Setelah Guanlin dan y/n melewati perdebatan tentang siapa yang akan memakai jaket, akhirnya mereka memutuskan untuk tidak ada yang memakainya.
Jadi setelah Guanlin memberinya, y/n tidak begitu saja menerima. Dia juga tidak mau egois. Jika Guanlin harus kedinginan, maka dia juga tidak berhak merasakan hangat.
Guanlin sempat kesal sendiri melihat y/n yang terus saja menolak. Padahal dia tau cuaca sedang tidak baik. Maksudnya kenapa y/n tidak seperti gadis lainnya saja yang menerimanya dengan senang hati.
"Jangan ngeliat gue perempuan jadi lo kasian sama gue. Kita sama. Lo manusia, gue juga manusia. Kalo gue kedinginan, gue juga yakin lo ngerasain hal yang sama." Pernyataan y/n pada akhirnya hanya membuat Guanlin pasrah.
Guanlin menyadari suatu hal sekarang, y/n berbeda.
Disela perjalanan mereka, Guanlin tiba-tiba menarik tangan y/n. Kemudian menunjuk salah satu toko coffe di sebrang sana. "Kita mampir dulu kesana,"
"Ngapain?"
"Kalo lo gak mau pake jaket gue, berarti lo harus mau minum coffe di sana."
"Dih enggak ah!"
"Gue traktir." Y/n terlihat menimang-nimang tawaran Guanlin. Bukannya apa-apa y/n bukan penyuka coffe dengan rasa yang sangat kuat. Sejauh-jauhnya ia minum coffe, mungkin coffe vanilla latte. Itupun yang dijual kemasan, bukan seperti coffe yang di jual disana.
Y/n mengedarkan pandangannya. Dan tiba-tiba manik matanya menemukan sesuatu di ujung sana. "Lin! Itu aja." Tunjuk y/n pada kedai ice cream.
"Lo gila?!"
"Ya enggak lah!"
"Dingin y/n." Jawab Guanlin penuh penekanan.
"Ya gapapa, kalo gue maunya itu kenapa?"
"Enggak."
"Cari yang lain atau gue gak jadi traktir,"'Ini kenapa Guanlin jadi berubah suka maksa gini sih?! Biasanya juga gak perduli gue mau ngapain.'
Y/n hanya merengut kesal dan melipat tangan di depan dada. "Ya udah apa aja deh, asal jangan coffe." Pasrah y/n.
"Oke, kesana." Akhirnya Guanlin mengajak y/n pada restoran bergaya vintage yang berada tepat di sebelah kedai ice cream.
"Lo mau pesen apa?" Tanya Guanlin seraya melihat-lihat papan menu di hadapan mereka.
"Gue mau... green tea!" Tunjuk y/n.
"Baik, panas atau dingin?" Tanya pelayan sambil mencatat pesanannya.
"Panas." Bukan y/n yang menjawab. Siapa lagi kalau bukan seseorang yang kini berdiri di sebelahnya.
"Lin! Gue kan maunya---"
"Dua, sama pancake cokelat dua."
"Terus take away aja.""Baik, ditunggu pesanannya." Jawab pelayan tersebut sambil pergi ke belakang.
"Kok gitu sih! Gue kan maunya green tea dingin." Ketus y/n sambil menatap Guanlin tajam.
"Enggak." Guanlin menatap y/n tak kalah tajam.
"Terus tadi lo pesen pancake dua buat siapa?"
"Lo kira? Masa buat gue dua-duanya?"
'Nah kan... mulai lagi maksanya. Gue kan gak minta!'

KAMU SEDANG MEMBACA
BOBROK - Guanlin
Fanfiction"Bisa diem gak sih?!" - Guanlin "Hahh diem? Sorry dorry morry, gue bukan patung ataupun manusia es macem lo" - yn ❗WARNING❗ • Bahasa kasar • No plagiat-plagiat • Jika ada typo, mohon dimaklumi yaw:))