Satu Selimut

743 41 5
                                        

“KENAPA aku gak dibanguni?” protes Robi keras-keras pagi itu ketika Za tengah menyesap cokelat hangatnya di meja makan. Mbok Nah yang sedang mencuci piring menoleh selintas, lalu kembali pada kesibukannya.

Sejak pulang dari rumah mama, hubungan mereka membaik. Percakapan dengan mama membuat Za banyak merenung dan berpikir. Ia membuat keputusan. Apa pun alasan Robi menikahinya, ia tidak ingin mempermasalahkannya lagi.

Demi ayah dan bunda, juga mama Mira yang begitu menyayanginya, ia akan mengenyampingkan perasannya. Ia akan menjalankan pernikahan ini sebagaimana mestinya. Tidak peduli bagaimana perasaan Robi sebenarnya, ia akan tetap memenuhi hak Robi sebagai suaminya dan melaksanakan kewajibannya sebagai istri. Karena kini Robi adalah surganya, maka taat kepadanya adalah yang utama. Semoga ia bisa ikhlas.

“Capek banguni kamu,” sahut Za ringan tanpa mengalihkan perhatian. Ia meletakkan gelas cokelatnya di meja lalu mengangkat wajah. Saat itu ia melihat ekspresi dongkol di wajah Robi. “Saya udah berulangkali banguni kamu, tapi kamunya bilang nanti, bentar lagi, lima menit ....”

Za belum selesai ketika Robi tiba-tiba melempar kunci mobil ke meja lalu menumpu kedua tangannya di sana. Ia menatap Za dengan ekspresi tidak senang. “Bisa gak, kamu berhenti nyebut diri kamu dengan saya? Kita gak lagi di rapat dewan, Za. Biasa ajalah.”

Za mengerut dahi. “Emang kenapa?” Kenapa masalah begitu saja harus dibesar-besarkan segala.

“Aku gak nyaman. Seolah-olah kamu sengaja bangun tembok di antara kita,” kata Robi langsung dan melihat air muka Za sedikit berubah. “Iya aku tau kamu masih benc---”

“Aku buatin kamu kopi sekarang, ya?” potong Za cepat dengan senyum manis yang dipaksakan. Sesaat matanya melirik ke arah Mbok Nah yang masih sibuk membilas piring. Bisa gawat kalau wanita itu sampai mendengar kelanjutan ucapan Robi.

“Gak usah, aku udah telat.” Robi menegakkan badan. Menyambar kunci mobil. Mengambil langkah meninggalkan meja makan.

“Gak sarapan dulu?” cegah Za dengan memutar kepalanya ke belakang. Ia melihat Robi menghentikan langkah. Menaikkan tali ranselnya yang merosot dari bahu.

“Sarapan di kantor aja.” Robi berusaha menahan diri agar tidak tersenyum saat akan berbalik. “Oh, ya. Tempat tidur belum kuberesin.”

Za mengangguk. Masih dengan senyum manis tersungging di bibirnya. “Iya, nanti aku beresin.”

Dan Robi gagal menahan diri.

***

Za baru saja akan beranjak ketika Robi menahan lengannya dan bertanya, “Mau kemana?”

“Kamar,” jawab Za sambil menunjuk melewati bahunya dengan satu tangan, sementara tangan satunya memegang laptop yang habis digunakan untuk menulis.

Selain bernyanyi, Za juga suka menulis cerita fiksi. Hobi itu sudah digelutinya sejak duduk di bangku SMA dan sempat ditinggalkan cukup lama karena kesibukannya bersama Asslam. Ia berniat meneruskan hobi itu lagi ketika tanpa sengaja bertemu dengan seorang wanita penghibur di konser terakhirnya di kota Medan. Wanita itu menginspirasinya untuk kembali menulis. Dan beberapa saat lalu ia baru menyelesaikan bab empat.

Robi menarik lembut tangan Za memaksa wanita itu duduk di sampingnya. “Sini aja dulu, temenin aku nonton.”

“Aku ngantuk,” kata Za sambil menguap lebar. Robi segera menutup mulutnya dengan jengkel.

“Tidur di sini, nanti kugendong ke kamar.”

Gak boleh nolak permintaan suami, nasihat bundanya kembali terngiang di telinga.

Za menghela napas, meletakkan laptop-nya di meja dan ikut memelototi layar TV yang sedang menyajikan adegan Tom Cruise dikejar-kejar oleh petugas polisi. Baru saja ia hendak berbaring meletakkan kepalanya di lengan sofa, Robi dengan cepat memindahkan bantal di dekat pahanya.

“Di sini,” katanya jengkel sambil menepuk bantal. “Kamu pikir aku apaan dikasih kaki.”

Za menatap ragu, tetapi akhirnya  menempelkan pipinya di sana, berbaring miring ke arah televisi.

Dua jam kemudian, ketika film berakhir, Robi menoleh ke Za dan mendapati wanita itu sudah tertidur pulas dengan posisi menyamping. Robi lekas mematikan TV, lalu membawa Za ke kamar mereka. Ia membaringkan tubuh mungil itu di tempat tidur dan menarik selimut sebatas dada. Kemudian ikut berbaring di sampingnya dan masuk ke dalam selimut yang sama.


Dari chapter selanjutnya sampai dengan selesai, Yooni bakal post satu atau dua adegan dalam buku. Lengkapnya bisa kamu baca di versi cetak. Kepoin Instagram @yoonisri_ atau @sinarkejora.id untuk pemesanan, ya. Jangan sampai kehabisan.

IDOLA GAMBUS - Bingkai Rindu AlkahfiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang