6. The Winner

46 10 3
                                    

Semalam Liana pikir, Maya akan marah dan memaki dirinya ketika pulang larut malam. Tapi, ternyata Maya sama sekali tidak memarahinya. Bahkan terkesan tak peduli, terlebih saat Liana masuk kedalam rumah dan Maya hanya mendaratkan tatapan datar seperti biasa tanpa menegur Liana sedikitpun.

Entah harus senang atau sedih. Senang,karena ia tak dimaki-maki, atau sedih lantaran mamanya benar-benar tak peduli dengan dirinya. Yang hanya ingin mamanya tau adalah pertama, nilai yang sempurna. Kedua, beasiswa fakultas kedokteran di Harvard. Bahkan, mamanya tak pernah mau bertanya apa sebenarnya keinginan Liana. Menyedihkan!

"Non Ana," terdengar suara Mbok Inah dari balik pintu kamarnya disertai ketukan yang terus menerus.

Liana menyeret kakinya mendekati pintu kemudian meraih knop dengan perlahan. "Kenapa Mbok?"

"Sarapannya Non," ujar Mbok Inah. "Non Ana enggak enak badan ya? Mau dibawa kesini aja makannya? Nanti Mbok teleponin ke sekolah deh kalau—,"

Liana menggeleng. "Enggak usah Mbok makasih, Liana masuk sekolah kok cuma pusing aja." ujar Liana kemudian melenggang menuju kamar mandi.

***

"Hari ini saya mau membagikan hasil ulangan harian kalian dua hari yang lalu." Bu Nabel berdiri dari bangkunya lalu memposisikan dirinya berada di depan meja. "Seperti biasa, saya akan memberi sebuah hadiah kepada siswa yang memperoleh nilai tertinggi."

Semua siswa sudah bisik-bisik menyebut nama Liana. Sedangkan sang empunya tersenyum percaya diri. Liana yakin, otak teman-temanya itu tidak sebanding dengan dirinya. Meskipun terkesan sombong, tapi itulah faktanya.

"Tapi, kali ini saya benar-benar takjub. Jika biasanya nilai tertinggi di kelas ini 9,kali ini nilai tertingginya sempurna yaitu dengan perolehan angka 10."

Semua siswa bertepuk tangan mendengar penuturan bu Nabel. Meskipun mereka sudah tau siapa pelaku nilai tersebut. Sementara  itu dipojokan tengah terjadi kerusuhan seperti biasanya dan keberuntungan sedang berpihak pada mereka lantaran bu Nabel belum menyadarinya.

"Eh gila sumpah ini film lebih dari dua puluh menit tau. Dapat dari mana lo link nya?  Atau jangan-jangan udah lo copy di hardisk ya Raf?"

"Ya iya lah, gue kan kalo mau nonton modal kuota. Enggak kayak lo yang bisanya cuma minta atau enggak ya minjem ke gue." balas Rafif sambil mendelikkan matanya kesal kearah Bagas.

"Gue juga modal kali."

"Modal apa?" tanya Edo melirik malas Bagas.

"Modal usaha minta sama kalian lah." dengan santai Bagas membalas pertanyaan Edo.

"Huuu...."

"Film apaan sih?" Azka bertanya dengan suara yang sengaja dikeraskan.

Bu Nabel memicingkan matanya melihat 4 sosok yang gaduh sendiri. "Itu yang dipojokan kenapa?"

"Film apa yang kalian bicarakan?"

Edo segera memberi kode pada Bagas supaya menyembunyikan hardisk-nya ketempat yang aman. Tak lupa pula Rafif menarik handphone nya lalu segera memasukkan kedalam celananya. Catat! Celana. Bukan saku celana. Sedangkan Azka berusaha menahan tawanya agar tidak meledak saat itu juga, lantaran menyaksikan ekpresi ketiga temannya yang sudah mirip tikus kena jepretan.

"Wah jangan-jangan film porno tuh," seru Elen tanpa sadar sambil mengangkat mascara barunya yang tadi padi ia pamerkan pada Tika dan Liana.

"Apa itu ditangan kamu Elen?" kini Bu Nabel beralih bertanya pada Elen.

Elen gelagapan menarik tangannya yang mengacung di udara kemudian disembunyikan di balik badannya. "Anu Bu... Ng...,"

"Apa Shelena Titania?" tanya Bu Nabel penuh penekanan sambil berjalan mendekati meja Elen.

PRIDETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang