamar, ngeri anaknya malah jatuh ntar.
"Mantai pas balik ban bocor ujan gede, aku lupa juga sih kalo flight pagi"
"Dasar pikun nih kayak papa"
Nata turun setalah memastikan Novan benar benar istirhat, ia menghampi Tom yang tengah memasukkan beberapa bahan ke kulkas.
"Kemarin Peng bilang si adek mepet anaknya"
"Simon? Kok bisa kan dia sama si kakak masa nikung kakak sendiri? enggak ah"
"Aku juga bingung ma, perasaan adek ada cewe sebelum pindah sekolah di sini dan gak pernah cerita putus"
"Becandaan doang kali adek kan kayak kamu sapa aja digodain" sepertinya Nata tidak sadar nada bicaranya berubah saat mengatakan kalimat terakhir.
Tom langsung melihat Nata dan ya Pipi suaminya itu menggembung, cemburu. "Eyyy kok jadi sewot, lagian kapan sih godain yang selain kamu"
Nata hanya mengangkat bahu tak membalas lagi. Tom mendekat dan mencium cepat pipinya.
"Uuuhh gemes amat sayangku"
"Geli, telpon kakak suruh kesini sama si abang tanyain sampe mana"
"Auh pipinya merah abis dapet sun, mau lagi gak biar satunya gak iri"
"Udah sana telpon"
Tom tertawa, baru akan membuka lock ponselnya saat Pedang dan Simon berjalan memasuki rumah
"Dari tadi nyampe? adek mana?" Pedang bertanya saat melihat ayahnya.
"Mama di dapur, adek tidur demamnya belum turun"
"Ah titip ke kakak aja, mami nungguin soalnya, pergi lagi ya pa hehe"
"Loh mau kemana? gak sekalian makan malem?"
"Mau nengokin temen mami sekalian jalan, next time deh makan disini, pamit ya"
"Hati hati sayang"
"Dih" "Apa sih sirik"
Tom dan Pedang masih asik mengolok saat mini cooper maemasuki parkiran. Fandi dengan ransel dan muka lelah menghiasi pemandangan.
"Lusuh amat bang?"
"Abis dikerjanin Deril jadi pengamen"
"WKWKWKWK laki lo tuh ada aja emang akalnya" kalimat pedang semakin menambah moodnya turun.
"Lanjutin aja tengkar disana gak usah makan malem entar" Nata berseru membuat ketiganya berhamburan. Tom dengan sigap membujuk mana yang harus ia bantu, Fandi bergegas ke kamar dan bebersih dan Pedang mengikuti adiknya ke atas.
Sekitar 1 jam kemudia semua makanan sudah siap, semua anggota keluarga juga sudah siap di meja makan.
"Kakak tidur sini kan?" tanya Nata ditengah suapannya
"Enggak ma mau bantuin Simon nugas, ini uda nungguin di sebelah"
Mendengar nama temannya itu Novan menyeletuk "Adek boleh tidur dirumah kakak gak?"
Nata dan Tom entah mengapa saling melirik tapi tak berbicara
"Mau ngapain anjir, rumah sebelah tu hampa gak ada apa apa" justru Fandi yang menanggapi
"Mau ikut nemenin Simon hehehe"
"Waaaaaah macem macem si adek, KAGAK BOLEH" tau lahya ini sapa
KAMU SEDANG MEMBACA
Komplek Cemara - The Skyy
RandomSelamat Datang di komplek cemara Semoga kalian pulang dengan selamat
