Lee Minhyuk mengawasi jalannya latihan hari itu. Ia mondar-mandir di depan panggung kecil dan terus menerus membaca naskah, melihat ekspresi rekan-rekannya, dan sesekali memejamkan mata untuk mendapatkan feel yang tepat. Ia tahu benar bahwa siang ini terik cukup menguras tenaga, namun di lain kesempatan ia juga bersyukur, tidak ada satupun rekannya yang mengeluh. Mereka justru terus melakukan yang terbaik: supaya cepat selesai, supaya cepat pulang, dan beristirahat.
"Ngomong-ngomong, latihan ini pasti menguras dana cukup banyak," ujar Eun Bi sebelum ia bersiap menyanyi. Young Mi tersenyum dan menanggapi perkataan gadis itu dengan sebuah anggukan.
"Kami semua ada di tingkat-tingkat tertentu untuk masalah pendanaan, Eun Bi-ssi. Tapi penyumbang dana terbesar adalah Lee Minhyuk, orang yang sibuk mengawasi latihan kami itu. Ia menggunakan uang yang diterimanya untuk pengeluaran sendiri. Semangat Minhyuk untuk tulisan-tulisan dan dramanya memang tidak terbatas. Kami bahkan tidak akan sampai sejauh ini jika bukan karenanya..." Young Mi mengakhiri penjelasan itu dengan intro lagu yang akan dinyanyikan Lee Eun Bi.
"Aku pecandu sebuah kebebasan. Ketika jiwa-jiwa itu rapuh, sepotong kata bebaslah yang mampu menghidupkan semua kembali. Tapi bukankah kebebasan itu selalu ditukar dengan sesuatu yang mahal? Menukar sepotong kebebasan denganmu mungkin? Ya, selain putus asa, yang kutakutkan adalah kehilanganmu..."
Minhyuk meletakkan bolpoin yang sedari tadi ia genggam, kemudian melepas kacamata. Ia merasa berat. Dirinya mengempaskan punggung ke sandaran kursi sambil beberapa kali mengembuskan napas pendek, memandangi tulisannya, lalu mencondongkan badan kembali ke meja, menopang dagu di sana, dan ingatannya melayang pada setiap hal yang sudah ia lalui.
***
Pagi itu hujan deras. Air hujan terus bergejolak mengguyur apa pun yang ada: pepohonan, bunga-bunga yang belum sempat mekar, atap rumah yang berdebu, juga tanah yang menguarkan aroma petrikor ketika bersinggungan dengan ujung bulir air hujan. Gedungnya masih kosong. Lee Eun Bi duduk di salah satu ruangan sambil berulang kali membuka buku-buku yang tertumpuk di sana: ia bosan. Tidak ada seorangpun yang datang. Mungkin karena hujan deras mereka terlambat. Gadis itu berusaha maklum. Ah, sebetulnya hanya satu yang ia tunggu kedatangannya, namun ia belum mau jujur.
"Aigoo, aku terlambat, ya? Hujannya deras sekali..." Jinho masuk ke ruangan tempat Eun Bi menghabiskan waktu dengan duduk dan membaca buku-buku. Gadis itu menoleh semangat ketika mendengar ada suara orang datang, namun ekspresinya berubah ketika melihat siapa yang datang.
"Eoh? Jinho-ssi..." sapa Eun Bi.
"Hmm, ada apa dengan ekspresi itu? Kau kesal karena baru aku yang datang?" candanya.
"Umm, anieyo...ani...umm, aku tahu semua pasti terhalang hujan sehingga terlambat datang, tapi, biasanya Lee Minhyuk-ssi datang lebih awal. Apakah..." Gadis itu menggantung pertanyaannya.
"Apakah terjadi sesuatu dengannya? Ingin menanyakan itu? Hehe, jangan khawatir, ia akan kembali setelah berhasil mengatasinya." Jinho menjawab pertanyaan yang belum sempat dilontarkan Eun Bi dengan tenang sambil membereskan barang-barangnya, juga tentu saja mengelap sepatunya yang basah kena percikan air hujan di luar sana.
Eun Bi terlihat tidak mengerti, namun di sela latihan, gadis itu menyempatkan diri mampir di tempat Lee Minhyuk. Katanya, hanya sekadar menengok karena hingga pertengahan latihan hari ini pun Minhyuk tak datang. Payung merah yang ia pinjam dari Young Mi kemudian menemani perjalanannya. Eun Bi menjinjing sebuah kotak makan yang terbungkus kain. Ia tak mau kunjungannya hanya sekadar kunjungan tanpa apa-apa.
Seorang wanita paruh baya lalu menyambut kedatangan gadis berambut panjang dengan bungkusan kotak makan di tangan. Pelan-pelan ia menginjak tatami karena takut menimbulkan suara-suara yang tak mengenakkan. Wanita berpakaian kimono kemudian berhenti tepat di depan sebuah kamar dan mengatakan bahwa kamar itu milik Tuan Lee. Ia pergi setelahnya.

KAMU SEDANG MEMBACA
[2019] SOMEDAY (Sequel of Hour Moment) ☑️
Historical Fiction#1 btob (04.05.19 - 04.06.19) Lee Eun Bi pada akhirnya tumbuh tanpa sosok Changsub, kakak yang paling ia sayangi. Sekitar tahun 1920-an akhir mereka terpisah. Kerusuhan yang terjadi akibat kecurangan Jepang atas lomba lari marathon terjadi secara ti...