2 Januari 9 tahun yang lalu....
Dua orang anak perempuan 7 tahun dan 9 tahun berlarian gembira saling mengejar,menyemprotkan air dari pistol mainan.
"Sayang jangan lari-larian nanti kalian jatuh. Sini yuk sama mama mainan bubble."
Kedua anak itu lantas menjatuhkan mainannya kemudian menghampiri sang mama dengan riang.
"Liana mau yang itu," rengek anak itu menunjuk botol kecil berisi cairan bubble yang di pegang kakaknya.
"Liana enggak boleh kayak gitu, ini kan punya Friska."
Wanita paruh baya itu tersenyum simpul melihat kedua anaknya yang sangat menggemaskan saat berebut mainan. "Friska...kakak itu harus?"
Friska menyodorkan botol tersebut pada Liana dengan lesu. "Yaudah deh, Friska kan kakak yang baik buat Liana, jadi ini buat Liana."
"Sini biar papa yang foto kalian."
"Papa ikutan kita foto aja!" pinta Friska.
"Ya enggak bisa dong sayang, nanti siapa yang pegang kameranya?" tanya papa pada Friska sambil tersenyum geli.
Laki-laki itu membidik gambar harta yang tak ternilai dengan penuh kasih sayang. Beberapa gambar diabadikan secara candid dan terlihat sangat natural. Tanpa sadar, laki-laki tersebut menarik sudut bibirnya, tak ada yang lebih indah selain melihat tiga orang tersayangnya tersenyum bahagia.
Liana berlari ke arah papanya. "Papa...,"
Laki-laki itu tersenyum lebar dan merentangkan kedua tangannya menyambut tubuh mungil Liana. Tak hentinya tangan kanannya mengelus rambut anak bungsu nya. "Liana, kalau gede mau jadi apa?"
"Friska mau jadi model kayak Miranda kerr." bukan Liana yang menjawab, tapi Friska yang berteriak sambil berlari menuju sang papa kemudian duduk dipaha sebelah kanan.
Laki-laki itu menoel hidung Friska gemas. "Pasti bisa. Anak papa kan cantik."
"Kalau Liana enggak pengen jadi model. Liana pengen jadi kayak papa, biar kayak superhero."
***
9 Mei 8 tahun yang lalu.
Prangg!!!
Suara piring beradu dengan lantai berdenting keras mengisi seluruh sudut rumah mewah milik keluarga Taslim. Berkali-kali terdengar pula suara barang berjatuhan dan teriakan silih berganti dari pasangan suami istri.
Liana mengintip takut-takut dari balik sofa ruang tamunya. Dilihatnya dua orang yang saling adu mulut, gadis kecil tersebut tubuhnya bergetar dibekap mulutnya kuat-kuat agar isakannya tak terdengar. Ya. Liana menangis.
"Dasar kau laki-laki busuk! Kau sudah menghianatiku! Bukan hanya aku, tapi juga anak-anak."
"Kau pikir kau wanita sempurna? Bahkan kau lebih memilih mengurus butik-butik mu itu daripada mengurusi anak dan suami mu!"
Wanita itu semakin geram dan mengepalkan tangannya di udara. "Hei, mengandalkan gajimu saja tidak akan cukup—,"
"Itu karena kau jadi perempuan yang tak bisa mengatur keuangan. Berbeda dengan Kiara—,"
'plakk!!! '
Wanita itu menampar keras laki-laki dihadapannya. Laki-laki yang telah menghancurkan kepercayaannya, laki-laki yang telah meremukkan hatinya. Hatinya pun, tak lagi terasa perih seolah semuanya mati rasa.

KAMU SEDANG MEMBACA
PRIDE
Novela JuvenilBEBAS BACA TANPA RIBET! GAK ADA YANG DI PRIVATE Benci adalah awal dari kisah ini. Dan cinta akan hadir dengan sendirinya. Tulisan ini yang akan berbicara mengenang masa indah di SMA. Walau hanya sepatah kata, aku harap kau menyukainya.