Lee Jin Ho bangkit dari duduknya ketika mendengar windchime yang berbunyi dan pintu yang knopnya diputar. Itu dia. Gadis yang sudah beberapa kali dibujuknya agar bergabung dengan asosiasi akhirnya datang juga: ia, Lee Eun Bi.
Dalam sejarah pementasan drama di Korea, memang beberapa kali mereka berpikir untuk menambahkan sentuhan musik di dalamnya. Kim Woo Jin dan Yun Sim Deok pun bahkan pernah melakukannya. Mereka berkarya dan berjuang di panggung yang sama. Jin Ho mendengar bahwa ada satu siswa yang memang tertarik dalam bidang seni suara. Rekan-rekannya bilang, nyanyiannya tidak main-main. Beberapa kali laki-laki itu mencuri dengar nyanyian Eun Bi ketika ia sedang berlatih. Jin Ho mengakui: suara Eun Bi memang luar biasa. Ia kemudian mengusulkan nama Eun Bi pada Lee Minhyuk beberapa saat setelah mencoba meyakinkan gadis itu. Mereka sepakat untuk bertemu hari itu.
"Lee Eun Bi-ssi..." panggil Jin Ho.
"Ah, ye, Jin Ho-ssi...eoh? Wae geuraeso-yo?" Pandangan Eun Bi teralihkan oleh sesosok laki-laki yang tertidur pulas di lantai. Ia mencermati baik-baik sebelum fokusnya kembali pada sapaan terhadap Jin Ho dan rekannya yang lain.
"Eh? Oh, itu Minhyuk. Lee Minhyuk. Gwenchana, dia sedang tidur. Kemarilah..."
Eun Bi mengangguk, namun ekor matanya masih menatap Minhyuk lekat-lekat. Ia duduk di antara Young Mi dan Tomoda yang tengah melirik satu sama lain. Disapanya kedua orang itu sebelum akhirnya memperkenalkan diri.
"Perkenalkan, aku Lee Eun Bi..." ungkapnya. Eun Bi menatap satu per satu orang yang ada dalam gedung asosiasi. Ia melempar senyum, ia mengantarkan sebuah perasaan lain yang muncul ketika melihat wajah-wajah mereka.
"Asosiasi?" tanya Eun Bi.
"Ya.ini adalah asosiasi yang dibuat oleh murid dari Joseon dan mereka adalah murid-murid yang mandiri," jelas Lee Jin Ho. Siang itu mereka berjalan bersama usai jam sekolah selesai, "Mereka meminta kami tampil di Joseon selama liburan musim panas mendatang," lanjutnya.
"Apa tujuan dari pertunjukan itu?" Eun Bi menatap Jin Ho dengan wajah serius.
"Tujuan asosiasi ini adalah menggalang dana untuk membangun aula. Tujuan kami adalah mempromosikan drama baru dan musik barat sekaligus membuka pemikiran orang-orang (Korea)," jelasnya lagi.
"Bukankah itu sedikit berbahaya?" Eun Bi menghentikan langkahnya. Memorinya memutar cepat pada waktu itu: waktu ia berpisah dengan Lee Changsub di luar pengadilan; waktu ia tak pernah bertemu kakaknya pascakejadian itu. Sedikit ragu, Eun Bi kemudian menjelaskan bahwa dirinya tak yakin bisa berpartisipasi. Gadis itu hanya ingin menyanyi. Hanya ingin menyanyi.
"Untuk sekarang, kau boleh datang saja. kau putuskan setelah melihatnya, Eun Bi-ssi." Jin Ho menyerahkan secarik kertas berisi alamat gedung asosiasi: 8-4 Totsuka, Shinjuku, Tokyo, Jepang.
"Lee Eun Bi?" Sebuah suara menyambut perkenalan singkat Eun Bi. Semua orang dibuatnya terperangah. Lee Minhyuk sudah duduk dan mengamati rekan-rekannya dari sana.
"Perhatikan. Perhatikan bagaimana cinta meluluhkanmu. Saat kau meremehkan cinta sebagai hal mustahil kecuali sebagai hal yang lembut, kau telah melakukan kesalahan. Cinta adalah sesuatu yang kau gunakan demi kesenanganmu. Mencintai berarti akan merasa luluh dengan tidak tanggung-tanggung..."
"Takeo Arishima."
Mendengar nama itu disebut, Lee Minhyuk menghentikan bacanya. Ia menoleh ke arah suara dan mendapati seorang gadis berdiri dekat daun pintu, gadis berambut ikal hitam, mengenakan rok hitam, berpantofel licin.
"Aku tidak setuju pendapat itu. Bagaimana ia mengatakan soal cinta dan luluh demikian? Saat kau jatuh cinta, kau takkan bisa ditolong. Cinta sejati berarti memberi dengan tak peduli apa pun yang terjadi. Ah, kenapa kau baca buku Jepang dalam bahasa Korea?" Lee Minhyuk yang sejak tadi menatap tajam pada Eun Bi kemudian menghampiri gadis itu.
"Kau... siapa?"
"Ah, oh, eh? Maaf, aku tak sengaja mendengarmu membaca. Aku permisi..." Eun Bi menyadari bahwa dirinya barangkali sudah ikut campur dalam urusan orang lain. ia mohon diri, untuk pergi.
"Minhyuk-ah? Lee Minhyuk, gwaenchana?" Minhyuk mengangguk dan tersenyum. Ia terlihat lebih hidup sekarang.
"Oh, yah, Minhyuk-ah, ini Eun Bi. Dia jurusan Musik Vokal di Sekolah Musik Ueno. Eun Bi-ssi, ini Lee Minhyuk. Dia mengambil jurusan Sastra Inggris di Universitas Waseda." Jin Ho saling memperkenalkan keduanya. Ia tak yakin atmosfer apa yang tengah menyelimuti ruangan itu, yang pasti tiba-tiba suhu di dalam memanas.
"Senang bertemu denganmu," ujar gadis itu.
"Aku tidak demikian." Mendengar jawaban Lee Minhyuk, semua orang menoleh padanya. Mereka pun kemudian menyadari bahwa keduanya pernah bertemu, jauh sebelum hari ini. Tatapan mata Minhyuk pada Eun Bi menjelaskan semuanya.
"Kudengar kau berbakat dalam akting. Aku bahkan mendengar kau berakting dengan drama baru. Aku mau kau tampil bersama kami." Tanpa ekspresi, Lee Minhyuk menyampaikan maksudnya. Meski ia mengaku tak senang atas perjumpaan (awal) mereka, Minhyuk tak bisa mengabaikan fakta bahwa dirinya dan kelompok asosiasi membutuhkan Lee Eun Bi.
"Kau mau aku tampil setelah semuanya ini? Maaf, aku tidak punya waktu untuk hal seperti itu." Eun Bi beranjak. Ia hendak pergi. Awal pertemuan yang aneh takkan pernah bisa membuat hatinya lapang untuk menerima hal-hal baru yang akan terjadi selanjutnya.
"Jika kau orang Korea, bukankah seharusnya kau melakukan apa saja demi negaramu? Kau akan mengabaikan negaramu supaya kau bisa hidup baik-baik?" tanya Minhyuk sarkasme.
"Negara kita sedang kacau, jadi aku setidaknya harus menjalani kehidupan yang baik. Lagipula, tahu apa Minhyuk-ssi soal 'mengabaikan negara'?" Suara Eun Bi bergetar. Lagi-lagi wajah Lee Changsub terbayang dalam ingatannya. Mengabaikan negara? Ia bahkan tak punya pilihan, hendak mendukung atau justru mengabaikan negaranya. Di luar sana, Changsub dan beberapa orang Korea lain dituntut untuk berperang atas nama Prajurit Kekaisaran Jepang. Minhyuk bicara tanpa tahu fakta, batinnya.
"Ya, itu terserah kau saja..." Pemuda itu memalingkan wajah, lalu bergumam lagi, "Lagipula setelah mengetahui kau dari jurusan mana, aku sangsi..." Eun Bi menatap tajam pada Lee Minhyuk. Keterlaluan. Ia lelaki yang tak punya perasaan.
"Baiklah. Aku akan melakukannya. Tapi aku punya dua syarat. Pertama, aku hanya akan menyanyi. Kedua, jika pada pertengahan latihan atau pertunjukan apa pun itu aku mendapat bahaya, maka aku akan berhenti saat itu juga. Sekian. Aku pergi dulu..." Eun Bi melempar senyum terakhirnya pada seluruh anggota yang ada di sana tanpa melirik Minhyuk sedikitpun kemudian jejaknya menghilang di balik pintu gedung asosiasi.
"Lee Minhyuk, ya, kau gila, eoh?"
"Berarti, jika kita ingin bekerja dengannya, kita harus menyetujui kedua syarat itu? Woah,.." Young Mi menggelengkan kepalanya sebelum mengangguk beberapa saat kemudian.
"Menambahkan nyanyian dalam acara akan memperkaya acara itu sendiri. Lee Eun Bi akan bergabung dengan kita dalam latihan selanjutnya."
Pertemuan hari itu diakhiri secepatnya. Kelompok drama itu harus bersiap untuk latihan besok pagi. Beberapa properti panggung harus segera ditata sebagai sebuah simulasi. Minhyuk, ia hanya mengamati rekan-rekannya yang tengah sibuk berlari sana-sini menyiapkan segala hal. Di tangannya, sebuah pena mentereng klasik, sementara di genggaman lain, ia memegang buku karya Takeo Arishima sambil menggumam: Lee Eun Bi, seperti apa dia (?).
Note:
Uhhhhhh Sabtu malam minggu yang indah gaes... Bahagia rasanya bisa update di dua work sekaligus hari ini hewhewhw... Atau mungkin bakal di 3 work? #eh
Bicara soal part ini, apakah kalian sudah menyimpulkan sesuatu dari sini? Apakah terlalu awal untuk bertanya itu? Hehehehe...
Nantikan terus kelanjutan kisah Eun BI, dkk. See you 😉

KAMU SEDANG MEMBACA
[2019] SOMEDAY (Sequel of Hour Moment) ☑️
Historical Fiction#1 btob (04.05.19 - 04.06.19) Lee Eun Bi pada akhirnya tumbuh tanpa sosok Changsub, kakak yang paling ia sayangi. Sekitar tahun 1920-an akhir mereka terpisah. Kerusuhan yang terjadi akibat kecurangan Jepang atas lomba lari marathon terjadi secara ti...