Mata Guanlin berkeliling bebas mengamati setiap sudut apartemen Felix. Setiap dindingnya, Felix isi dengan foto dan juga piagam penghargaan yang lelaki cantik itu dapatkan sejak Felix kecil hingga yang paling baru dua bulan lalu.
Sudut bibir Guanlin tertarik sempurna membentuk senyum bangga. Ia turut bangga atas semua pencapaian Felix. Ia sangat tau karakter si manis itu. Si manis yang tak pernah mau mengenal kata menyerah pada mimpinya.
Bukti nyatanya saja, Your's. Cafe yang namanya sudah tak sekali dua kali saja muncul di majalan bisnis atau bahkan layar televisi dan video vloger terkenal. Semua berkat kemauan, ketekunan, kecintaan Felix pada mimpinya. Guanlin tau. Dan Guanlin turut senang.
"Di minum, Gu"
Guanlin membalikan badannya setelah mendengar dentuman halus cangkir yang Felix letakan di meja ruang tamu. Guanlin mengangguk kecil sebelum menyusul Felix duduk di sofa empuknya.
Tangan panjang Guanlin meraih gagang cangkir yang berisi coklat hangat buatan Felix. Bibir Guanlin menyesap sensasi pahit dengan rasa manis yang begitu sangat tipis dalam cangkirnya. Pas. Sesuai selera Felix.
Felix pun sama. Menyesap sedikit coklat hangat di cangkirnya sendiri untuk mengusir rasa gugupnya yang diluar batas. Bahkan jika diperhatikan dengan seksama, tangan Felix yang menggenggam cangkir terlihat sedikit bergetar saking gugupnya.
Bagaimana tak gugup, jika seseorang yang siang malam selalu mampir di tangis Felix kini duduk tepat disampingnya kini. Seseorang yang Felix sesali kepergiannya. Kepergian yang tak bisa Felix tahan. Malah justru semakin jauh saat Felix memilih mengakhiri hubungan mereka.
"Kamu.. apa kabar?" Tanya Felix membuka obrolan. Meski sangat terasa kaku terasa.
Guanlin menatap Felix lekat hingga yang ditatap terlihat salah tingkah. Susah payah, Guanlin menahan tarikan spontan dari bibirnya.
"Aku seperti ini" jawab Guanlin ganjil.
Setelahnya tak ada yang bisa Felix balas. Jawaban Guanlin yang menggantung terasa mencekiknya hingga rasanya ia tak bisa bernafas.
"Aku masih seperti ini. Masih kayak Guanlin" lanjut Guanlin.
"Gu.."
"Aku cuma mau mampir ke cafe kamu, Fel. Cukup mampir" sela Guanlin tak memberi Felix kesempatan bicara.
Setelahnya, Guanlin menegakkan badannya bersiap pergi. Dan Felix tak rela. Matanya masih belum cukup puas menatapi lelaki yang tak pernah lepas dari tangisnya itu.
"Makasih coklat hangatnya. Juga, selamat buat cafe kamu. Aku turut senang kamu berhasil wujudin mimpi kamu. Aku pamit, Fel" ucap Guanlin lalu terburu pergi meninggalkan Felix yang bahkan masih terkejut dengan salam pamit Guanlin.
Tangis Felix untuk lelaki yang masih sangat dicintainya itu mengalir deras begitu telinganya mendengar suara pintu tertutup. Hatinya berteriak menyuruhnya untuk mengejar Guanlin, tapi kakinya bahkan tak terasa bertulang lagi. Felix hanya bisa merutuki ketidak sabarannya sendiri dua setengah tahun lalu saat Guanlin memintanya untuk menunggu.
Felix takut, dulu. Ia takut pada hubungan jarak jauh. Ia takut ketidak dewasaan mereka dulu yang menghancurkan hubungan mereka. Ia takut rasa rindu, cemburu, dan juga takut kehilangan mendominasi hatinya dan akalnya. Ia tak bisa. Ia takut. Makanya Felix lebih memilih meninggalkan Guanlin sesaat setelah lelaki itu memintanya menunggu.
"Gu.. hiks, maaf... Guu.. aku, hiks.. kangen Guuu.." tangis kencang Felix.
Ia tak perduli lagi. Ia mau menangis dengan keras. Ia ingin meluapkan rasa frustasinya yang selama dua setengah tahun ini ia sembunyikan didalam hatinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE LITTLE THINGS {END🍬}
Fanfiction"Kalo pacarnya di godain orang lain marah kek!" "Biar apa?" "YA BIAR NGGAK DI GODAIN LAGI, LAH! GIMANA SIH?!" . . . . Little things about Him.. Guanlin & Felix Warn! Fujo area! BxB! Crack Pair!
