"Ayo putus!" Felix menatap pemandangan luar jendela mobil yang jauh lebih menarik daripada lelaki yang duduk disebelahnya.
Lelaki yang menatap Felix dengan tatapan kaget pada awalnya, dan kini menatap lelaki manis itu dengan tatapan sendu. Tangan kanannya yang memegang stir mobil terasa bergetar.
"Kenapa?" Tanya lelaki di samping Felix yang masih tak rela Felix memutuskan hubungan mereka.
"Kenapa? Kayakanya aku nggak perlu jawab lagi pertanyaan itu" Felix menggigit dinding pipi bagian dalamnya hingga ia bisa merasakan rasa anyir darah meleleh didalam mulutnya.
"Aku tau. Tapi seenggaknya, tolong bilang sama aku alasannya apa biar aku terima kalo kita udahan" lelaki itu menatap Felix dengan tatapan kecutnya.
Lelaki itu teramat jatuh cinta pada Felix hingga ia rela melakukan segalanya untuk si manis. Bahkan, ia rela menjadi yang kedua dan tak terlihat seperti sekarang. Ditambah, ia harus rela di putuskan kapan saja oleh Felix.
Jadi, sudah cukup tau kan seberapa besar perasaan lelaki itu pada Felix? Bahkan mungkin, lebih besar dari pacar Felix yang sering membuat lelaki manis kesayangannya itu menangis atau kesal.
"Aku banyak dosa kak. Sama kak Chan, sama Guanlin, sama orang tua Guanlin" cicit Felix.
Kedua mata bulatnya memanas. Kepalanya ia tundukan untuk memperlancar lelehan air mata yang siap kapan saja turun dari kedua netranya.
Chan menggapai tangan mungil Felix lalu menggegamnya dengan lembut. Membuat Felix menangis atau bahkan melihatnya saja adalah hal yang Chan tak ingin lakukan. Felix terlalu berharga untuknya. Sangat berharga malah. Ia tak mau dan tak akan membuat lelaki manis itu sedih.
"Aku cinta Guanlin, kak. Dan aku nggak mau lebih berdosa lebih dari ini sama Guan. Aku nggak pengen kehilangan Guan, kak" ucap Felix disela isakannya.
Bohong kalau Chan tak sakit hati. Ia tahu kok resiko menjadi yang ke dua. Menjadi yang harus tersingkir kapan saja. Tapi ia baru tahu, jika rasanya akan sesakit ini. Jauh lebih sakit dari yang Chan perkirakan.
"Apa kamu nggak bisa secinta itu sama aku, Lix?" Tanya Chan penuh harap. Ia iri pada Guanlin. Dan Chan benci kenyataan itu.
"Aku sayang kak Chan. Tapi, maafin aku kak.." Felix terisak keras.
Chan menarik Felix kedalam pelukannya. Hatinya miris mendengar isakan keras Felix. Chan mempererat kalungan tangannya di pundak Felix. Jika ini adalah pelukan terakhir mereka, Chan ingin membuat pelukan ini adalah yang yang tak akan Chan lupakan sampai kapan pun.
"Tolong, setelah ini jangan nangisin Guanlin lagi, Lix. Karna aku udah nggak bisa gantiin pacar kamu buat hapus air mata kamu" Chan menghapus lelehan air mata di pipi Felix.
Kedua sudut bibir Chan tertarik membuat senyum kecut. Senyum yang membuat Felix semakin merasa berdosa pada lelaki sebaik Chan.
"Kamu harus tau, Lix, kalau aku sayang banget sama kamu. Jadi selingkuhan kamu adalah hal terbaik yang pernah aku lakuin. Tolong jangan nyesel ya, udah jadiin aku pacar simpenan kamu" ucap Chan penuh harap.
Felix mengangguk. Bersama Chan, meski hanya jadi tempat pelampiasannya dari Guanlin adalah hal yang Felix syukuri juga. Jika bukan pada Chan, mungkin saat ini Felix sudah gila karena perlakuan Guanlin padanya. Terlebih saat Guanlin lebih mengutamakan Baejin.
Chan mengecup kening Felix dengan lembut. Sebagai pacar simpanan, Chan tahu diri. Ia bisa mencium Felix dibagian wajah manapun kecuali pada bibir merah lelaki manis itu. Karna Chan tau, bagian itu adalah bagian yang Guanlin miliki. Bukan bagian yang bisa sembarang Chan sentuh.
"Lix, tolong kasih aku satu hari ini aja. Setelah itu, aku bakal ikhlasin kamu sama Guanlin"
***
**
*
"Lin! Mau kemana?" Tanya Wooseok saat teman sebangkunya itu bersiap menggemdong tas hitamnya.
"Jemput Felix" jawab Guanlin. Tangannya terlalu sibuk untuk memberesi kertas-kertas bab 2 proposalnya yang tersebar di atas meja perpustakaan.
"Masih aja ngebucin" goda Wooseok yang dibalas tinjuan ringan oleh Guanlin.
"Makanya nyari pacar sono! Biar tau rasanya jadi gue!" Balas Guanlin.
"Ngomong aja gampang!" Sungut Wooseok.
"Gue cabut dulu!" Pamit Guanlin.
"Ya, ya, sono pergi! Dasar bucen!"
***
**
*
"Guanlin!"
Guanlin menoleh pada sosok yang baru saja memanggil namanya. Sosok yang kini berjalan ke arahnya.
"Bae?" Guanlin berjalan menghampiri Baejin yang tersenyum sangat manis padanya.
"Udah selesai kuliahnya, Lin?" Tanya Baejin.
"Udah. Kamu ngapain disini?" Tanya Guanlin yang heran dengan keberadaan Baejin yang tiba-tiba di fakultas teknik.
"Hm.. mau ketemu ka..k Woojin" Baejin menundukan kepalanya malu-malu, menyembunyikan pipinya yang memerah.
"Kak Woojin? Kak Woojin yang mana? Yang mantannya kak Jihoon atau Mantannya Seungmin?" Tanya Guanlin. Seingatnya hanya ada 2 woojin di fakultas teknik.
"Mantannya kak Jihoon, hehe" Baejin menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal sebenarnya.
"Kamu? Sama Kak Woojin?" Tanya Guanlin mengambang.
"Hehe, baru 2 minggu" jawab Baejin malu-malu.
"Beneran? Kok kamu nggak pernah cerita sama aku?" Guanlin tak bisa menyembunyikan rasa senangnya.
Akhirnya, ia tenang melepaskan sepenuhnya Baejin dari genggamannya. Ia sangat mengenal Park Woojin, seniornya yang dikenal petakilan namun care pada siapapun. Lelaki baik yamg sangat pantas untuk menjaga Baejin.
"Ini kan baru cerita" Baejin terkekeh kecil setelahnya.
"Ck, tapi telat!" Sungut Guanlun, pura-pura kesal.
"Kan yang penting cerita juga, wleek!" Baejin menjulurkan lidahnya, menggoda Guanlin.
Guanlin hanya menggelengkan kepalanya melihat sifat kekanakan Baejin yang baru saja muncul. Sifat yang menggemaskan yang dulu membuat Guanlin jatuh cinta pada sosok Baejin.
Tapi kini, ia sudah memiliki sosok yang lebih menggemaskan lagi dari Baejin. Felix, pacar kesayangan Guanlin yang punya lebih banyak sifat mengejutkan yang berulang kali membuat Guanlin harus jatuh cinta pada Felixnya.
***
**
*
*TBC*
KAMU SEDANG MEMBACA
THE LITTLE THINGS {END🍬}
Fanfiction"Kalo pacarnya di godain orang lain marah kek!" "Biar apa?" "YA BIAR NGGAK DI GODAIN LAGI, LAH! GIMANA SIH?!" . . . . Little things about Him.. Guanlin & Felix Warn! Fujo area! BxB! Crack Pair!
