regret [1/2]

3.3K 535 22
                                        

"Kau akan kehilangan hal-hal yang tak kau jaga dengan baik. Lalu menyesalah karena pernah mengabaikannya" - Boy Candra




.
.
Bangchan 15 tahun
Hyunjin 12 tahun



Bangchan amat tidak suka jika hyunjin--anak teman ibu yang dititipkan dirumahnya-- mulai bertingkah macam macam untuk menarik perhatiannya.

Ia amat tidak menyukai hyunjin, karena hyunjin menarik penuh perhatian ibu dan ayah nya. Remaja 15 tahun itu anak tunggal. Selama 15 tahun hidup nya ia mendapat begitu banyak perhatian dari kedua orangtua nya. Tentu saja sebelum hyunjin datang dan masuk dalam kehidupan nya.

Bangchan yang sedang fokus mengerjakan tugas nya di kagetkan dengan hyunjin yang tiba tiba datang dan memeluk erat leher nya.

"Hyung!! Ayo jalan jalan" katanya.

Bangchan mendengus, mencoba melepaskan pelukan hyunjin. Ia sedang tidak mencoba untuk mengkasari hyunjin, tapi pelukan bocah 12 tahun itu cukup erat membuat ia mengerahkan tenaganya untuk melepaskannya. Hingga membuat hyunjin terjatuh.

Ia melirik hyunjin khawatir, suara gedebum dan ringisan hyunjin terdengar jelas. Sumpah, bangchan tidak sengaja.

"Hyung! Ayo kita jalan jalan, jangan dirumah terus" rengek hyunjin. Mata bocah itu berkaca-kaca. Sungguh, tulang ekor nya sakit sekali. Ia ingin menangis tapi ia tau kalau ia menangis sama saja dengan membuat bangchan tambah tidak menyukai nya.

"Aku sedang banyak tugas, jangan ganggu aku" ujar bangchan dingin. Ia kembali mengerjakan tugasnya dan mengabaikan hyunjin.

Hyunjin menunduk lesu, ia berdiri kemudian melangkahkan kaki nya keluar "aku permisi,hyung" ujar nya.

Hyunjin pamit pada bangchan pukul 4 sore. Bangchan pikir hyunjin mungkin pergi ke rumah jeongin tetangganya yang seumuran dengan hyunjin.

Pukul setengah delapan malam, orang tua bangchan datang dan menanyakan keberadaan hyunjin.

Dengan santai bangchan menjawab, "mungkin main dirumah jeongin. Dari sore tadi dia belum kembali"

"Keluarga Yang sedang liburan keluar kota. Kenapa kau membiarkan hyunjin pergi sendiri christoper bang?" Tanya ayah nya penuh intimidasi.

Bangchan jadi merasa takut juga khawatir.

"Aku akan pergi mencari nya" ujar bangchan. Ia mengambil jaket nya juga jaket milik hyunjin , kemudian pergi mencari hyunjin dengan sepeda nya.

Bangchan merasa bersalah. Wajah sendu hyunjin terbayang dalam benak nya. Pikirannya berkecamuk.

Lingkungan tempat tinggalnya adalah lingkungan yang rawan bahaya jika malam hari.

"Hyunjin!"

"Hyunjin, dimana kau?"

Bangchan frustasi, ia nyaris menyerah. Tapi suara teriakan parau didengar nya dari arah lapangan basket dekat komplek nya.

Bangchan mengayuh sepedanya secepat yang ia bisa. Disamping lapangan bola itu nemang ada semak semak yang cukup tinggi dan lebat. Langkah kaki nya dengan ragu melangkah.

Dan ia bisa mendengar suara tangis dari dalam semak semak itu.

Bangchan melangkah lebih dekat dan menemukan hyunjin disana. Meringkuk memeluk erat tubuh nya.

Baju nya kotor dan robek. Pipi nya lebam, dan ia tidak lagi memakai celananya dengan benar.

Bangchan remaja 15 tahun yang sudah melewati mimpi basah nya, ia tau bau yang menempel pada tubuh hyunjin adalah bau sperma. Ia mengumpat marah.

Rahang nya mengeras. Memang bangchan sering mengabaikan hyunjin. Tapi bukan berarti ia tidak peduli.

"Siapa yang melakukannya?" Tanya bangchan berusaha setenang mungkin.

Hyunjin tidak bisa menjawab. Ia hanya bisa menangis. Orang-orang brengsek yang menyentuh hyunjin pergi tepat sebelum bangchan sampai.

Bangchan membantu hyunjin merapihkan pakaiannya. Memakaikan jaket yang tadi ia bawa.

"Naiklah" kata bangchan memberikan punggung nya.

Dengan lemah hyunjin menurut.

Mereka pulang jalan kaki. Bangchan meninggalkan sepeda nya di lapangan begitu saja.

"Siapapun kamu, aku tidak segan segan memberi mu pelajaran" batin bangchan.

Sesampainya dirumah, mereka disambut oleh raut khawatir orang tua bangchan. Sang ibu menangis melihat kondisi hyunjin. Ia merasa bersalah pada teman nya karena tidak mampu menjaga anak manis ini.

Bangchan melangkahkan kaki menuju kamar yang ditempati hyunjin diikuti oleh ibu nya yang telah membawa air hangat juga kotak p3k.

"Christoper, temui aku diruang kerja setelah mengantar hyunjin" ucap sang ayah.

Bangchan hanya mengangguk.

"Ibu, hyunjin seperti nya ketakutan sekali. Ibu bisa menanganinya kan? Aku ke ruangan ayah dulu" pamit bangchan. Sebelum bangchan benar-benar keluar sang ibu memeluk nya erat menyalurkan energi positif untuk anak nya.

Tangan bangchan seketika tremor ketika memegang knop pintu ruang kerja ayah nya. Ia tau kalau ia akan segera di marahi habis habisan oleh ayah nya. Bangchan tidak mengelak, ini memang salah nya yang terlalu mengabaikan hyunjin.

Dengan langkah pelan ia menghampiri ayah nya.

Sang ayah berdiri, wajah nya jelas sekali wajah marah.

Tangan nya terangkat dan satu tamparan keras mengenai wajah tampan anak nya.

"Aku , aku memberikan mu tanggung jawab penuh atas hyunjin. Aku mempercayai mu untuk menjaga nya. Bagaimana bisa kau membiarkan ia christoper? Bagaimana bisa kau membiarkan ia!? Keluarganya mempercayai kita untuk menjaga hyunjin, tapi, lihat apa yang telah kau lakukan!"

Pipi bangchan ngilu sekali, hendak berbicara pun rasa nya sakit.

"M-maafkan aku ayah" ucap bangchan pelan.

"Masuk ke kamar mu, dan renungkan kesalahan mu" titah sang ayah.

Bangchan tau, jika sang ayah mulai berucap demikian, maka ia sama sekali tidak boleh keluar dari kamar nya sampai ia benar benar tau kesalahannya dan berjanji tidak akan mengulangi nya lagi.

Keesokan hari nya, setelah tidak tidur semalaman bangchan memutuskan untuk keluar dan menghampiri hyunjin untuk minta maaf. Tapi yang ia dapatkan hanyalah kamar yang telah kosong. Pakaian hyunjin tidak lagi ada didalam lemari.

Bangchan berlari keluar, sebuah mobil baru saja pergi meninggalkan pekarangan rumah nya.

Sang ibu dengan sisa air matanya mulai menjelaskan jika keluarga Hwang tidak lagi mempercayai mereka. Keluarga hwang memutus hubungan persahabatan mereka. Tidak akan lagi membiarkan anak semata wayang mereka berurusan dengan keluarga Bang.

"Aku bahkan belum minta maaf" lirih bangchan. Air matanya mengalir. Menangisi semua kesalahannya, menyesali semua perlakuannya pada hyunjin.

Tidak ada lagi bocah cerewet yang mengusik hari nya.

Bangchan akan merindukan sosok manis itu.

Ah , jika ia bisa memutar waktu, maka akan ia lakukan detik itu juga dan memperbaiki semuanya. Ia tidak akan mengabaikan hyunjin lagi. Ia tidak akan membiarkan bocah hwang itu hancur. Bangchan akan menjaga nya sepenuh hati segenap jiwa raga nya. Kalau saja ia bisa.

-tbc

neowa na | chanjin Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang