Sudah hampir satu jam Aliya menunggu di depan rumahnya untuk berpartisipasi di acara pernikahan salah satu sepupu Riska.
Dari jam 6 pagi, ia telah mengenakan kebaya merah burgundy dengan sepatu hak setinggi hampir 5 cm. Celakalah Aliya yang jarang sekali memakai sepatu hak tinggi, apalagi setinggi itu, beruntung ia mempunyai ukuran kaki yang sama dengan Riska, alhasil Riska memberikan pinjaman sepatu kepada Aliya.
Wajah Aliya terlihat lelah mengantuk karena tak dihiasi make up sedikitpun karena nanti akan dipoles oleh penata rias.
Aliya menghembuskan nafas lega ketika bunyi klakson mobil terdengar. Benar saja, keluarga Dirgantara dengan mobilnya telah tiba.
Tanpa berlama-lama, Aliya masuk kedalam mobil milik keluarga Dirga. Ia menemukan dua adik perempuan Dirga yang duduk di kursi tengah ditemani Sofia yang sepertinya masih tampak mengantuk, dan juga orang tua Dirga yang duduk di kursi depan, serta tiga gadis seumuran Ocha yang duduk di kursi belakang.
Penyakit yang Aliya miliki mulai kambuh. Seperti biasa, jika dalam suasana yang menurutnya menegangkan, perutnya pasti akan terasa mules. Berada di tengah keluarga kecil Dirga saja sudah membuat Aliya terlihat kikuk, bagaimana jika nanti berada di depan keluarga besar mereka?
Ayolah Aliya, disini ia hanya menjabat sebagai seorang teman yang dimintai tolong oleh Riska, bukan sebagai seseorang yang memiliki hubungan spesial dengan Dirgantara.
"Mbak, namanya siapa?" Tanya seorang gadis bermata bulat.
"Saya Aliya. Kamu sendiri namanya siapa?" Tanya balik Aliya.
"Saya Jihan, Mbak. Yang badannya paling tinggi itu namanya Yana, terus yang senyumnya mirip Mas Dirga itu namanya Jeni." Jelas Gadis bernama Jihan.
Aliya tersenyum kikuk mengiyakan penjelasan gadis bernama Jihan itu.
"Ndausah canggung ya, Aliya. Anggap aja seperti keluarga sendiri. Kamu gak tau gimana hebohnya mereka nanti kalo sudah ngumpul." Ujar Mama Dirga.
"Yah, kirain Mbak Hena yang ikut, ternyata bukan toh." Celetuk gadis Dengan tubuh paling tinggi.
"Yana, enggak usah cari yang gak ada." Tegas Riska yang tengah menimang gadis kecilnya.
"Yang harusnya gak ada kan Mbak ini, gimana to." Celetuk gadis yang bernama Yana. Sementara sepupu perempuannya yang lain ikut memperingati gadis itu dengan kode.
"Yana, cukup. Aliya sudah baik hati mau tolongin kita loh, dimana rasa terimakasih kamu itu." Tegas Papa Dirga yang sepertinya ikut kesal dengan sikap gadis itu kepada Aliya. Yang Aliya tangkap, sepertinya gadis itu tidak menyukai kehadiran dirinya diantara mereka, entah sebabnya apa, jelas saja dari tatapan gadis itu yang sangat sinis hanya padanya.
Tak terasa mereka sudah sampai di hotel tempat akan dilaksanakannya acara resepsi pernikahan. Para wanita langsung diantar menuju ke ruang rias untuk segera dirias wajahnya. Aliya memperhatikan pengantin wanita yang sedang dirias, tampak begitu cantik, kalau tidak salah, namanya adalah Yasmin. Ia sendiri heran, mengapa keluarga ini dipenuhi banyak wanita dan pria yang rupawan.
"Aliya sini, sini."
Aliya bergegas menghampiri Mama dari Dirgantara.
"Iki sing dakcritakake ing dina iku, asmane Aliya. Aliya, Kenalin, iki Budhe, Pakdhe nya Riska, yang itu Bule, Paklenya Riska. " Cecar Mama Dirga tersebut.
"oh iki yang kamu ceritain? ayu ne, Masya Allah."
"Iki loh bakal mantu lanang." Ujar Mama Dirga berbangga diri.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Wedding
De TodoPertemuan singkat yang berakhir dengan akad💙 "Ga, kalo kamu mau kenalin calon istri kamu ke Mama, Pastikan dulu dia sudah baik dan bener. Kalo enggak, ya nanti Mama carikan aja deh." - Mama Dirga, 2019
