Ini belum juga larut malam. Hyunsik memutuskan pulang terlebih dahulu untuk menunggu Eun Bi di rumah. Setidaknya, kali ini ia akan menyambut kedatangan adik Lee Changsub itu dengan senyum dan semangkuk mie dingin kesukaannya. Sebelum ini, empat hari yang berat telah ia lalui. Tidak ada seorangpun yang tahu ke mana perginya, bahkan sang ibu. Ia hanya bilang: aku akan keluar dengan teman selama beberapa hari. Hanya itu.
“Jangan berani berdusta lagi di hadapanku, Im Hyunsik. Aku tahu semuanya. Kau pemimpin organisasi ini. kau juga yang memberi perintah untuk menembak, bukan?” Seseorang menodongkan pistol tepat di pelipis Hyunsik. Pemuda itu terkekeh singkat, kemudian kembali menampakkan wajah seriusnya.
“Ya ampun. Lalu apa? kau mau menembak kepalaku? Atau bagaimana?” tanya Hyunsik. Tidak ada jawaban setelahnya. Perlahan tapi pasti, kedua telapak tangan pemuda itu meraih pistol yang ditodongkan padanya, kemudian betul-betul menempelkan benda itu di pelipisnya.
“Ini. Di sini. Tarik pelatuknya!” ujarnya pasti.
“Kau gila?”
“Tembak! Ini perintah.” Tidak ada pergerakan apa pun meski pemuda itu menurunkan perintah untuk menembak. Tidak satupun.
“Lihat? Kau bahkan ragu melakukannya. Bukankah kau kuajari untuk selalu bersikap yakin pada pendiriaanmu, hm? Setelah kau membidik targetmu, kau harus menguncinya. Bukankah begitu? Perintahku untuk dilakukan dan seorang penembak harus berdarah dingin bila ingin bertahan. Kau sudah kehilangan keyakinanmu sejak kau masuk kemari. Kau harus berhenti menjadi penembak.” Pistol yang tadinya teracung kini diturunkan. Tidak ada sepatah kata pun yang terucap untuk membalas kalimat Im Hyunsik. Yang ada hanya segurat wajah penyesalan, air mata, dan keputusan untuk meninggalkan ruangan itu.
Tak berselang lama, suara letusan peluru terdengar di mana-mana. Mereka menggema, mengudara. Im Hyunsik tercengang. Ini bukan rencana yang sebelumnya. Rencana penembakan itu seharusnya terlaksana besok, namun pihak lawan—agen rahasia Jepang—sudah menyerang terlebih dahulu. Ada mata-mata. Pasti ada mata-mata.
Di antara orang-orang yang berlarian menyelamatkan diri dari peluru, beberapa anggota organisasi terus melepas tembakan bahkan tertembak mati. Segala hal yang ada di sepanjang jalan mulai porak poranda: sayur-mayur, lampu-lampu jalan, dinding ruko, ban becak, dan manusia-manusia yang terkapar tak benyawa.
Mengingat kejadian itu, Im Hyunsik tertawa pahit. Seorang mata-mata dan pengkhianat bangsa sudah jelas-jelas menampakkan diri. Pergerakan aliansi pemuda gabungan Joseon sudah terendus dan sekarang mereka harus bersiap untuk diburu dan dihabisi. Ah, percayalah semua itu sungguh naïf. Bayangkan, untuk mendapat sesuap nasi dan selibat kenyamanan, kau harus terus berusaha menjilat kaki majikan dan membuatnya percaya penuh padamu sekalipun kau pada akhirnya menjadi seorang pengkhianat.
Ya. Tidak ada yang tahu, lebih-lebih orang terdekat masing-masing anggota aliansi itu. Mereka hanya sekumpulan orang-orang yang terluka batin akibat ketamakan dan kekejaman Jepang. Mereka hanya orang-orang yang menuntut sebuah kebebasan yang sama seperti beberapa puluh tahun lalu sebelum Jepang datang, berselisih dengan Kekaisaran Korea, lalu menjadi protektokrat Jepang yang memicu aneksasi: awal penderitaan masyarakat.
“Hyunsik-Oppa?” sapa Lee Eun Bi. Hyunsik membuyarkan lamunannya. Ia menarik senyum ketika mendapati gadis itu sudah berdiri di belakangnya dengan senyum terkembang.
“Eoh, Eun Bi-ah. Wasseo?” tanyanya. Ia buru-buru menyiapkan mi dingin dalam mangkuk, kemudian bertanya, ”Kenapa kau selalu minta dimasakkan mi? Tidak bosan?”
“Mi dingin buatan Oppa, itu mi terenak. Kenapa tidak buka kedai di depan rumah saja daripada kerja di Carpe Diem hanya jadi barista? Ah, ngomong-ngomong kau pulang lebih awal hari ini?” tanya Eun Bi.
“Kau harus makan selain mi, Eun Bi-ah. Ah, kau belum pernah mencoba minuman buatanku di Carpe Diem ya? Hehehe, banyak orang menyukainya. Aku hanya… suka kerja di sana. Lagipula, mendirikan kedai di depan rumah itu agaknya sulit. Aku sudah pernah mencobanya, dulu. Tapi kau tahu sendiri, kedainya tak bersisa. Kami rugi besar hehehe…”
Eun Bi tersenyum dan memahami ujaran Im Hyunsik. Ia kemudian meraih lengan Hyunsik dan memintanya menghentikan acara saji-menyaji mi dingin di mangkuk. Gadis itu ingin menceritakan sebuah kabar bahagia pada “Oppa”-nya: tentang undangan Lee Minhyuk.
“Oppa, besok aku akan ke Mokpo memenuhi undangan Minhyuk-ssi. Kau bisa mengantarku ke stasiun? Aku akan bertemu rombongan di sana,” ujar Lee Eun Bi. Mendengar pertanyaan sekaligus pernyataan itu, tanpa diminta, Hyunsik menghentikan pekerjaannya dan memandang lekat wajah gadis itu.
“Wae? Kenapa kau pergi ke sana? Ani, haruskah kau pergi ke sana?” tanyanya.
“Umm, itu hanya pesta kecil. Ya perayaan kecil sebelum Minhyuk-ssi kembali ke Tokyo dan rombongan kami berpisah untuk beberapa waktu lamanya. Gwaenchana, aku tidak akan lama, kok. Oppa tak perlu khawatir…” Ia menggeser posisi Hyunsik. Mangkuk-mangkuk itu sekarang ada dalam genggaman Eun Bi.
“Kau sering sekali keluar dengan Lee Minhyuk. Kalian pacaran?”
“Eoh? Umm, anieyo. Anieyo. Kenapa Oppa mengatakan hal yang tidak-tidak?” Gadis itu tersipu, tapi Im Hyunsik sama sekali tak bereaksi.
“Ekspresimu mengungkapkan semuanya, Eun Bi-ah.”
Hyunsik meninggalkan Eun Bi yang mengambil alih pekerjaannya di dapur. Ia berusaha duduk tenang di ruang tamu sambil sesekali memikirkan siapa kira-kira di antara kelompoknya yang menjadi mata-mata hingga rute pelarian beberapa hari lalu bahkan diketahui. Ia menduga ada agen rahasia Jepang yang bersembunyi dalam organisasinya, namun ia sepenuhnya ingin mempercayai rekan-rekan seperjuangan dalam kode rahasia mereka.
Dalam perenungannya, Im Hyunsik mengingat satu informasi soal akan diadakannya pesta untuk mempromosikan sumbangan dana perang Jepang. Kabarnya, orang-orang kaya yang dibutakan kekuasaan dan aristokrat akan berkumpul di tempat itu. Mereka akan mengeksploitasi rakyat jelata dengan cara yang lebih kejam. Semua uang pada akhirnya akan beraroma sebusuk bangkai, lebih-lebih, yang selain mereka semua, yang datang adalah Jenderal Pemerintahan, pejabat tinggi, dan diplomat berbagai negara. Harusnya, rencana pemberontakan terang-terangan—yang disemogakan akan berhasil—ini bisa membelokkan alokasi dana.
“Oppa, mari makan. Hye Sun ahjumma di mana?” Lee Eun Bi datang membawa dua mangkuk mi dingin dan menghampiri Hyunsik.
“Oh, ibuku pergi ke pasar… hmm, gomawo…” Hyunsik menyeruput kuah mi dinginnya.
“Ah, araseoyo. Ngomong-ngomong, beberapa hari lalu Oppa pergi dengan teman yang mana?” tanya Eun Bi tiba-tiba. Mendengar pertanyaan yang mengejutkan itu, Hyunsik tersedak kuah hingga terbatuk.
“Eoh? Oppa gwaenchana? Kenapa buru-buru menyeruput kuahnya?” Eun Bi berlarian mencari segelas air untuk pemuda itu.
“Ini, minumlah ini dulu. Apa sih yang Oppa pikirkan sambil makan sampai-sampai tidak fokus begitu?” Ia melanjutkan omelannya, sementara Hyunsik berpikir keras untuk menemukan jawaban yang tepat.
“Kenapa penasaran? Aku bahkan tidak pernah penasaran dengan apa yang kau lakukan bersama teman-temanmu akhir-akhir ini. Yang penting kau tidak terluka. Itu saja…” ujarnya.
“Ani… eoh, memang aku yang selalu bercerita. Oppa memang tidak pernah penasaran. Araseoyo, aku tidak akan bertaanya macam-macam sekarang…” Gadis itu melanjutkan makannya setelah memastikan Hyunsik sudah baik-baik saja.
Keduanya duduk tenang sambil menikmati mi dinginnya masing-masing. Tidak ada hal serius yang dibicarakan khusus dalam rentang waktu tiga puluh menit. Eun Bi mempersiapkan barang-barang yang hendak dibawanya ke Mokpo untuk menginap semalam. Gadis itu bahkan tidak mengulang permintaan agar Hyunsik mau mengantarnya ke stasiun. Ia menyadari, bahwa dirinya ternyata sudah terlalu banyak meminta.***
Lee Eun Bi menjadi anggota terakhir yang datang ke stasiun pagi itu. Seluruh rombongan sudah siap, namun gadis itu agak terlambat. Hyunsik mengantarnya. Pemuda itu menurunkannya tepat di depan stasiun, namun di tengah perjalanan sebelumnya, rantai sepeda itu putus. Keduanya terpaksa menunggu tukang reparasi sepeda mengganti rantai.
“Eun Bi-ssi!” sapa Young Mi. Ia melambaikan tangan agar Eun Bi melihatnya. Semua mata pun tertuju pada kedatangan Lee Eun Bi yang baru saja.
“Woah daebak. Kau kelihatan cantik sekali hari ini. Sudah berapa hari sih kita tidak berjumpa?” Jinho menggodanya. Meski demikian, ekor mata gadis itu tertuju pada sosok lelaki di samping Jinho: Lee Minhyuk—yang tak berhenti menatapnya dengan sembunyi-sembunyi.
“Baiklah. Ayo naik!” Dalam sekejap, semua orang sudah duduk manis di dalam gerbong dan menikmati perjalanan panjang mereka ke Mokpo.
Sementara Lee Eun Bi sibuk menghabiskan waktunya dengan bercanda bersama Young Mi—membicarakan hal-hal seperti topi wanita-wanita Jepang yang tengah hits hingga kemampuan bermusik dan bernyanyi—Lee Minhyuk justru sebaliknya. Ia duduk tenang di bangkunya sendiri tanpa berniat mengalihkan pandangan dari punggung Eun Bi. Mengamati seseorang diam-diam itu rupanya menyenangkan. Ah, barangkali juga menyakitkan. Apa disebutnya ini? Pengagum rahasia? Penggemar? Yang walau hanya melihat punggungnya saja kau bisa merasa tenang dan bahagia.
Stasiun Mokpo di depan mata.
Rombongan Lee Minhyuk berjalan sekitar satu kilometer jauhnya untuk sampai ke rumah pemuda itu. Suasana alam yang kental membuat semua dari mereka merasakan aroma kebebasan yang dulu. Rumah besar itu kini hanya tinggal beberapa langkah lagi ketika Eun Bi bahkan mengira Minhyuk mahasiswa miskin dan mandiri. Jinho menjelaskan bahwa Minhyuk sebenarnya salah satu putra orang terkaya di Mokpo. Fakta mengejutkan yang sama seperti keterkejutan rombongan atas pemandangan di balik gerbang besar rumah itu: keindahan bak lukisan. Seorang bocah perempuan kemudian berlarian mendekati Lee Minhyuk. Raut wajahnya berseri.
“Ada yang datangggg!!!!” teriaknya.
“Eoh, annyeong gongju-nim…” sapa Lee Minhyuk. Seorang wanita dengan hanbok peach kemudian terlihat buru menghampiri rombongan itu.
“Kau sudah datang. Byeol-ah, jangan berteriak seperti itu…” katanya.
“Ah, perkenalkan. Ini teman-temanku. Kami belajar di Tokyo bersama.” Minhyuk memperkenalkan. Mereka kemudian saling membungkuk dan tersenyum.
“Kau harus menyapa ayahmu dulu…. Seobang-nim…” ujar wanita itu lagi. Kali ini, Lee Minhyuk hanya menatap ke arah pintu, kemudian pandangannya teralihkan usai bocah kecil yang mendongak itu merangkul kedua kakinya.
“Appa, kajja kajja…” celotehnya.
Dunia Lee Eun Bi mengabu. Ia menunduk dalam-dalam. Kedua telapak tangannya menggenggam erat tas jinjing berat yang sedari tadi tak juga ia letakkan. Gadis itu mendadak enggan menatap pemuda yang telah membuatnya tersipu tanpa sebab. Partikel udara yang membaur di sekitarnya tiba-tiba merapat seolah tak mau memberi ruang. Sesak menyeruak kala dilihatnya rombongan kawan-kawan, wanita—istri Minhyuk—dan bocah perempuan itu masuk ke dalam rumah. Asing. Lidah Eun Bi kelu. Dalam hatinya, berkali-kali ia bertanya: apa aku sedang terluka(?).
Note:
Sengaja di-upload pas malam Selasa. Ngga ada esensinya sih sebetulnya haha iseng aja karena weekend lalu nggak up cerita apa pun :'v
Well, kita sudah sampai pertengahan. Lalu apa selanjutnya? Minhyuk sudah berkeluarga... Tapi apa menurut kalian dia juga punya perasaan yang sama dengan Eun Bi? Eheqq... Nantikan kelanjutannya hanya di Someday

KAMU SEDANG MEMBACA
[2019] SOMEDAY (Sequel of Hour Moment) ☑️
Historical Fiction#1 btob (04.05.19 - 04.06.19) Lee Eun Bi pada akhirnya tumbuh tanpa sosok Changsub, kakak yang paling ia sayangi. Sekitar tahun 1920-an akhir mereka terpisah. Kerusuhan yang terjadi akibat kecurangan Jepang atas lomba lari marathon terjadi secara ti...