Part 5 - Kebetulan Atau Jodoh?

1.8K 279 6
                                        

Aliya menatap antrian makanan mekidi di depannya yang masih lumayan panjang. Ia sudah kepalang lapar sehabis berbelanja kebutuhan toko kuenya. Ia memegangi perutnya kuat, mengapa magh yang ia miliki harus kumat di saat seperti ini sih? Mengganggu saja.

Masih dalam posisi memegangi perutnya, tanpa Aliya sadari, seseorang memegang pundaknya dari belakang, membuat Aliya menoleh.

"Loh, Mbak Aliya kan? Yang waktu itu main sama Sofi di rumah? Ayo gabung sama Ibu saja, daripada lama mengantre nya." Tawar seorang wanita yang Aliya rasa kenali. Oh dia ingat, wanita yang masih anggun di usia nya yang sudah lanjut itu adalah Ibu atau Mama dari Riska, Ocha, dan jangan lupakan pria yang sekarang ini tengah Aliya sukai, Dirga.

Aliya memilih mengiyakan ajakan Ibu tersebut karena tidak dapat menahan perih pada perut nya yang ia rasakan.

Sesampainya di meja makan, Aliya menemukan Dirga dan Ocha yang menatapnya heran namun masih memasang senyuman. Aliya cukup terkejut karena terdapat seorang lelaki paruh baya yang ia duga adalah Ayah dari Dirga dan Ocha, ia takut mengganggu waktu quality time keluarga mereka.

"Ayo duduk, Nak Aliya."

"Iya Bu, permisi." Aliya mengambil tempat duduk berhadapan dengan orang yang ia duga Papa Dirga. Ia  tersenyum ketika Papa Dirga menatapnya dengan tatapan menyelidik.

"Cantik calon istri kamu ya, Ga."

Uhuk uhuk

Dirga yang keselek, Aliya yang batuk-batuk. Cocok memang mereka ya, fikir Ocha yang tersenyum-senyum sendiri.

"Bukan Om, saya hanya baker langganan Tante Ani kok." Jawab Aliya seadanya.

"Masih soon to be, Pah." Godah Tante Ani kepada Dirga dan Aliya yang wajahnya sudah menyerupai kepiting rebus.

"Oh ya? Siapa namanya, cantik? Masa sama calon mantu gak kenal sih saya." Goda Papa Dirga pada Aliya.

"Saya Aliya om." Jawab Aliya singkat.

Aliya memasang senyumannya, memberikan kesan yang baik dihadapan keluarga yang hangat ini. Ahh, Aliya jadi merindukan rumah dan Ibu Ayah beserta Adik laki-lakinya yang bontrot.

Dirga berdiri menghampiri Mamanya, membantu membawa nampan berisikan makanan pesanan mereka. Aliya yang merasa tidak enak karena ikut menumpang makan dengan keluarga ini, akhirnya mengikuti Dirga untuk membantu membawakan makanan tersebut ke meja yang mereka tempati. Ocha menatap kedua nya yang kian menjauh berbisik dengan sang Papa.

"Pah, Mbak Aliya iku sering loh ketemu sama Mas Dirga. Ndak pake acara janji-janjian pula. Kira-kira itu kebetulan atau jodoh ya Pah?"

"Papa sih berharapnya clue yang kedua Dek. Papa merasa klop  ngeliat mereka. Berasa ngeliat Papa Mama versi muda." Jawab sang Papa dengan senyum penuh pengharapan.

Setelah kembali membawa makanan, mereka berlima menikmati makanan tersebut dengan khidmat. Papa Dirga lalu membuka percakapan kepada Aliya seusai makanan di meja telah habis.

"Aliya kerja di bakery?"

"Oh iya Om, kebetulan bakery sendiri jadi bisa sambil santai kerjanya."

"Hebat dong ya Aliya. Jago masak, jago ngatur keuangan, ya kan Pah? Tipe wanita idaman banget." Sahut Mama Dirga sembari melirik Dirga yang dari tadi hanya diam menyimak.

"Aliya modalnya untuk buat kue biasanya berapa sih? Tante kepo. Siapa tau bisa bikin bakery kaya Aliya juga."

"Awalnya saya cuma jualan online biasa tante, terus cari kerja tambahan jadi pegawai atau karyawan, gajinya saya kumpulin buat mulai usaha. Alhamdulillah dua setengah tahun menabung sudah mulai usahanya,"

My WeddingCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang