14

2.8K 452 48
                                        

"Aguuun!" Teriak Sherin yang duduk dipangkuan Felix saat melihat Guanlin turun dari tangga.

"Mana nih yang katanya punya adek baru, nih?" Guanlin mengangkat Sherin dari angkuan Felix.

"Gu, Sherinnya lagi aku suapin!" Protes Felix saat Guanlin mendudukan Sherin di pangkuannya.

"Sheriiin!!" Sherin mengangkat kedua tangannya, mengabaikan Felix yang menyodorkan sesendok nasi didepan mulut mungilnya.

"Sherin, mamam dulu! Aaa.." Felix mendekatkan ujung sendok pada bibir keponakannya.

Dengan menurut, Sherin membuka mulutnya lalu melahap sesendok nasi sayur yang disuapkan Felix. Sherin bukan tipe anak yang susah di atur. Apa lagi dengan Felix. Sejak masih balita, Sherin sudah lengket dengan pamannya yang satu itu. Felix juga selalu memperlakukannya sangat lembut. Makanya, Sherin sangat menempel padanya.

"Agun, mamam!" Sherin mengambil sendok di tangan Felix lalu mengambil sepotong wortel yang kemudian disodorkan didepan mulut Guanlin.

Guanlin memakan wortel suapan Sherin lalu mengunyahnya dengan antusias membuat keponakan pacarnya yang masih berusia 4 tahun itu terkekeh puas.

"Alix, Agun suapin juga!" Perintah Sherin. Sherin menyodorkan sendok ditangannya pada Felix.

Sherin selalu memanggil Felix juga Guanlin dengan sebutan Alix dan Agun. Ia selalu menolak jika kedua orang tuanya mengoreksi panggilannya pada dua pasangan itu dengan sebutan om. Si mungil itu tak mau. Ia lebih senang memanggil Felix dan Guanlin dengan panggilan Alix dan Agun. Lebih mudah di ucapkan untuk mulut kecilnya.

"Agun bisa mamam sendiri, Sherin. Alix udah siapin roti panggang buat Agun kok buat dimakan di mobil nanti" Felix menyendokan nasi dan bayam untuk disuapkannya untuk Sherin.

"No, no, no! Suapin Agun, Alix!" Sherin menutup mulutnya, menolak disuapi Felix jika Felix tak mau menyuapi Guanlin juga.

"Guuu.." Felux mengerucutkan bibirnya, protes pada Guanlin.

Bukannya, menanggapi, Guanlin malah hanya mengedukan kedua bahunya. Ia kan mau juga di suapi Felix.

"Sherin, Agunnya biar mamam sendiri, ya? Kan Agun udah besar" bujuk Felix, masih tetap tak mau menyuapi Guanlin.

"No, Alix! Suapi Agun juga!" Sherin melipat kedua tangannya di depan mulut.

Felix menghela nafas panjang. Jika Sherin sudah begini, Felix tak bisa untuk berkata tidak. Ia harus menuruti permintaan keponakan kesayangannya.

Dalam hati, Guanlin tertawa puas saat Felix menyendokan nasi dan lauk untuknya. Setelah selesai acara di sekolah Sherin nanti, Guanlin janji akan membelikan si mungil Sherin susu melon kesuakaan keponakan pacarnya itu.

"Gu, aaa!" Felix mengulurkan sesendok nasi dan daging ayam didepan mulut Guanlin.

Guanlin membuka mulutnya lalu membiarkan Felix memasukan nasi kedalamnya. Guanlin terkekeh kecil saat melihat wajah cemberut Felix saat menarik sendok dari dalam mulutnya.

"Yeey! Pesawatnya masuk gua!" Sherin bertepuk tangan kesenangan setelah Felix menyuapi Guanlin.

"Sekarang, Sherin mamam juga! Udah hampir telat kita!" Felix memasukan nasi juga lauk kedalam mulut keponakannya.

"Hmmpp!" Felix membelalakan matanya saat Guanlin memasukan sesendok nasi dan daging ayam kedalam mulutnya juga.

"Kamu makan juga! Kamu suapin Sherin sama aku, aku suapin kamu!" Guanlin memungut sebutir nasi di pipi Sherin lalu memasukannya kedalam mulutnya sendiri.

Felix masih betah menatap pacarnya yang kini memamerkan senyum tampan padanya. Akhir-akhir ini, Felix merasa Guanlin berubah. Bukan hal buruk. Malah hal baik. Guanlin lebih perhatian dan juga tak secuek kemarin-kemarin. Guanlin justru kini bersikap sangat lembut padanya. Seolah-olah, Guanlin takut jika ia tinggalkan.

Dan satu titik dihati Felix terasa berdenyut nyeri karena hal itu. Denyut yang Felix rasakan setiap kali Guanlin bersikap lembut padanya. Denyut yang tercipta karena Felix sendiri.

"Aiiih.. kalian kayak pasangan orang tua muda deh! Mama jadi nggak sabar liat kalian berkeluarga!" Ucap Luhan yang sejak tadi asik menatap interaksi Felix, Guanlin, dan Sherin didepannya.

"Sabar ya, Ma. Tahun depan Guan sama Felix lulus. Dua tahun lagi, Guanlin lamar Felix, kok!" Ucap Guanlin penuh keseriusan.

"Astagaa.. Guan! Beneran?" Tanya Luhan yang tak bisa menyembunyikan rasa senangnya mendengar ucapan anaknya.

"Bener dong. Guan serius sama Felix, Ma" Guanlin menggenggam tangan Felix yang ada di atas lutut pacarnya itu.

"Astagaa! Papa harus tau, ini! Mama seneng deh!" Heboh Luhan. Ia sangat berharap Felix menjadi menantunya sejak pertama Guanlin mengenalkannya padanya.

Bukan hanya Guanlin yang jatuh cinta pada Felix, tapi ia, Sehun dan semua keluarga besai Lai jatuh cinta pada Felix. Memang siapa yang bisa menahan rasa sayangnya pada Felix? Luhan yakin tak ada.

Sementara itu, Felix menatap wajah pacarnya dari samping dengan tatapan tak terbaca. Tatapan yang menyiratkan rasa bersalah Felix.

***
**
*
*TBC*

*******TBC*

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
THE LITTLE THINGS {END🍬}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang