Author Point Of View
Derap langkah yang terdengar tidak tenang itu terdengar nyaring di salah satu lorong sekolah.
Masih tersisa beberapa siswa siswi yang memutuskan berdiam diri di dekat loker mereka, membuat sebuah forum untuk bergosip ria, berpacaran dan ... Ugh! Evelyn sangat benci dengan yang satu ini.
Apa tidak ada tempat lain untuk beradu mulut dengan lawan jenis selain di lingkungan sekolah? Menjijikan.
Di antara kerumunan orang, akhirnya kedua mata Evelyn tertuju pada seorang pria yang kini tengah ... Sama-sama melihat Evelyn dari jarak yang tidak terlalu jauh.
"Apa ia menyadari kehadiran ku? Tapi ... Apa mungkin ia menemukan ku dalam keadaan yang ramai seperti ini?" Dengan cepat Evelyn menggelengkan kepala nya untuk menjauh dari fikiran hal lain.
Evelyn pun melewati beberapa orang untuk menemui Daniel si murid baru.
Sesampai nya ia di hadapan Daniel
"Kembalikan buku catatan ku." Kata Evelyn to the point.
Daniel terlihat mengernyitkan kening nya dan tertawa kecil.
"Buku catatan apa maksud mu?" Tanya Daniel terlihat santai dengan menyandarkan tubuh nya di sisi loker dengan kedua tangan yang ia masukkan ke dalam saku celana nya.
"Buku catatan milik ku. Kau duduk di halaman belakang perpustakaan beberapa waktu yang lalu bukan? Kau pasti tahu dimana buku catatan ku." Jelas Evelyn sedikit kesal.
Daniel diam, tak bergeming. Bahkan Daniel tidak perduli tentang apapun yang di katakan oleh wanita yang kini berada di hadapannya.
Tidak lama kemudian, Daniel pergi meninggalkan Evelyn yang masih bertanya-tanya. Emosi nya semakin meningkat saat Daniel pergi dari hadapan nya.
Sialan!
Evelyn Point Of View
Aku berjalan dengan kesal memasuki ruangan kelas. Shania dan David yang saat itu memiliki jadwal pelajaran dan satu kelas yang sama dengan ku, menghampiri ku dengan wajah yang bertanya-tanya.
"Eve? Kau kenapa?" Tanya Shania yang kini duduk di sebelah kiri ku.
"Dimana buku catatan mu?" Kini David yang bertanya pada ku. Dan pertanyaan itu ... Membuat ku semakin emosi.
"Tidak." Jawab ku singkat.
Dan tidak lama kemudian Mrs. Shopia masuk ke dalam ruangan kelas dan mulai membahas beberapa materi.
Dan itu sangat membuat ku bosan dan mengantuk.
.
.
.
"Kau yakin tidak akan pulang bersama ku?" Dengan cepat aku menggeleng pada David. "Aku akan pulang setelah aku mendapatkan novel itu David, lagipula kan Ibu Joy membutuhkan mu untuk mengantar nya ke butik. Cepat, sebelum Ibu Joy marah." Kata ku di akhiri kekehan.
David mencubit hidung ku dengan gemas. "Baiklah, aku pulang dan akan mengantarkan Ibu ke butik. Tapi kau harus berjanji pada ku untuk memberikan ku kabar sesering mungkin. Setidak nya .... Um .... 3 kali dalam 10 menit." Tawa nya memecah keheningan di sore hari. Ia benar-benar moodboster ku.
"Sudah sana cepat jemput Ibu mu." Kata ku sambil sedikit mendorong tubuh berotot nya menuju pintu kemudi.
"Oke oke. Berjanjilah padaku Eve." Kata nya sambil tertawa dan mulai masuk ke dalam mobil nya. Aku melambaikan tangan kanan ku pada nya saat ia menurunkan kaca mobil dan mengedipkan salah satu mata nya pada ku. Genit sekali.
Setelah mobil milik David menjauh, aku segera berjalan menuju sebuah halte bus. Menunggu bus giliran ku dan menaiki nya.
Tempat favorit ku saat menaiki bus adalah di samping jendela. Disana aku dapat melihat keramaian melalui balik kaca.
Seketika aku mengingat Ibu dan Ayah~
Aku melompat kegirangan saat sesampainya di halte bus. Banyak sekali bus yang berjajar dengan naik dan turun penumpang di setiap bus nya.
"Ibu ... Ayah ... Kenapa bus itu berukuran besar? Tidak seperti mobil milik Ayah dan Ibu." Tanya ku heran saat menunggu bus giliran ku, Ibu dan Ayah. Entah mengapa pertanyaan ku ternyata membuat Ibu dan Ayah tertawa.
"Karena bus dan mobil Ayah berbeda sayang. Bus yang akan kau naiki kan memuat banyak orang, sedangkan mobil milik Ayah adalah mobil milik sendiri yang hanya di naiki Ibu, Ayah dan Evelyn tentunya." Jawab Ibu seraya berjongkok di hadapan ku dengan tujuan menyamai jarak pandangan kami satu sama lain. Kedua tangan Ibu tiada hentinya menggenggam tangan ku dan mengelusnya.
Sedangkan Ayah, aku selalu senang saat digendong oleh Ayah. Kedua tangannya yang besar sangat nyaman saat ia menggendong ku.
"Ayo, bus giliran kita sudah sampai." Pekik Ayah bersemangat dan seketika membuat diriku juga bersemangat dan bersorak. Kami sama-sama tertawa bahagia seraya memasuki bus.
Mata ku terkagum saat melihat banyak kursi di dalam bus. Ya. Hari itu adalah hari pertama kali nya aku menaiki mobil besar, atau biasa disebut bus.
Dan sejak kecil aku selalu memilih kursi penumpang di dekat jendela.
Tapi sayang nya, Ibu dan Ayah meninggalkan ku untuk selamanya tidak lama setelah kami naik bus di hari itu.
Tiba-tiba
"Can i sit next to you?"
"Oh ya, sure." Jawab ku tanpa melirik ke arah pria yang baru saja bicara demikian pada ku. Pandangan ku masih tertuju pada pemandangan dari balik kaca. Salah satu tangan ku mengusap pipi ku yang basah, ah. Aku menangis rupa nya.
"Thank you." Katanya yang masih sama, tak aku gubris.
Tak lama kemudian bus melaju. Aku melamun melihat keramaian di luar sana. Beberapa orang tengah sibuk berjalan kesana kemari, membawa beberapa tas belanja di tangan nya, dan lain sebagai nya.
Tiba-tiba ...
"Is this your notebook?" Buku catatan ku?
Seseorang menyimpan buku catatan milik ku tepat di hadapan wajah ku. Seketika akupun memandang pria di samping ku dan ... Daniel?
"K-kau?" Pekik ku terkejut.
"Apa? Benar kan ini buku catatan mu?" Tanya Daniel padaku. Kenapa bisa ada pria ini di sini?
"Kau mengikuti ku ya?" Selidik ku dengan memicingkan kedua mata ku pada nya.
"Aku rasa ya. Tapi aku rasa tidak." Kedua alis ku nyaris bertabrakan mendengar jawaban aneh dari si murid baru ini.
"Jadi bagaimana maksud mu? Kau benar-benar mengikuti ku? Begitu?" Tanya ku menegaskan nya. Tapi ia malah ... Tertawa. Sudah ku duga bahwa ia memang sangat menyebalkan.
"Aku rasa aku tidak perlu menjawab pertanyaan mu yang tidak penting itu." Balas nya membuat emosi ku rasanya naik ke ujung kepala.
"Kau mau ambil buku mu ... Atau tidak?"
"Jika tidak --" Dengan segera aku mengambil buku catatan milik ku dari tangan nya. "Aku sudah mengambil nya." Timpal ku dengan nada monoton.
Ku rasakan ia tersenyum di samping ku.
"Oh ya, my name is Daniel. And your name is Evelyn. Evelyn Aisley right?" Celetuk nya yang membuat ku memandang nya kembali.
"D-darimana kau tahu nama panjang ku?" Tanya ku sedikit canggung.
Daniel mencondongkan tubuh nya ke arah ku, wajah nya mendekat ke arah telinga ku dan berbisik ...
"I know all about you Evelyn ..."
Dan seketika aku merasa jantung ku berdegup dengan kencang.
✨✨✨
Hallo!🐣
안녕하세요 teman temannn😂
Jangan lupa tinggalkan 🐾 jejak kalian yahhh kalo kalian suka✨
Btw gimana suka ga sama part ini?
KAMU SEDANG MEMBACA
Moonlight [COMPLETED]
VampirosPertemuan nya dengan sesosok vampire menyebalkan dan menjengkelkan itu membuat seorang Evelyn Aisley beralih dari rasa benci nya menjadi cinta. Namun sesuatu membuat nya kembali membenci sosok vampire itu, sampai pada akhirnya ia pun terkurung di da...
![Moonlight [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/177755270-64-k4004.jpg)