Pagi ini seperti biasa, Liana berjalan menyusuri trotoar dengan earphone yang selalu menjadi ciri khasnya saat berjalan. Gadis itu berhenti di depan sebuah ruko untuk mencari angkot yang akan ia naiki. Jalanan masih terlihat sedikit basah akibat guyuran hujan semalam. Banyak lubang yang terisi air hujan hingga berbentuk genangan.
Tangan Liana melambai-lambai ketika melihat angkot melaju dari arah kiri. Sebelum angkot itu berhenti tepat dihadapannya, sebuah motor sport hitam melaju kencang muncul dari belakang angkot dan mendahului angkot. Tanpa tahu sopan santun, motor itu melaju dengan kencangnya di depan Liana dan menerjang genangan air tepat di depan Liana. Sontak saja hal itu membuat air muncrat ke seluruh badan Liana.
Gadis itu hanya bisa membeku dan melongo menatap pengendara motor tersebut. Sedetik kemudian dia tersadar dan merasakan basah pada bagian atas. Seragam putinya berubah menjadi kopi susu roknya pun basah. Rambut dan wajahnya sudah penuh dengan air kotor genangan tadi. Sialan! Siapa pula."Woy!" teriak Liana. Namun, pengendara motor itu tetap melajukan motornya tanpa peduli. "Gue sumpahin ban lo meletus!" gerutu Liana. Terus ini gimana dong? Bolos? Mati saja kalau mamanya tau. Tetap berangkat dengan baju yang semacam ini? Tentu akan jadi bahan tertawaan satu Trunajaya dan yang lebih parah masuk dalam Trunajaya fm. Radio sekolah sialan yang sudah mirip acara rumpi di TransTv. Belum lagi nanti kalau dimuat di dalam tabloid Indonesia Barokah bagaimana?
"Liana," panggil seseorang.
Liana mendongakkan kepalanya menatap siapa yang memanggilnya. "Rian," ya. Rian keluar dari mobilnya lalu menghampiri Liana yang sudah mirip gelandangan. Ngomong-ngomong so'al Rian, dia adalah teman satu angkatan Liana, hanya saja mereka beda kelas. Rian orangnya juga baik, mereka sempat jadi partner saat lomba di Depok, Bogor dan beberapa kota lainnya."Baju kamu kenapa?" tanya Rian menatap baju basah Liana.
"Eh enggak. Itu tadi ada orang naik motor ugal-ugalan. SIM nya nyogok kali!" mengibaskan tangannya di seragamnya lantas menatap Rian.
"Sebentar," Rian berjalan menuju mobil, entah apa yang akan dilakukannya.
Liana mengerutkan dahinya tatkala melihat Rian membawa sebuah jaket boomber berwarna hitam ditangannya.
"Nih! Kamu pake, biar enggak masuk angin. " menyodorkan jaket tersebut pada Liana.
"Serius lo? " tanya Liana memastikan.Rian tersenyum simpul. "Pakai aja."
***
Liana keluar dari mobil Rian, sontak saja semua pandangan tertuju padanya. Tumben-tumbenan saja, seorang Mrs. Judes Trunajaya dengan gampang ditaklukan. Bukankan ini keajaiban?"Terima kasih Ri,"
"Sama-sama. Aku duluan ya Na." setelah berpamitan pada Liana yang masih sibuk mengikat tali sepatunya, Rian akhirnya berjalan terlebih dahulu.
Liana kembali memasang earphone yang sempat ia lepas saat berada di dalam mobil Rian tadi. Ya karena Liana masih tau sopan saja! Masa numpang kayak tuan!Liana memicingkan matanya saat mendapati motor sport hitam yang tadi pagi telah membuat seragamnya kotor dan dirinya bak seorang gelandangan yang tak pernah bisa mengurus diri. Dasar sialan! Eh, tapikan motor begitu nggak satu, emangnya pabriknya bikin cuma satu? Ya jelas enggak lah!
Masa bodo, Liana merapatkan jaket yang Rian pinjamkan tadi untum menutupi seragamnya. Sambil berjalan lamban sambil menikmati alunan musik dari earphone miliknya. Seperti biasa, suara indah milik Adele yang menemaninya,sesekali ia terhanyut dan ikut bersenandung kecil. Beberapa murid ada yang tersenyum menyapa Liana, namun apa balasan Liana? Ia hanya tersenyum tipis setipis kulit lumpia. Untung saja, murid Trunajaya sudah kebal dengan sikap dingin Liana.
Liana menaiki tangga dengan santai. Namun, pada tangga teratas ia berpapasan dengan Bagas, Rafif dan Edo. Anehnya, Azka tak ada disana. Padahal, Liana sudah menyiapkan tatapan tajamnya setajam silet yang akan ia gunakan untuk menatap Azka. Entahlah, sejak saat anak itu mengolok dirinya kemarin, ia selalu naik pitam saat menyebut namanya.

KAMU SEDANG MEMBACA
PRIDE
Teen FictionBEBAS BACA TANPA RIBET! GAK ADA YANG DI PRIVATE Benci adalah awal dari kisah ini. Dan cinta akan hadir dengan sendirinya. Tulisan ini yang akan berbicara mengenang masa indah di SMA. Walau hanya sepatah kata, aku harap kau menyukainya.