Aku berdiri dekat meja registrasi seraya menarik napas berkali-kali, berusaha meredakan gugup yang melanda sedari tadi. Perut rasanya mual. Ini pertama kalinya aku menjadi moderator kuliah umum. Ya Allah, mudahkan segala urusan. Aku merapal doa dalam hati.
Untunglah Da Ihsan tidak berkeberatan ketika aku menyampaikan permintaan Da Andy. Seniorku itu juga tidak bertanya lebih jauh. Tinggal aku yang cemas. Bisa nggak, ya?
"Mai!"
Aku menoleh, lalu melihat Sinta sudah duduk di barisan peserta. Aku melambai dan tersenyum kecil. Di deretan Sinta aku juga melihat Al dan Riki. Aku bersyukur marah Sinta pada Al mereda, walau sahabatku itu masih belum sepenuhnya memaafkan.
"Pak Andy sudah datang?" tanya Da Ihsan yang tiba-tiba sudah berada di sampingku.
Aku mengecek ponsel. "Belum, Da." Masih ada waktu lima menit lagi sebenarnya.
"Oke, kita mulai dulu, ya."
Aku mengangguk. Mudah-mudahan Da Andy tepat waktu.
Benar saja, tidak lama ponselku berdering. Da Andy menelepon.
"Mai, saya udah nyampe di parkiran dekanat."
"Oh, oke. Baik, Da." Aku mematikan ponsel.
"Siapa?" tanya Da Ihsan.
"Pak Andy sudah sampai di dekanat."
"Oke, biar Uda yang ke sana."
Aku mengangguk. Sebaiknya memang seperti itu.
Lima menit kemudian dari kejauhan aku melihat Da Ihsan dan Da Andy menuju aula. Mereka tampak berbincang akrab.
"Assalamu'alaikum. Pagi, Pak. Selamat datang di kampus Teknik," sapaku seraya tersenyum sopan.
"Wa'alaikumussalam," jawabnya dengan wajah datar.
Eh, kok tumben, biasanya ramah.
"Silakan duduk, Pak," Da Ihsan mengantar Da Andy ke barisan depan seraya memperkenalkannya dengan beberapa dosen.
Aku tidak sempat memikirkan perubaah suasana hati Da Andy, aku lebih cemas karena sebentar lagi harus menjadi moderator. Aku merapalkan doa dalam hati. Robbisy rohli sodri. Wayassirli amri. Wahlul 'uqdatammillisani. Yafqohu qouli.
Ya Rabb-ku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku. Doa dalam Alquran yang dibaca oleh Nabi Musa 'alaihissalam ketika hendak berhadapan dengan Fir'aun.
Selesai membaca doa, ponselku berdenting. Dahi mengernyit ketika tahu siapa yang mengirim pesan. Aku menoleh ke arah Da Andy. Wajahnya nampak lurus ke depan, memperhatikan dekan yang sedang memberikan sambutan. Aku membuka pesan yang dikirimnya.
"Kenapa bukan kamu yang jemput tadi?"
Ya ampun. Seriusan dia bertanya seperti itu?
"Tadi Da Ihsan menawarkan diri untuk menjemput ke dekanat, Da."
Tidak ada balasan.
Aku mengembuskan napas lega. Ya Allah. Lancarkanlah urusanku.
Ketika pembawa acara memanggil namaku dan Da Andy untuk maju ke depan, perutku bertambah mulas.
***
Selesai kuliah umum, panitia, dosen, dan seluruh peserta foto bersama. Ketika sesi foto-foto selesai aku hendak beranjak ke meja panitia, tapi sebuah suara menahanku.
"Mai."
Aku menoleh dan melihat Da Andy menghampiriku. "Iya, Pak?"
"Saya langsung pulang ya, ada kegiatan lain sehabis ini."
"Baik, Pak. Sebentar saya minta Da Ihsan mengantar Pak Andy." Aku mengedarkan pandangan mencari seniorku itu.
"Tidak perlu."
Mataku berhenti mencari dan tertegun dengan kalimat barusan. Pandanganku beralih kepadanya. "Eh, nggak apa-apa, Pak. " Aku merasa tidak enak bila tidak ada yang mengantarnya ke dekanat.
"Maksud saya tidak perlu Ihsan yang mengantar saya. Kamu saja." Wajah Da Andy datar ketika mengucapkannya. Membuatku salah tingkah. Haduh, bagaimana ini?
***
Al merentangkan kedua tangan ke atas. Meregangkan otot tubuh. Lalu menutup kuap dengan tangannya.
"Ngantuk, Al?" tanyaku ketika melihat Al.
"Biasa, habis begadang ngerjain laporan praktikum."
Pantas saja, wajahnya terlihat lelah. "Tapi masih sempat mandi, kan?" Bukan rahasia lagi kalau sedang sibuk praktikum, jangankan tidur, kadang lupa makan dan mandi.
Al hanya terkekeh pelan. Entah kenapa aku mulai menyukai tawanya. Astaghfirullah, apaan sih, Mai? Aku mengalihkan perhatian dengan kembali membaca buku Pengantar Ergonomi. Rapat sudah selesai lima belas menit yang lalu. Aku memilih menunggu kuliah selanjutnya dengan membaca buku di sekre.
"Mai," panggil Al.
"Hmmm.... " Aku masih fokus ke buku.
"Pak Andy mau nggak kalau ngisi seminar anak Sipil?" tanya Al.
"Tanya aja sama orangnya langsung." Aku tidak pernah lagi menghubungi Da Andy sejak kuliah umum beberapa waktu lalu, walau beberapa kali dia sempat mengirim SMS padaku.
"Kata Pak Andy bisa lewat kamu."
Aku mendongak. "Kapan Pak Andy bilang begitu?" tanyaku heran.
"Waktu selesai kuliah umum, aku sempat ngobrol sebentar."
Dasar! "Aku bukan sekretarisnya."
"Mai." Dia mengambil bukuku.
"Al! Balikin," seruku kesal.
"Aku serius. Bisa nggak Pak Andy ngisi seminar Sipil?"
"Aku kasih nomornya aja sama kamu. Nanti tanya sendiri." Aku merebut kembali buku yang dipegangnya.
"Nggak enak, Mai. Aku kan baru ketemu sekali, masa langsung nelepon?"
"Aku juga baru ketemu... tiga kali," ujarku seraya menghitung dalam hati.
"Tuh, kan. Kamu udah sering ketemu."
Aku menarik napas. Sebenarnya malas harus berhubungan lagi dengan Da Andy. Suka semaunya. Main perintah. Menyebalkan.
"Emang kamu udah kenal sebelumnya sama Pak Andy?" tanya Al penasaran.
"Dia dosen di kampus Ni Nana. Pernah ketemu di rumah waktu dia ada perlu sama Ni Nana," jelasku.
"Ooo..."
"Emang seminarnya kapan?" tanyaku.
"Tahun ajaran baru, sih," jawab Al.
"Masih lama kali, Al."
"Iya sih, tapi kan dari sekarang udah nyari pembicara."
Aku menarik napas. "Ya udah, nanti coba aku tanyain."
"Seriusan, Mai?" Wajahnya berubah cerah
Aku tersenyum. "Tapi nggak janji, ya."
"Nggak, apa-apa. Yang penting sudah usaha." Senyumnya melebar.
Entah kenapa hatiku terasa hangat. Melihatnya semringah.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Dearest Mai (Versi Novel)
Teen FictionMai, gadis itu punya mimpi sederhana saja. Lulus kuliah dengan nilai bagus, menikah, dan tenang bersama keluarga. Namun, mimpi akan terasa sulit saat kau sudah bertemu cinta dan patah hati, bukan? Al, laki-laki yang selalu memberinya perhatian, diam...
