[Bab 20 : Why?]

936 129 2
                                        

Sesampai nya di halaman rumah, aku melihat dua mobil terparkir. Kedua mobil itu tidak asing bagiku.

Dave? Ada apa dia kemari malam-malam begini?

Akupun melangkah memasuki rumah dengan sebelum nya yang sedikit merapikan pakaianku.

Saat aku baru saja membuka pintu, aku melihat Dave tengah duduk bersama Victoria dan berbincang.

Seperti tengah membicarakan sebuah hal yang sangat serius.

Kehadiran ku membuat Dave memandang ku, berdiri dari duduk nya dan mengambil langkah yang besar menghampiri ku.

Tanpa kusangka, Dave memeluk tubuh ku dengan sangat erat sehingga aku merasakan tubuhnya bergetar.

Aku menatap Victoria yang tengah tersenyum pada ku.

Bahkan aku tidak menyangka bahwa Victoria tersenyum padaku saat ini.

"D-Dave? Kau kenapa?" Tanya ku sedikit memelankan nada bicara ku.

"Aku akan ke kamar. Bicaralah." Kata Victoria menepuk bahu ku sebelum pergi meninggalkan ku dengan Dave hanya berdua di ruang tamu.

"Eve ..." Lirih Dave di sela-sela pelukan nya.

"Bicaralah." Kata ku seraya menarik tubuh nya agar melepasku dan duduk di sofa bersama untuk bicara.

Ia duduk di samping ku dengan kedua mata yang memerah dan sembab. Apa ia benar-benar baru saja menangis?

"Ceritakan semua nya padaku Dave. Kau terlihat kacau." Kata ku sambil terus menatap nya.

Tidak lama kemudian, ia menangis.

Ia menangis sejadi-jadi nya.

Bahkan setelah ia beranjak dewasa, ini adalah kali pertama aku melihat nya menangis.

Kedua tangan nya yang besar menutupi wajah nya yang tengah menangis.

Aku memeluk tubuh nya yang bergetar karena isak tangis nya.

"Menangislah jika itu membuat hati mu lega, jangan di pendam." Kata ku sambil mengusap lembut punggung nya.

"Ibu ..." Kata nya disela-sela isakan tangis nya. Aku menarik kedua lengan nya yang menutupi wajah nya dan menggenggam kedua pipi nya agar ia melihat ke arahku.

"Ada apa dengan Ibu mu?" Tanya ku yang kini sama-sama menangis.

Aku merasa sangat cemas.

Ada apa dengan nya? Apa ia jatuh sakit?

"Ibu ... Ibu ditemukan tewas." Tangis nya kembali pecah, mengisi kesunyian di malam hari.

Seketika aku terdiam.

Tubuh ku mematung, kedua tangan dan kaki ku melemah. Air mata mulai meluncur bebas dari kedua mata ku.

"B-bagaimana bisa?" Tanya ku tak mampu menahan tangis.

Ibu Farah adalah seseorang yang sangat Ibu dan Ayah ku percaya selama ini.

Dan Ibu Farah juga sudah ku anggap sebagai Ibu kedua ku karena ia sangat menyayangi ku sama seperti kepada David, anak kandung nya sendiri.

"Entahlah Eve. Semua terjadi begitu cepat ... Aku tidak bisa menduga jika semua akan seperti ini. Aku bodoh, aku terlalu mementingkan dompet ku yang tertinggal di supermarket. Jika aku tahu semua nya akan berakhir seperti ini, aku tidak akan pernah memutuskan untuk kembali ke supermarket itu dan mengambil dompet ku yang tertinggal. Aku sungguh menyesal Eve, aku menyesal." Kata nya kemudian kembali menangis.

Moonlight [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang