Y/n's POV.
Kayak yang udah dibilangin sebelumnya, sekarang Ayen bakal ngomong sesuatu sama gue. Gue juga gak tau dia bakal ngomong apaan. Dia juga gak bilang mau kemana. Tapi daripada gue penasaran, mending gue ikutin aja dia mau kemana.
Tiba-tiba dia berhenti di suatu tempat. Tempat yang persis kayak ada di mimpi gue. Bangku taman sekolah. Bahkan dari banyaknya bangku di taman ini, dia pilih yang sama kayak di mimpi gue.
"Duduk dulu,"
"Lo mau ngomong apa sih? Kok serius banget. Tumben banget lo kayak gini" tanya gue heran.
"Ehmm-mm jadi gi-gini. Aduhh gimana cara ngomongnya yah"
"Apa sih? Kalo ngomong tuh yang jelas Yen. Gue gak ngerti"
"Ja-jadi gini----"
"Iyaaa---- gimana?"
"Gu-gue suk-suka sama--"
Fix ini mirip banget. Gue juga jadi deg-degan gini lagi.
Tiba-tiba lagi Ayen natep gue, dalem banget. Gue makin bingung.
"Tapi sebelumnya lo harus janji dulu sama gue" kata Ayen.
"Iya janji apa?"
"Janji harus mau"
"Mau apa?" Gue makin bingung.
"Udah janji dulu aja"
"Iya oke! Gue janji" ya udahlah yah, daripada kelamaan, mending gue iyain aja.
"Gu-gue suka sama Dhella. Lo mau ya bantuin gue supaya bisa deket sama Dhella. Ya mau ya!! Pliss bantuin gue!"
DEG!
Satu.
Dua.
Tiga.
Rasanya kayak ada sesuatu yang patah gitu. Sakit tapi tak berdarah.
"O-oh lo mau ngomongin itu..... kirain apaan" kata gue sambil senyum canggung.
Yah gak bisa gue pungkiri, bahwa dulu juga gue sempet suka sama Ayen. Bisa dibilang dia itu cinta pertama gue. Waktu dia sama keluarganya mutusin pindah ke Amerika, gue sampe nangis berhari-hari dan gak mau keluar kamar sama sekali.
Tapi hari ini, saat gue baru aja berharap pengen bisa kayak dulu lagi, ternyata dia udah suka sama yang lain. Ternyata bener kata pepatah. Sesuatu yang pernah pergi terus kembali, maka semuanya gak akan pernah bisa sama kayak dulu lagi.
"Iya lo mau kan bantu gue?" kata Ayen dengan antusias banget.
"Gue bisa bantu apa? Lo kan lebih paham kalo soal begituan"
"Ihh ya lo bantuin gue deket sama dia lah. Yayayaya bisa kan?"
"O-oke"
"Yeaaayyyyy!! Makasih y/n lo emang sahabat terbaik gue" Ayen tiba-tiba meluk gue dengan muka yang bahagia banget.
Andaikan aja Ayen sebahagia ini karena bisa pacaran sama gue. Haha tapi itu cuman ekspektasi gue doang. Realitanya gue harus relain cowok yang gue suka demi sahabat gue sendiri.
Tapi seandainya cowok yang gue suka bisa lebih bahagia dengan orang lain, yah gue bisa apa? Gue cuman bisa ikut bahagia sambil masang topeng kepura-puraan gue. But it's okay.
.
.
.
.
.
Author's POV.
Setelah itu, y/n dan Ayen kembali lagi ke kelas. Keadaan kelas sepi. Semua anak-anak sedang istirahat di kantin. Di kelas hanya ada Guanlin dan Dhella yang sedang membahas materi. Mereka berdua terlihat dekat. Dan Guanlin pun terlihat biasa saja. Tak sedikitpun ekspresi dingin Guanlin ditunjukkan pada Dhella. Bahkan sesekali Guanlin tersenyum tipis saat Dhella mulai mengerti mengenai materi yang ia jelaskan.

KAMU SEDANG MEMBACA
BOBROK - Guanlin
Fanfiction"Bisa diem gak sih?!" - Guanlin "Hahh diem? Sorry dorry morry, gue bukan patung ataupun manusia es macem lo" - yn ❗WARNING❗ • Bahasa kasar • No plagiat-plagiat • Jika ada typo, mohon dimaklumi yaw:))