"Guan" panggil Felix yang tiduran di kasur empuk pacarnya itu dengan posisi kaki yang menekuk sementara kepala Felix bersandar di bahu Guanlin yang duduk bersandar di pinggir ranjang.
"Hm?" Gumam Guanlin yang masih asik memainkan stick PS nya.
"Kamu beneran mau ikutan naik gunung?" Tanya Felix. Tangannya masih asik memelintir kecil-kecil rambut belakang Guanlin.
"Jadi. Ck!" Guan berdecak saat gagal menggoalkan bola.
"Nggak usah berangkat, ya, Guan" rengek Felix.
Felix membalikan badannya menjadi posisi tengkurap dengan pipi yang ia tempelkan pada lengan atas Guanlin.
"Nggak bisa. Aku udah janji sama anak-anak kelas" tolak Guanlin.
"Tapi kan kamu tau sendiri sekarang musim hujan. Aku takut kamu kenapa-kenapa waktu naik gunung" Felix merangkulkan tangannya di leher Guan.
"Hujan doang kan? Banyak tuh pendaki yang tetep naik gunung waktu hujan. Nggak usah berlebihan!" Kukuh Guanlin.
Felix menegakan badannya menjadi duduk bersila di atas ranjang. Ia berdecak kesal melihat sisi keras kepalanya Guanlin yang selalu ia benci.
"Sekali aja dengerin saran aku kenapa sih Guan?" Sungut Felix yamg mulai tak sabar.
"Kalo saran kamu berdasar, ya aku terima. Tapi saran kamu terlalu dibuat-buat. Mana mau aku terima" Guanlin berucap dengan santai seperti.
"Dibuat-buat? Kamu tau ini musim hujan nggak sih? Bahaya buat mendaki gunung, Guanlin!" Sentak Felix.
Guanlin menghembuskan nafas panjangnya setelah itu meletakan stick PSnya sembarangan. Guanlin memutar tubuhnya menjadi berhadapan dengan Felix yang duduk diatas ranjangnya.
"Yang tau bahaya atau enggaknya kan aku yang jalanin. Aku bukan anak kecil yang bodoh ngebedain mana bahaya mana enggak, Lee Felix" ucap Guan tak mau kalah.
"Dan kamu lagi bodoh sekarang!" Felix frustasi sudah dibuatnya.
"Terserah kamu mau ngomong apa. Aku tetep berangkat. Lagian kenapa kamu jadi atur-atur aku berlebihan gini sih? Nyusahin banget" Guanlin membalikan badannya lagi kemudian dengan santainya mengambil stick PSnya lalu mulai main lagi.
Felix tersenyum kecut setelah mendengar ucapan Guanlin yang selalu jujur. Sekarang ia tahu bagaimana sosoknya dimata Guanlin.
"Oh, nyusahin ya. Oke. Terserah kamu!" Felix memberesi barang-barangnya lalu pergi keluar kamar Guanlin untuk pulang.
Toh, ia tak mau lagi menyusahkan pacarnya itu. Terserah Guan mau naik gunung atau tidak. Felix tak akan mau perduli lagi.
Seperginya Felix, tak ada reaksi apapun dari Guanlin. Dia tetap asik memainkan PS nya tanpa memikirkan Felix.
***
**
*G
uanlin melemparlan badan bongsornya yang sudah segar disebelah Mamanya yang masih asik menonton drama korea di TV. Ia baru sampai di rumah dua jam yang lalu setelah pulang dari gunung. Badannya serasa remuk karena kelelahan. Tapi dia senang.
"Guan, Felix kemana sih? Kok seminggu ini nggak main ke rumah?" Tanya Luhan dengan fokus yang masih terarah ke layar TV.
Guanlin mengerutkan dahinya. Biasanya pacarnya itu paling hobi datang ke rumahnya. Walau ada atau tidak ada Guanlin di rumah.
"Nggak tau Ma. Kan aku baru pulang juga dari gunung" Guanlin mengerutkan dahinya kebingungan juga.
"Emang Felix nggak ngabarin kamu sebelum kamu berangkat? Atau, kamu udah ngehubungin Felix belum kamu udah dirumah?" Luhan menolehkan kepalanya ke arah anak semata wayangnya.

KAMU SEDANG MEMBACA
THE LITTLE THINGS {END🍬}
Fanfiction"Kalo pacarnya di godain orang lain marah kek!" "Biar apa?" "YA BIAR NGGAK DI GODAIN LAGI, LAH! GIMANA SIH?!" . . . . Little things about Him.. Guanlin & Felix Warn! Fujo area! BxB! Crack Pair!