Chapter 11

1.6K 229 34
                                        

18+

Yuki merasakan neuron-neuron dopamin mulai memberikan persepsi pada keadaan sekitar, sensasi panas luar dalam begitu terasa membakar. Anak muda jaman sekarang, kebanyakan sering melanggar aturan tanpa mau memikirkan balak. Stefan memejamkan mata, tangannya menelusuri setiap lekuk indah perempuan itu dengan bibir yang saling mencecap mesra. "Kau sangat seksi."

Entah disadari atau tidak, perasaan mereka agaknya melunak karena si lelaki begitu pandai menggoda. "Aku masih ingin bertanya, bagaimana bisa kau memiliki foto Nav yang tengah berkencan dengan laki-laki lain?"

"Belum saatnya, kau akan tahu sendiri nanti."

"Tapi aku..."

Tujuh belas, angka menuju kedewasaan.

Seks dini, seharusnya hal demikian tidak terjadi. Kurva tubuhnya, begitu feminim dan manis. Stefan tidak tahan hanya menatap, maka ia memutuskan untuk melepas lumatannya. "Aku sungguh ingin melakukannya, Yuki."

Dasarnya telah terbawa rasa, sejak awal sama-sama menginginkan. Yuki menampik rasa bersalahnya pada Yunav, bersikap egois pada kenyataan. Terlihat seperti bukan cinta, melainkan perasaan posesif dalam memiliki. Lalu tatkala harapan-harapan itu muncul, mereka kembali bergabung di kubangan dosa. Stefan mendorong tubuh Yuki terbaring di atas ranjang, menciumi bagian bawah payudaranya yang terekspos bebas. Panas dan meledak, sulit sekali rasanya menyembunyikan rona merah. Stefan menjilati bagian itu, semakin ke atas hingga ke tengah-tengah lekukan lembut yang Yuki miliki. Segala kekesalan dan rasa muak melebur, keduanya sama-sama menyadari ada degup aneh.

"Stefhh."

"Hm?"

Stefan hanyalah nerakanya.

Dia fatamorgana.

Ilusi memuakkan.

Tapi ia masih saja cinta.

Padahal telah jelas-jelas hatinya remuk.

Masih saja...

Ia masih saja cinta.

Dasar brengsek!

"Kenapa kau membuatku seperti ini? Sulit sekali rasanya lepas darimu."

Jika Yuki berbicara, gairahnya semakin naik. Mereka masih saja mesra, terlebih tindakan Stefan yang menekan lembut titik payudaranya Dia meremasnya, merasakan setiap kelembutan teksturnya. "Jangan berpikir bisa lepas dariku sedikitpun."

Mereka telah buta.

Manusia-manusia kotor ini tidak pantas mendapatkan cinta yang semestinya. Dihadapkan takdir, maka mereka semua tidak memiliki arti. Yuki tetap saja belum menemukan apa yang tengah dicari, ia tetap berlari untuk menggapainya meskipun harus mengorbankan diri.

"Katakan padaku jika kau juga menginginkannya?" Pelan-pelan, Stefan menggerakkan jarinya menyentuh setiap inci kulit Yuki. Penuh euforia, siksaannya seperti neraka. "Yuki?"

"Aku..." Sedikit jeda. "Aku menginginkanmu."

Yuki meremas helaian rambut Stefan saat laki-laki itu coba menyentuh kewanitaannya yang masih berbalut kain tipis, menyelipkan jemarinya di sana. Lebih dari sekedar ketakutan besar, Yuki merasa vaginanya mengetat. Stefan yang menyadari hal itu malah tersenyum, sekian detik fokus menatap raut tersiksa perempuannya. Yuki sangat seksi, payudara besar nan indah juga lekukan pantat yang berisi. Laki-laki manapun akan tergoda, Stefan tidak bisa menyangkal. Akan tetapi, hubungan yang hanya didasari nafsu seperti ini pasti berakibat buruk. Meskipun libido Stefan naik, meskipun nafsu Stefan sudah seperti binatang buas, ia masih bisa mengerti ketidaknyamanan Yuki. Dia gugup dan gemetar, bahkan sempat menutup mata dengan sebelah tangan.

ResetTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang