Si Cinta Lama Belum Kelar.

9 1 0
                                    

"Apa kamu mau kembali padaku?"

Mendengar kalimat itu dari Bima, membuat nafasku tertahan. Jantungku seperti berhenti bekerja sejenak. Anehnya setelah mengucapkan itu Bima bisa melanjutkan aktivitas menulisnya. Sedang aku masih membeku, tak mengerti situasi. Bahkan tanganku masih dia genggam dengan erat.

"Kenapa begitu mudah bagi dia mengucapkannya? Dan kenapa begitu mudah juga bagiku untuk jatuh hati lagi dengannya?" Batinku.

"Bim lepasin tanganku, aku mau nulis." Tegurku padanya.

"Punyamu biar aku kerjakan juga." Jawabnya singkat.

"....."

Aku diam tak merespon. Saat ini seperti nyata. Dia seperti benar-benar menyukaiku. Bolehkah aku menjalaninya sekali lagi?

"Apa aku begitu serakah?" Gumamku pelan. Kemudian dia menengok melihatku. Menatapku sekali lagi dan mengeratkan genggaman. Lalu kembali menulis.

Beberapa menit kemudian timeline dan rancangan rundown itu telah selesai. Bima menengok ke arahku lagi. Seperti mengerti apa yang ia isyaratkan, aku mengikuti berdiri ketika ia berdiri. Aku berjalan keluar bersamanya, masih dengan genggaman yang tak dilepaskannya sedari tadi. Kini kami sudah berada di parkiran motor.

"Aku antar kamu pulang ya. Besok pagi aku jemput. Dan seterusnya begitu."

"Tapi Bim-"

"Ayo naik." Potongnya.

Aku berusaha menolak, mengeluarkan sisa-sisa kesadaranku agar tak terlena. Namun entah mengapa pada akhirnya aku selalu menuruti apa yang Bima katakan. Ia mengantarku pulang.

***

"Pagi yang tersayang :*" Dari Bima.

Aku mengerjapkan mata melihat isi pesan itu. Sekarang dia memanggilku sayang? Apa kemarin aku benar-benar balikan? Sebenarnya aku curiga kalau pesan ini pesan broadcast yang artinya dia tidak mengirim hanya padaku. Tapi dengan segala kesadaranku itu, aku tidak bisa membohongi diriku. Aku senang menerima pesan ini.

"Sepertinya aku sudah gila." Aku menghelas nafas kasar. Kemudian membalas pesan itu.

"Iya, pagi. Ada apa Bim?"

"15 menit lagi aku sampe di depan."

"Hah? Dia benar-benar menepati perkataannya kemarin?" Menyadari itu aku segera turun dari kasur. Bersiap untuk berangkat sekolah bersama Bima, si cinta lama yang belum kelar.

15 menit kemudian Bima benar menepati ucapannya. Ia kini telah berada di hadapanku dan membunyikan klakson motor. Aku langsung naik ke motor itu.

Di perjalanan kami sangat canggung. Aku juga memberi jarak yang agak longgar ketika duduk dibelakangnya. Aku masih takut jika ini tidak nyata. Aku tidak siap jika kali ini Bima membohongiku lagi. Aku menghembuskan nafas kasar untuk mengakhiri kekhawatiranku kali ini.

***

Siang ini Amei dan temannya di OSIS sibuk mempersiapkan kegiatan MOS. Pada kegiatan itu Amei mendapat posisi bendahara kegiatan, sehingga ia harus segera menyelesaikan proposal dengan pengurus inti kegiatan lainnya. Sedangkan anggota lain pulang setelah rapat selesai.

"Sepertinya aku tidak bisa pulang bersamanya hari ini." Batin Bima yang melihat Amei begitu serius mengerjakan proposal anggaran. Lalu ia mendekatkan diri dengan orang yang ia anggap telah menjadi kekasihnya kembali itu.

"Beb, aku pulang duluan ya." Pamit Bima sambil mengelus pelan kepala Amei, seolah memberi semangat. Amei sangat terkejut dengan sentuhan Bima yang tiba-tiba. Tadinya ia akan reflek menepis tapi ia mengurungkan niatnya menyadari Bima lah yang mengusap kepalanya. Amei membeku seperti biasa. Melupakan jika kejadian itu disaksikan teman-teman OSIS nya yang masih berada di sekret saat ini.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 04, 2019 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

IsyaratTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang