Maap yaaa readers. Selama ini ceritanya masih tentang sifat Bima yang suka nyeleweng, part Bima dan Amei jadi cuma sedikit. Tp yg aku temui di beberapa kisah emang playboy tuh begitu. Doakan saja semoga cerita ini tidak membosankan. Buat yang setia baca lup yu 😘.
***
Malam ini aku merasa aneh. Aku tidak bisa tidur hingga lewat tengah malam. Dadaku terasa sesak. Air mataku menetes perlahan. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan diriku. Aku hanya ingin menangis sekarang. Hingga mataku terpejam lelah dengan sendirinya.
***
Esoknya.
Sudah jam 10 malam. Sebentar lagi semua HP dikumpulkan. Aku meraih ponselku untuk mengatur daya mati. Tiba-tiba satu pesan masuk. Pesan dari ibu.
"Nduk, kemarin ibuk sama adikmu kabur dari rumah. Ibuk bertengkar dengan bapak lagi. Ibuk ngabari takut kamu nyari ibu di rumah. Tapi kamu nggak usah khawatir, ibuk nginep di rumah teman ibuk sekarang."
Membaca pesan ibu membuat dadaku merasakan nyeri. Belum sempat membalas, ponselku sudah di raih oleh pengurus asrama yang kini sudah ada di kamarku.
"Mbak aku boleh pake sebentar, ada hal penting." Pintaku pada pengurus itu.
"Maaf sudah jam 10 tepat. Aku tidak bisa memberikannya. Ini sudah waktunya tidur." Jawab pengurus itu dengan dingin. Ia kemudian meninggalkan kamarku.
"Astaga bagaimana dengan ibuku? Pertengkaran apa lagi kali ini?"
Hatiku mulai merasa tidak tenang. Sejak kecil bapak dan ibuku memang sering bertengkar. Mungkin sejak aku masih balita, entah kenapa ingatan itu samar-samar namun selalu tersimpan baik dalam otakku. Aku melihat ibu menangis saat itu, aku menghampirinya kemudian beliau memelukku dengan masih terisak.
Semakin hari aku tumbuh, kemudian memiliki dua orang adik. Bapak dan ibu juga masih bertengkar di tiap tengah malam tiba. Aku selalu terbangun mendengarkan pertengkaran mereka dari kamar. Aku melihat adik-adik kecilku yang tengah tidur, aku menutupi telinga mereka. Memastikan agar mereka tidak mendengar apapun dan tidak terbangun. Semakin keras nada pertengkaran itu membuatku menangis tanpa suara. Aku sangat bersedih saat itu, namun ketika bapak membuka pintu kamarku, aku berusaha pura-pura tidur kembali.
"Apa ibuk dan adikku sudah makan? Apa tidur mereka nyenyak?" Pertanyaan itu lolos dari bibirku. Air mataku menetes begitu saja. Aku tidak bisa berhenti memikirkan mereka.
***
Sehari setelah ibuk mengirimi pesan padaku. Di pagi hari aku mendapat pesan lagi dari ibu.
"Nduk, semalam ibuk pulang untuk melihat adikmu yang di rumah. Ibu khawatir mereka belum makan. Tapi ibu ketahuan bapakmu kalau ibu pulang. Bapakmu yang penuh amarah akhirnya menarik ibuk dan memukuli ibuk. Maafkan ibuk Nduk, sepertinya ibuk sudah tidak kuat lagi."
Kini pipiku sudah berlumuran air mata. Satu persatu tangisan diamku semakin menjadi-jadi. Aku mulai terisak. Tak dapat mengucap sepatah kata pun. Aku ingin teriak! Kenapa harus terjadi kekerasan seperti ini. Menyakiti hatinya bahkan tidak cukup kini ia juga harus terluka secara fisik. Kecewa, amarah, kepedihan menjadi satu dalam diriku.
Aku masih terisak tak berhenti. Tanpa kusadari Hima sudah masuk ke kamarku sekarang.
"Amei! Amei kamu kenapa?" Tanya Hima khawatir melihat keadaanku.
Aku tak bisa mengatakan apa pun. Hanya terisak. Tangisku tak bisa ku berhentikan. Semakin ku coba semakin terasa sakit dan sesak di dalam dadaku saat ini.
Melihat keadaanku yang sangat buruk, Hima memelukku. Menepuk pelan bahuku, membiarkan aku mengeluarkan tangis.
30 menit kemudian aku sudah membaik. Aku dan Hima berangkat ke sekolah. Tepat bel masuk berbunyi aku dan Hima sampai. Aku hanya diam sejak kejadian itu.

KAMU SEDANG MEMBACA
Isyarat
RomanceKisah roman biasa. Kisah tentang seorang siswi SMA yang memiliki krisis percaya diri akut. Amei begitu tertutup akan tetapi ia berusaha terlihat normal seperti gadis seusianya. Apa yang terjadi ketika ia bertemu dengan seorang player kelas kakap yan...