Aku mendapat dua kali pesan misterius itu. Pesan yang hanya menunjukkan emoji ketawa.
":D"
":D"
Aku cukup penasaran, namun ku tunda semua itu untuk bertemu Tsana yang kemarin membuatku cemas dengan pernyataannya.
"Tsana!" Kali ini aku memanggilnya dari pintu utama kelasnya. Dia langsung merespon panggilanku.
"Oh Amei! Sini masuk!" Ajaknya padaku, mempersilahkan masuk. Tapi aku tidak berani masuk takut bertemu si Faris.
"Kita ngobrol di teras aja ya, Tsan!" Ajakku untuk lebih baik berbicara di teras, demi menghindari Faris. Tsana sama sekali tidak mempermasalahkan ajakanku. Ia pun langsung mengikutiku duduk di teras kelasnya.
"Ada apa? Kok muka kamu aneh gitu?" Tanya Tsana heran melihatku celingak celinguk gugup melihat sekitar teras.
"Ih ini tuh gara-gara telepon kamu kemarin. Aku gak mau ketemu dia!" Jelasku pada Tsana, sedikit kesal.
"Wkwk. Kamu ini kenapa sih Mei. Ada yang suka malah kikuk begitu, kan harusnya seneng dong!" Amei langsung mengerti arah pembicaraan kali ini.
"Dih malah meringis lagi, mak lampir!"
"Haha. Enak aja mak lampir! Padahal banyak yang bilang aku mirip Song Hye Kyo loo!"
"Itu yang ngomong harus pakek kacamata! Wkwk"
"Dasar nyebelin kamu Mei! Eh iya aku belum ngomong ini sama kamu"
"Apaan?"
"Aku udah kasih nomor kamu ke Bima. Maaf ya! Maaf banget! Habis aku capek dia gangguin aku terus gara-gara minta nomor kamu. Maaf, please!"
"Ha? Bentar.. bentar deh" Aku terkejut mendengar kalimat Tsana barusan. Aku masih berusaha mencernanya.
"Duh maaf deh Mei! Maaf ya!" Rengek Tsana memohon padaku.
"Bima?" Aku menyebutkan nama yang ada di kalimat Tsana tadi.
"Iya, Bima. Yang dulu kita pernah ketemu di halaman. Dia yang naik sepeda itu lo Mei!"
"Kok Bima sih Tsan? Bukannya kemarin kamu bilang yang minta nomorku si Tegar?" Tanyaku masih bingung.
"Ya iya. Si Tegar kan panggilan usil kita ke Bima"
"What! Jadi bukan Faris?"
"Faris? Ya bukanlah Mei. Emg kenapa Faris?"
"Aku kira si Tegar itu Faris. Gila! Aku selama ini sampe selalu sembunyi kalau ketemu Faris. Jadi selama ini aku sembunyi-sembunyi gak jelas sama orang yang gak tau apa-apa?! Sumpah aku malu banget!"
"Wkwkk. Ya ampun Mei. Kamu tuh lucu banget deh. Kalau gak tau kenapa gak tanya ke aku sih. Sumpah lucu banget bayangin kamu ngumpet salah sangka begitu. Wkwk!" Tsana tidak berhenti menertawai kelakuanku itu.
Akhirnya Tsana menceritakan semuanya kepadaku. Ketika aku memanggil Tsana di ruang ujian kala itu, Bima mengetahui keberadaanku. Anak itu memang tersenyum padaku, tapi aku sama sekali tidak mengerti apa arti senyum itu. Kemudian tidak disangka ia langsung menanyakan nomor HP ku kepada Tsana. Aku tidak tahu harus percaya dengan cerita Tsana atau tidak. Bagiku ini bukan FTV atau sinetron yang bisa memunculkan ketertarikan konyol yang super kilat itu.
Setelah pulang ke asrama hari ini aku langsung menghempaskan tubuhku di atas kasur. Menghela nafas panjang, karena hari ini banyak ulanganku yang harus remidi. Tanpa terasa aku tertidur sesaat.
#
Sore itu setelah membersihkan diri dan menuntaskan ibadah bersama di asrama. Aku kembali ke kamar. Aku melihat HP ku tergeletak di lantai. Berniat memindahkannya, aku mengingat sesuatu. Pesan misterius itu. Ingin melunasi keingintahuanku dengan nomor ini, akhirnya aku meneleponnya dengan private number, agar nomorku tidak terlihat di layar HPnya. Beberapa detik aku menelepon, panggilan itu langsung diangkat.

KAMU SEDANG MEMBACA
Isyarat
RomanceKisah roman biasa. Kisah tentang seorang siswi SMA yang memiliki krisis percaya diri akut. Amei begitu tertutup akan tetapi ia berusaha terlihat normal seperti gadis seusianya. Apa yang terjadi ketika ia bertemu dengan seorang player kelas kakap yan...