Felix mengerjabkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya matahari yang masuk ke matanya lewat sela-sela jendela balkon yang terbuka.
Tangan kanan Felix meraba kasur disampingnya untuk mencari keberadaan Guanlin yang semalam tidur disebelahnya. Tapi nihil. Kasur disebelah Felix sudah kosong dan rapih. Bahkan bantal dan selimutnya sudah tertata rapih.
"Guan?" Panggil Felix. Siapa tau saja pacarnya itu ada didalam kamar mandi.
"Eh? Kok udah nggak ada sih?" Felix menjulurkan kedua kakinya untuk turun dari kasur empuk Guanlin.
Mata Felix tak sengaja melihat jam dinding Guanlin yang terpasang disebelah figura fotonya dan Guanlin.
"Oh, pantes. Udah jam 7 pagi ternyata" gumam Felix dengan menggeliatkan badannya yang terasa pegal setelah semalam menyelesaikan laporan prakteknya hingga jam 2 malam.
Dibantu Guanlin tentu saja. Tapi pacarnya itu ketiduran tepat saat jam menunjukan pukul 1 dini hari. Tak masalah sih, toh sudah selesai. Sisanya Felix hanya tinggal mengecek sekali lagi tata kalimat dalam laporannya.
***
**
*Felix menuruni satu per satu anak tangga lantai 2 ke lantai 1 dengan badan yang sudah segar yang terbalut kaos karamel dan celana selutut warna putih. Kaki mungilnya berjalan ke arah dapur dengan santainya karna sudah terbiasa.
"Pagi Ma" sapa Felix begitu matanya menemukan sosok Mama Guanlin yang memakai apron dan sedang memotong bahan masakan di pantry.
Lelaki cantik yang dipanggil Ma oleh Felix itu menoleh lalu tersenyum manis melihat calon menantunya berjalan mendekatinya dengan senyum yang tak kalah cantik.
"Pantas, Guan sampe sebucin ini.. Felix cantik banget sih" gumam Luhan, Mama Guanlin.
"Pagi juga, Felix" balas sapa Luhan.
Felix menumpukan kedua sikunya di meja pantry disebelah Luhan, masih dengan senyum cantiknya yang tak luntur.
"Loh, kok udah bangun sih? Katanya mau hibernasi?" Luhan terkikik geli dengan kebiasaan pacar anaknya yang sudah 2 tahun ini bersama.
Tak heran kan mereka sudah tak canggung satu sama lain. Bahkan Felix sudah bukan seperti calon menantu untuk keluarga Guan, ia sudah seperti putra kedua di keluarga ini. Felix saja sudah memanggil kedua orangbtua Guan dengan sebutan Mama dan Papa.
"Tiga hari kurang tidur jadi kebiasa tidurnya dikit-dikit deh Ma" Felix mengerucutkan bibirnya kedepan beberapa centi.
"Yaampun, kasihan banget sih kamu. Nanti habis sarapan tidur aja lagi, ya. Itu kantung mata yaampun, tebel banget deh, Lix!" Luhan sampai tak tega melihat kantung mata Felix yang benar-benar menghitam.
Luhan bahkan hapal betul jika Felix sudah sibuk seperti ini, pasti anak itu akan sakit. Entah demam, flu, maag, atau migrain. Apa lagi Felix tak ada siapa-siapa disini. Kedua orang tuanya, Suho dan Lay, ada di kota lain. Jadi tak ada yang mengurus Felix saat pacar anaknya ini sakit.
Jadi, sebagai calon ibu mertua yang baik, Luhan dengan senang hati memasakan makanan kesukaan Felix yang biasa ia titipkan pada Guanlin. Kan, Luhan tak mau Felix sakit.
"Hehe, nggak papa kok, Ma. Si Guan kemana, Ma?" Felix memutar kepalanya ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan pacarnya itu yang belum terlihat dari ia membuka mata.
"Tuh, dibelakang. Lagi bantuin si Papa bersihin kolam renang. Udah banyak banget daun yang jatuh ke kolam. Jadi males deh kalo liatnya" Luhan bergidik jijik mengingatnya.

KAMU SEDANG MEMBACA
THE LITTLE THINGS {END🍬}
Fanfiction"Kalo pacarnya di godain orang lain marah kek!" "Biar apa?" "YA BIAR NGGAK DI GODAIN LAGI, LAH! GIMANA SIH?!" . . . . Little things about Him.. Guanlin & Felix Warn! Fujo area! BxB! Crack Pair!