SOMEDAY - 11. RENCANA PEMBERONTAKAN

53 13 0
                                    

Im Hyunsik duduk membelakangi Lee Eun Bi usai mengajak gadis itu keluar dari rumah dan berjalan menuju keramaian. Keduanya disekap sepi. Tidak satupun yang bersuara hingga pemuda itu mengawali percakapan canggung mereka kala matahari sudah terik. Di bawah pohon itu keduanya berusaha mengendalikan diri dalam emosi masing-masing.

"Aku tidak bisa melakukannya, Eun Bi-ah," ujar Im Hyunsik.

"Oppa..."

"Kau tidak mencintaiku dan aku tidak terlalu baik untukmu. Bagaimana mendeskripsikan ini? Aku tidak berpikir kita bisa bersama. Semua yang kita katakan beberapa waktu lalu hanya luapan emosi sesaat. Tapi jujur, aku memang menyukaimu...sudah lama. Maaf..." Hyunsik memainkan ranting-ranting kering yang berjatuhan dekat kakinya.

"Kenapa minta maaf? Kita bahkan tidak tahu akan jatuh cinta pada siapa." Air mata Eun Bi tak sengaja meluncur. Ia kembali teringat pada pertemuan di Mokpo: Lee Minhyuk, bocah kecil, dan seorang wanita dengan hanbok manisnya.

"Ya. Agaknya, ini cukup sulit. Kenapa kau menangis lagi, hm?" Meski tanpa melihat Eun Bi, Im Hyunsik tahu benar kalau gadis itu tengah menangis. Ia ingin melakukan itu juga, hanya saja ia berpikir bahwa kegiatan menangis sungguh tak cocok dengan dirinya.

"Geunyang...aku hanya sedang tak baik. Kau tahu kalau aku ini cengeng," katanya sambil mengusap bulir-bulir air mata yang berderai. Ia tersenyum pahit. "Hyunsik-Oppa sungguh tak mau mengikat hubungan denganku? Mumpung aku sedang patah hati," sambungnya.

Lama Im Hyunsik terdiam. Munafik memang jika ia mengatakan tidak mau mengikat hubungan dengan Eun Bi. Namun, gadis itu tidak tahu bahwa Im Hyunsik yang dikenalnya adalah Im Hyunsik yang lain. Hyunsik yang dikenalnya hanya tahu soal mi dingin, mencampur minuman di bar Carpe Diem, dan teman sepermainan. Ia tidak mengenal tangan kasar Hyunsik yang terampil membidik, bahkan sama sekali tak tahu gurat-gurat luka yang terukir di balik pakaian pemuda itu. Eun Bi tidak tahu.

"Kau patah hati karena Lee Minhyuk?" tebaknya.

"Ia sudah punya putri. Putrinya cantik. Istrinya menunggu di rumah selama ini..." Sekali lagi, gadis itu tersenyum.

"Jadi aku hanya pelarian saja?" tanya Hyunsik sambil terkekeh.

"Iya. Maaf kalau aku terlalu jujur, tapi aku tak mau berbohong dengan mempermainkan perasaan Oppa. Aku sangat murahan, ya?" ujar Eun Bi. Ada beberapa penekanan dalam kata-katanya, namun ia berusaha sekuat tenaga untuk membuat semua hal di sekitarnya menjadi nyaman.

"Bocah gila. Aku hanya tak mau membuatmu terluka, Eun Bi-ah. Hanya itu."

"Tolong hentikan aku untuk mencintai orang lain yang sudah memiliki keluarga. Awalnya aku dengan percaya diri memupuk perasaanku padanya. Tapi ini menjadi berubah saat aku tahu aku mencintai orang yang salah. Aku cukup tahu diri untuk itu, Oppa. Tapi jika memang Oppa tak berkenan, aku tak apa-apa. Oppa pasti kesulitan. Maaf karena sudah melibatkanmu dalam hal ini..."

Im Hyunsik sudah terlibat sejak awal. Ia terlibat sejak dirinya mulai menyadari bahwa perasaannya pada Eun Bi lebih dari sekadar adik dan teman masa kecil. Dengan susah payah ia menyembunyikan segala sesuatunya, namun sekarang semua tampak berbeda. Seluruh perasaan yang ia sembunyikan terungkap dan kini alih-alih menjauh, Eun Bi justru terbuka untuk hubungan itu dengan satu alasan: pelarian.

Jika persoalannya hanya tentang pelarian, pemuda itu baik-baik saja. Ia bahkan selalu berjanji untuk kebahagiaan Eun Bi dalam mantera-mantera doa yang dipanjatkannya tiap saat. Hyunsik hanya sepenuhnya takut. Ia takut jika suatu saat nanti dirinya tanpa sengaja melukai Lee Eun Bi. Tidak ada seorangpun yang bisa mengetahui masa depan, bahkan apa yang terjadi dalam satu menit ke depan.

[2019] SOMEDAY (Sequel of Hour Moment) ☑️Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang