Hari minggu. Adalah hari kemerdekaan bagi seluruh siswa Trunajaya. Bukan hanya mereka, bahkan siswa diseluruh Indonesia. Dimana mereka bisa menghentikan otak dan tubuhnya sejenak sebelum menyambut hari esok untuk berperang kembali.
Jika anak-anak lainnya liburan bersama keluarga atau teman, itu tidak berguna untuk seorang Liana Marisela. Gadis itu lebih memilih beringsut diatas ranjang mungilnya. Itu lebih baik daripada berjalan-jalan diluar dan menghabiskan ratusan ribu hanya untuk sekedar jalan-jalan dan membeli barang yang sama sekali tidak berguna.
Ditemani lagu All i ask milik Adele yang mengalun lembut mengisi ruangan persegi empat tersebut. Penyanyi kondang dengan suara emasnya. Siapapun pasti kenal dengan sosok itu. Lengkingan suara yang selalu berhasil membuat orang merinding saat mendengarnya. Lagu-lagu yang berhasil membuat para pendengarnya terlena. Entahlah, jika anak zaman sekarang lebih menyukai Marshmallow atau Martin Garix, Liana lebih menyukai penyanyi seperti Ariana Grande, Adele, Coldplay dan Taylor Swift. Baginya, karya mereka itu sangat epik dan enak saja di dengar. Ada yang slow, ada juga yang sedikit nge bite."Is.... If.... This is my last night with you.. " Liana bersenandung kecil mengikuti alunan musik dengan tubuh yang terlentang dan tangan terlipat, ia gunakan sebagai bantalan.
'Ting!'
Sebuah bunyi notifikasi dari benda pipih miliknya. Menganggu saja! Liana membuka ponselnya, dan mengetikkan beberapa digit angka password.
@Azkaldric
Hai 😊@Azkaldric
Add back dongLiana mendengus. Lagian darimana pula anak sinting ini mendapat ID Line miliknya? Mana sok kenal pula. Untung saja sudah ada hukum HAM yang kemarin dibahas di debat Capres. Coba kalau di Indonesia tidak ada, sudah pasti Liana mutilasi itu anak!
Tak ada niat untuk membalas pesan dari cowok itu, Liana kembali meletakkan ponselnya di sebelahnya dan menikmati alunan musik yang kini sudah berganti penyanyi, sekaligus judulnya. Saat ia hendak memejamkan matanya, terdengar ketukan pintu dari luar.
Liana menyeret malas kakinya menuju pintu.'Clekkk!'
"Apa Mbo—,Lho... " Liana melongo menatap kedatangan kedua sahabatnya. Pasalnya, mereka tak ada janji, atau tak memberitahu Liana jika mereka akan kerumahnya. Menganggu saja!
***
Azka menatap gelisah ponselnya. Sudah 15 menit ia menunggu balasan dari Liana, namun tak ada tanda-tanda akan dibalas melainkan hanya di read saja. Entahlah, rasanya Azka hanya ingin mengganggu Liana saja. Apalagi mendengar kata dari teman-temanya kemarin, bahwa Liana selalu tak peduli dengan cowok, dan dia hanya peduli dengan buku dan prestasi.
"Kamu kenapa sih Bang?" tanya Kia—mama Azka— mengambil duduk disebelah Azka.
"Enggak apa-apa kok Ma. Papa mana?" tanya Azka sedikit mengedarkan pandangannya.
Kia terkekeh pelan. "Yakin enggak apa-apa? Kok mukanya gelisah gitu? Hayo..."
"Apasih Ma. —," mengerucutkan bibirnya.Bisa dikatakan Azka adalah anak yang sedikit manja dengan Kia. Ya selain karena mereka sangat dekat, Azka juga anak tunggal. Tapi manjanya Azka hanya jika sedang dirumah saja. Berbeda dengan diluar, dia akan menunjukkan sisi lain dari Azka yang dirumah.
"Gimana, kamu masih mau kejar beasiswa itu?" tanya mama.
Azka menegakkan tubuhnya. "Harus dong Ma. Kesempatan itu jangan disia-siakan. Karena belum tentu kesempatan itu datang dua kali. Masalah berhasil atau enggak nya...Yang penting sudah berani mencoba."
"Gitu kan ya Ma?"
Kia menaikkan alisnya. "Mama yakin kok sama anak Mama. Eh tapi, kata kepala sekolah, sekolah yang kamu tempati sekarang itu ada muridnya yang pintar lho Bang. Katanya juga, dia selalu menjadi juara disetiap olimpiade. Dan dari sekolah kamu sekarang, kepala sekolah hanya dapat satu kuota untuk beasiswa di Harvard."
"Mama ngeraguin abang?"
Kia terkikik geli melihat tingkah Azka yang sedikit merajuk. "Enggaklah. Tapi, semua terserah kamu, Mama akan dukung apapun pilihan Abang."
Mencium pipi Kia lembut. "I Love you more my heaven."
***
Liana sudah muak mendengar kegaduhan di kamarnya. Apalagi kalau tidak dibuat oleh kedua temannya yang kini tengah berebut remote televisi. Satunya ngotot ingin melihat drama Korea, satunya lagi, ingin melihat Dora the explorer. Mereka sudah seperti manusia purba yang baru saja melihat benda persegi panjang itu.
"Lo pada pulang aja deh. Ganggu gue mulu perasaan." ketus Liana sambil menutup telinganya dengan bantal.
"Elen tuh Na enggak mau ngalah," adu Tika.
"Enak aja! Elen duluan tadi yang nyalain!" tukas Elen tak mau kalah.
"Heh petasan korek! Gue yang nyolokin kabel nya ke stop kontak. Lo mah enak tinggal click tombol on doang."
"Tika gimana sih! Elen kan juga pengen nonton Oppa Kim Bum. Timbang Dora yang hanya bisa bilang, 'katakan peta, katakan peta'—" sambil menirukan gaya Dora saat memanggil peta. "Gak gun—,"
Pok! Pok!
Bantal mendarat bergantian tepat diwajah mereka berdua. "Kalo lo pada enggak bisa diem, gue mutilasi lo satu-satu," ujar Liana sambil menatap tajam mereka bergantian.
Elen mengerucutkan bibirnya. Sedangkan Tika memilih fokus pada snack didalam toples yang ia pegang.
"Kalo Elen di mutilasi, terus bagaimana nasib followers followers Elen di instagram? Terus, para pengusaha enggak bisa pakai jasa endorse Elen dong? Yah, kasihan produk mereka enggak akan laku kalau bukan Elen yang masarin."Hmmm... Kumat kan ini anak. Oppa, make-up, followers. Penampilan itu adalah yang paling utama. Make-up adalah bagian dari hidupnya. Oppa adalah pangeran masa depannya dan followers banyak adalah kebahagiannya. Entahlah, gadis itu tak bisa hidup tanpa ketiga kata tadi. Bahkan dia rela membuang jutaan uang hanya untuk menjelajahi tempat hits dan instagramable jika dia tengah kehabisan stok foto untuk di post.
"Kapan lo tobat? " tanya Tika.
"Emangnya Elen ngapain?" tanya Elen polos.
"Bodo El bodo, semerdeka lo dah," ucap Liana pasrah. Susah sekali untuk berinteraksi dengan Elen. Dia hanya akan nyaut sempurna jika diajak berbincang so'al oppa.
Bersambung
◻◻◻
Thanks for reading 😘
See you in next part!

KAMU SEDANG MEMBACA
PRIDE
Teen FictionBEBAS BACA TANPA RIBET! GAK ADA YANG DI PRIVATE Benci adalah awal dari kisah ini. Dan cinta akan hadir dengan sendirinya. Tulisan ini yang akan berbicara mengenang masa indah di SMA. Walau hanya sepatah kata, aku harap kau menyukainya.