Carpe Diem begitu ramai. Ini masih pagi, tapi tampaknya orang-orang berbondong-bondong datang karena seorang wanita muda akan tampil bernyanyi di sana. Eun Bi terdorong oleh desakan orang-orang yang bergerombol di dekat pintu masuk bar Carpe Diem, sejak tadi, padahal ia hanya ingin memastikan satu hal: bahwa Im Hyunsik sedang bekerja di sana. Sejak tiga hari lalu, Hyunsik menghilang seperti ditelan halimun. Ya, sejak keduanya memutuskan untuk menjalin sebuah ikatan pelarian.
"Ah, jeosonghabnida. Maaf sudah me...Eun Bi-ssi?" Lee Eun Bi membelalakkan kedua matanya. Ia yakin betul bahwa telinganya masih sehat. Gadis itu mendengar suara Lee Minhyuk menyapa: betul-betul menyapa. Pikiran gila itu datang lagi, batin Eun Bi. Ia tahu bahwa kenyataan memang sulit diterima, namun dirinya tak menyangka bakal sesulit ini—bahkan suaranya sampai terdengar kala ia sedang mencari Im Hyunsik.
"Michin saram-i..." gumamnya geram.
"Eun Bi-ssi?" Lee Eun Bi terperangah. Kali ini ia betul-betul melihat sosok Lee Minhyuk di hadapannya, di antara orang-orang yang berdesakan ingin masuk ke Carpe Diem.
"Min...Minhyuk-ssi?" Atmosfer canggung kemudian menyekap seluruh partikel udara yang awalnya renggang. Keduanya kemudian memutuskan untuk berbincang di tempat yang nyaman, jauh dari keramaian. Untuk sejenak, Eun Bi sengaja menunda pencariannya terhadap Im Hyunsik. Pertemuannya dengan Minhyuk secara tak disengaja itu lebih menimbulkan pertanyaan besar: tentang mengapa lelaki itu belum kembali ke Tokyo.
"Ini sudah satu minggu. Kau masih di Joseon rupanya..." ungkap Eun Bi. Ia tak nyaman.
"Mmm. Ada urusan yang harus diselesaikan di sini." Minhyuk menjawab pendek.
"Kupikir aku harus minta maaf soal beberapa waktu lalu. Maaf karena sudah pergi tanpa pamit. Itu sangat tidak sopan," katanya. Ia tak memandang pemuda itu barang sekali.
"Nee."
"Karena sudah mengundangku ke rumahmu, terima kasih." Minhyuk tak mengucapkan apa-apa selain menunduk dalam-dalam. Ia menyadari bahwa risiko pergi ke Gyeongsong adalah bertemu dengan Eun Bi—jika gadis itu belum kembali ke Tokyo. Dan itu betul-betul terjadi hari ini. Seluruh udara bimbang yang dihirupnya menjadi tak karuan: ketika Eun Bi mengatakan bahwa dirinya mengharap semua tentang Lee Minhyuk baik-baik saja, lalu melenggang pergi memunggungi pemuda itu persis seperti insiden payung merah di Tokyo. Tidak ada sedikitpun pembicaraan tentang keluarga Minhyuk. Keduanya bicara secukupnya tanpa ingin terluka: lagi.
"Aku juga berharap yang terbaik untukmu, Eun Bi-ssi." Laki-laki itu tidak tahu apa yang tengah dirasakannya. Yang pasti, ia hanya berusaha mengingat Lee Byeol kala matanya bertatap pandang dengan Eun Bi.
***
"Ada kerusuhan! Ada kerusuhan! Di Mokpo terjadi kerusuhan semalam!" Seorang bocah laki-laki berlarian sambil melempar selebaran harian dan meneriakkan soal kerusuhan.
Eun Bi menghentikan sejenak langkahnya. Bayangan masa lalu itu kembali lagi. Detik-detik Lee Changsub diseret keluar dari gedung pengadilan dan dibawa paksa berperang untuk Kekaisaran Jepang, kemudian mundur lagi pada pagi hari sebelum lelaki itu pergi menarik becaknya, menjanjikan sebotol susu yang selalu disukai Eun Bi, hingga mendekap erat-erat gadis kecil itu dan menjanjikan pulang.
"Oppa eodiseo-yo?"
"Eunggg, Eun Bi-ah, oppa mau pergi kerja dulu ya. Kau di sini dengan Hye Sun ahjumma. Jangan nakal, nanti oppa bawakan susu untukmu, hm?" Lee Changsub yang manis tengah berjanji pada gadis kecil itu sambil mengelus anak rambutnya.
"Susu?"
"Eoh, kau kan suka minum susu." Meski tumbuh tanpa sosok ibu, kegemarannya minum susu memang selalu menjadi alasan Lee Changsub bekerja keras bahkan hingga matahari tak terlihat lagi. Eun Bi kecil suka minta sebotol susu pada sang ayah yang tunawicara, namun seorang yang selalu memberinya susu adalah Changsub.

KAMU SEDANG MEMBACA
[2019] SOMEDAY (Sequel of Hour Moment) ☑️
Historical Fiction#1 btob (04.05.19 - 04.06.19) Lee Eun Bi pada akhirnya tumbuh tanpa sosok Changsub, kakak yang paling ia sayangi. Sekitar tahun 1920-an akhir mereka terpisah. Kerusuhan yang terjadi akibat kecurangan Jepang atas lomba lari marathon terjadi secara ti...