Akhir 2007
Praktikum. Tugas kuliah. Belajar. Ujian. Begadang. Laporan.. Waktu terasa cepat berlalu, tahu-tahu sudah masuk tahun ketiga perkuliahan. Sebentar lagi kerja praktik, lalu tugas akhir....
Aku juga menyempatkan diri untuk mengobrol dengan Raja, menasihati adikku itu untuk menjaga diri dari hubungan dengan lawan jenis yang berlebihan. Adik laki-lakiku itu meski selalu menjawab dengan candaan, tetapi tampak serius mendengarkanku. Aku senang melihatnya. Salat Subuhnya pun selalu ke masjid, layaknya seorang laki-laki sejati.
Sore ini, suasana sekre sedang ramai. Panitia tengah sibuk menyiapkan acara untuk ospek mahasiswa baru besok.
"Sudah siap materi untuk besok, Mai?" tanya Al ketika giliranku memberikan laporan.
Aku mengangguk. "Sudah."
"Oke. Pukul enam bisa stand by?"
"Siap," sahutku seraya memberikan jempol.
Dia tersenyum sekilas dan melanjutkan rapat.
"Udah Magrib, salat di sini dulu," ujar Al padaku setelah rapat berakhir satu jam kemudian.
"Salat di rumah aja," elakku. Takut kemalaman.
"Nanti aku sama Riki yang antar," bujuk Al.
Aku mengangguk. "Ya udah." Sudah beberapa kali mereka mengantarku pulang ketika harus rapat sampai malam.
Selesai salat di masjid, aku menunggu Al dan Riki di teras. Itu mereka. Aku beranjak berdiri seraya menghampiri. "Udah selesai?"
"Udah," jawab Al.
"Mai, ." Wajah Riki terlihat menyesal. "Masih ngebahas untuk acara besok."
"Nggak apa-apa, Ki." Aku mengerti. Dia masih harus menyiapkan teknis ospek besok.
Setelah berpamitan, aku dan Al menyeberang jalan. "Nggak harus nganter pulang kok, Al. Aku bisa sendiri."
"Aku hanya ingin memastikan kamu sampai dengan selamat," ujarnya.
Ketika naik angkot, hanya tersisa dua tempat duduk. Aku duduk di ujung. Al di sampingku. Baru kali ini kami duduk sedekat ini. Aku tidak berani menoleh, sepanjang jalan terus memandang jendela belakang. Kadang lutut dan bahu kami bersentuhan ketika angkot mengerem.
Aku berusaha tidak acuh, walau ada desiran halus yang bergelayut. Seharusnya aku tidak boleh seperti ini, tapi... semakin aku dekat dengan Al, seperti ada yang berubah. Hatiku. Hatiku mulai menyukai segala perhatian yang dia berikan. Lalu aku mulai memperhatikan segala hal yang dia lakukan.
Astaghfirullah. Kenapa aku bisa sampai seperti ini? Padahal aku tahu rasa yang belum halal tidak dibenarkan, tapi... aku tidak kuasa menahannya.
Begitu sampai, Al turun lebih dulu, baru aku.
"Habis ini balik ke kampus lagi, Al?" tanyaku sembari melangkah.
"Iya."
"Sibuk, ya?"
Al tertawa kecil. "Biasa, Mai."
"Jangan lupa makan. Istirahat. Nanti sakit."
Aku mencebik. "Ngarep." Tiba-tiba lintasan Al sakit dan dirawat oleh pacarnya terbit di pikiran. Aku langsung membuangnya jauh-jauh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dearest Mai (Versi Novel)
Teen FictionMai, gadis itu punya mimpi sederhana saja. Lulus kuliah dengan nilai bagus, menikah, dan tenang bersama keluarga. Namun, mimpi akan terasa sulit saat kau sudah bertemu cinta dan patah hati, bukan? Al, laki-laki yang selalu memberinya perhatian, diam...
