Pagi ini aku membuka mata disambut dengan gambar yang tertempel di dinding kamar. Gambar itu tidak cantik sih, tapi juga tidak buruk. Karena Bima seorang Outsider kemarin hadiah vanlentine ia memberiku gambar seorang ladyrose lengkap dengan tanda tangannya. Aku tidak tahu apa maksudnya, mungkin karena Outsider dan ladyrose penggemar SID yang tak terpisahkan. Aku hanya akan menyimpannya karena pacarku itu telah berusaha memberiku hadiah ini. Aku senang setidaknya dia telah berusaha.
Aku juga akan membalasnya. Aku sudah menyiapkan gambar yang tidak seberapa bagus sih, tapi aku juga ingin berusaha. Aku menggambar seorang perempuan yang sedang melihat lelakinya melalui jendela. Dengan ini aku berharap Bima mengerti meski tak selalu berada dekat aku selalu memperhatikannya dari jauh.
..........
Jam istirahat aku memberanikan diri ke kelas Bima. Tsana memanggilkannya untukku. Aku melihat ke sekeliling untuk memastikan situasi aman, karena takutnya ada pengurus asrama yang lewat, hingga kini peraturan asrama tidak membolehkan untuk berkencan. Bima tiba-tiba muncul dari dalam kelas, karena terkejut aku langsung sembunyi di balik bunga pucuk merah berukuran besar di depan teras kelas x2. Seperti biasa jantungku selalu berdegup kencang jika melihat wajah Bima. Tapi kali ini aku berusaha memberanikan diri.Ku intip Bima yang sibuk mencariku. Aku memanggilnya pelan.
"Bim.." Panggilku pelan.
"Bim.." Panggilku sekali lagi sembari sedikit melambaikan tangan dari balik bunga pucuk merah. Akhirnya dia melihatku dan berjalan menghampiri.
"Kamu ngapain disini? Kenapa nggak.."
"Ssstt!" Potongku. Aku menyodorkan kertas gambarku.
"Apa ini?" Tanya Bima. Ia berniat membukanya.
"Eehhh jangan di buka sekarang?" Cegahku karena merasa malu.
"Kenapa?" Tanya Bima heran.
"Kamu boleh membukanya ketika aku sudah pergi." Jawabku malu-malu. Melihat tingkahku Bima tersenyum dan mengelus pelan kepalaku.
"Baiklah. Terimakasih." Mendengar ucapnya yang pelan aku semakin tersipu. Wajahku memanas, sepertinya sudah berwara merah. Tak dapat menahannya akhirnya aku segera pergi sebelum Bima melihatnya.
"Aku pergi dulu." Pamitku sambil berlari pelan meninggalkan Bima.
Tidak disangka melakukan ini sudah seperti uji nyali. Ini pertama kalinya untukku. Aku bahkan tidak mau tahu bagaimana respon Bima melihat gambarku nanti, yang terpenting aku telah memberikannya. Itu membuatku lega.
#
Seminggu ini hari-hariku cukup melelahkan karena sudah tiba saatnya untuk semua kelas x menuntukan jurusan di kelas xi nanti. Aku sendiri bingung mau pilih masuk IPA atau IPS. Kemarin tes TPA juga telah dilakukan serentak. Aku menjawab seadanya. Hasil tesnya nanti akan menunujukkan bakat dan minat yang dimiliki siswa yang mengerjakannya. Entahlah apa hasil tes itu nanti aku akan coba mempertimbangkannya.
Aku berjalan menuju kelas usai dari kamar mandi. Tiba-tiba banyak perempuan di kelasku melihat ke arahku saat hendak masuk ke kelas. Aku tidak mengerti apa yang terjadi. Ada yang melihat dengan senyum manis, ada yang tersenyum sinis, ada juga yang diam melihat saja. Kemudian seorang perempuan dengan senyum masam memanggilku.
"He Mei!" Namanya Gita. Dia perempuan berwajah mungil dan berparas cantik. Dia memang seperti tidak terlalu suka kepadaku. Beberapa hari lalu dia pernah mengejek tasku karena terlihat kekanak-kanakan. Tapi aku hanya diam tak membalas, tak memperdulikannya. Aku sudah terbiasa dengan intimidasi seperti itu.
"Pacarmu tidur di kelas tuh!" Lanjutnya. Aku hanya melihat ke arahnya tanpa menjawab.
"Bangunin tuh pacar kamu!" Serunya. Aku kemudian melihat ke pintu kelasku dan Bima yang terbuka. Ternyata Bima sedang di buli karena tidur di kelas, tapi itu hanya bercanda saja. Ku lihat Bima juga sedang tersenyum ketika bangun dari tidurnya. Setelah memastikan itu aku terus berjalan ke mejaku tanpa membalas seruan Gita.

KAMU SEDANG MEMBACA
Isyarat
RomanceKisah roman biasa. Kisah tentang seorang siswi SMA yang memiliki krisis percaya diri akut. Amei begitu tertutup akan tetapi ia berusaha terlihat normal seperti gadis seusianya. Apa yang terjadi ketika ia bertemu dengan seorang player kelas kakap yan...