Chapter 3

2.2K 258 48
                                        

18+

Kabar yang beredar, pagi ini semua orang membicarakan mengenai kedatangan Yunav bersama Stefan. Sebenernya bukan hal aneh mengingat mereka memang sepasang kekasih, tapi para siswi tukang gosip itu terlalu membesarkan masalah. "Jadi, bagaimana perkembangan hubunganmu dengan Stefan? Aku dengar kalian pergi ke sekolah bersama."

"Tidak tahu, tiba-tiba dia muncul di pintu rumahku ketika aku tengah mengenakan sepatu."

Ini aneh. "Lalu?"

"Lalu aku malas menjelaskan."

"Yunav!"

"Jangan membuatku naik pitam. Aku sedang mengantuk, diamlah!"

Entah disadari Yuki atau tidak, Yunav seperti enggan membahas kejadian tadi pagi. Dia lebih memilih menguap malas kemudian menelungkupkan kepalanya di atas meja, istirahat kali ini ia manfaatkan untuk tidur di dalam kelas. Salah sendiri semalam suntuk malah meladeni Dipa bermain PlayerUnknown's Battlegrounds hingga menjelang pagi, alhasil rasa kantuk terus menyerang. Yuki benar-benar tidak mengerti, terus terang ia sedikit kesal. Mana pembuktian dari mulut manis Stefan? Mereka telah berciuman panas di bianglala semalam, lalu di pagi hari laki-laki itu berpaling pada gadis lain. Harap-harap cemas, Yuki menggigit kecil sudut bibirnya ketika dihantam kenyataan jika dirinya berstatus kekasih gelap.

Sekali helaan napas, tubuhnya mulai beranjak meninggalkan Yunav. Yuki tersenyum kecut, bersamaan dengan getaran ponselnya di saku rok. Sebuah pesan masuk dari Stefan, dia seenaknya memerintah Yuki ke atap gedung sekolah. Berkali-kali seruan itu terus menggema, apapun mengenai Stefan maka Yuki seakan tidak berdaya. Separuh hati, ia akhirnya menurut. Naik ke atap gedung yang sebenarnya di larang pihak sekolah, konsekuensi akan mereka dapat jika sampai ketahuan. Urusan nanti, mendengar kejelasan dari Stefan lebih penting. Pikiran Yuki tidak berhenti menyuarakan, tindakannya yang menusuk teman sendiri telah membawanya pada satu kesalahan besar di mana Yuki terlanjur terperosok ke dalamnya.

"Kenapa lama sekali?" Belum satu menit menginjakkan kaki di atap, mulut menyebalkan Stefan langsung masuk ke indera pendengaran Yuki. Harinya benar-benar buruk mendapati Oliver sekaligus, dia tampak begitu santai menyender di teralis sembari menyedot susu puding. "Hei."

"Pesanmu baru masuk."

"Baiklah, sekarang kemari." Yuki cepat bereaksi, mendekat ke tempat Stefan dan Oliver. "Duduklah, jangan berdiri."

Kembali dilanda perasaan was-was, telapak Stefan begitu hangat menggenggam jemarinya. Lembut, tapi sanggup membuat jantung Yuki hampir melompat. "Stef, apa yang kau..."

"Duduklah dengan tenang, sayang." Duduk menengahi dua laki-laki dari ras berbeda, anehnya Oliver malah tersenyum kecil menyadari tingkah Stefan yang tiba-tiba merebahkan kepala di paha Yuki. "Katakan padaku apa saja yang telah kau dengar dari mulut orang-orang itu?"

Alis Yuki terangkat sebelah, ia melirik Oliver seolah meminta bantuan. "Stefan dan Yunav pergi ke sekolah bersama pagi ini. Kau pasti sudah tahu kan, Yuki?"

"Biar ku perjelas." Sedikit jeda di perkataannya. "Aku sama sekali tidak bermaksud membuatmu bingung, niatanku ke rumahnya hanya untuk memberikan kroket keju yang dibuat Ibuku untuk Oscar. Itu saja, tidak lebih. Tapi sebuah situasi menyebalkan terjadi, aku tidak bisa menolak perintah Oscar agar mengajak Yunav pergi ke sekolah bersama."

Dan Yuki akan langsung percaya?

Giliran Oliver yang melirik raut Yuki melalui ekor matanya, datar dan sepertinya ia malas berkomentar. "Ayolah, kau tidak biasanya seperti ini."

"Ya, tapi kau harus ingat jika kau sendiri yang telah menempatkanku di situasi tidak biasanya Stef."

Ini menarik. "Yuki..."

ResetTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang