8.Jeruk makan jeruk?

29 6 1
                                    

Halooo....
Daripada vote tapi enggak baca, mending baca tapi enggak vote  😊
.
Lets be enjoyed  😘

~Tolong beritahu aku, bagaimana cara mengungkapkan rasa ini.~

"Azka, ini buat kamu." seorang gadis menyodorkan sebatang coklat yang dihiasi pita pink diatasnya.

"Ini buat Kak Azka." gadis lainnya memberi se-bucket bunga pada Azka. Azka menatapnya dengan senyum yang dipaksakan. Gila aja! Dikira gue kuburan apa gimana? Pagi-pagi dikasih kembang aja.

"Woiiihhh...pagi-pagi udah dapat bgituan tuh," seru Edo saat mendapati Azka yang kerepotan membawa beberapa hadiah dari beberapa siswi.

Ya tak heran sih, semenjak Azka masuk Trunajaya, ia mendadak jadi idola kaum hawa. Ketenarannya tak jauh beda dengan Aldi. Masih ingatkan dengan kapten basket yang doyan gonta-ganti pacar?

Dengan malas Azka menatap Edo, lalu menyerahkan beberapa batang coklat dan bunga ke tangan Edo. "Buat lo aja, gue enggak doyan begituan. Kalau duit, baru gue mau," ujar Azka diiringi kekehan.

"Dasar mata duitan lo!" Edo memukul lengan Azka dengan tangan kanannya yang tak memegang bunga dan antek-anteknya.

Mereka berjalan beriringan menuju kelasnya dengan sesekali obrolan ringan. Edo bercerita dengan semangat mengenai gebetannya yang penari dari Semarang. Katanya, bodinya mirip sekali dengan biola. Ada-ada saja memang.

Suasana kelas sudah ramai, beberapa siswi yang tadinya sibuk bercengkrama,berhenti tatkala ada Azka masuk. Semua mata kaum hawa memandang kagum ke arah Azka. Bahkan beberapa ada yang memuja terang-terangan. Ternyata, pesona Azka dikelas ini kian digandrungi semenjak tau dia cowok yang berprestasi.

Azka menatap tiga gadis yang sama sekali tak terusik dengan kehadirannya. Terutama seorang gadis yang sibuk membaca buku tebal dihadapannya. Pandangan Azka beralih pada siku gadis tersebut yang berbalut perban. Kenapa ya?

Azka mendaratkan pantatnya di kursinya. "Kenapa tuh anak?" tanya Azka pada ketiga temannya.

Bagas menyunggingkan senyum miringnya. "Sejak kapan lo peduli? Bukannya tugas lo hanya menjatuhkan dia?"

"Maksud lo apa ngomong gitu?" tanya Azka bingung.

"Ck! Belagak pilon." Bagas mengambil tasnya dari meja, lalu berjalan menuju bangku milik Trio, "Yo, lo pindah sono!"

Trio yang notabene murid agak sedikit culun dan penakut pun hanya bisa pasrah dan menuruti perintah Bagas.

Sementara itu, Elen masih heboh bertanya pada Liana mengenai siku Liana yang tiba-tiba diperban. "Na...ish! Elen itu bertanya karena Elen peduli," rengek Elen.

Tika yang tengah asik memotong kuku pun mencebik. "Sampai ladang gandum dihujani coklat dan jadi coco crunch pun, Liana enggak bakal jawab. Orang kupingnya disumpel earphone juga! Bego banget sih lo."

"Yeee...sirik bae sih Tika," balas Elen.
Elen menggoyangkan lengan Liana, lalu menarik earphone temannya itu disertai dengan tatapan kesal. "Liana..."

Liana mendengkus kemudian berdehem.

"Itu...," menunjuk perban di siku Liana. "tangan Liana kenapa? Elen daritadi nanya enggak ada sahutan sama sekali."

"Gue berani taruhan kalau Liana jawabnya bakalan 'Nggak penting'. Coba aja kalau enggak percaya," ujar Elen.

"Nah...tuh udah diwakilin sama Tika." Liana menjawab dengan santai.

Elen yang tadinya sudah kesal pun dibuat makin kesal. Padahal kan, Elen bertanya karena peduli dengan Liana, eh tapi Liananya, bikin Elen naik darah mulu. Mungkin jika Elen punya riwayat penyakit darah tinggi, ia sudah dipastikan berada di UGD karena menghadapi sikap Liana yang menyebalkan.

PRIDETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang