WWC - 2

4.1K 395 14
                                        


_______

"Maaf terlambat," kata Kyna saat Hardjono Damara baru selesai membuka acara rapat project PLTO dengan GreenTech. Perempuan itu terengah-engah karena harus lari dari pintu lift menuju ruang rapat.

Hardjanto menatap anak perempuannya sambil mengembuskan nafas panjang. Tersirat kekecewaan dari wajahnya. "Lain kali jangan telat. Kita sudah menunggu setengah jam," kata Hardjanto dengan tegas.

"Baik, Pa-"

"Silakan duduk," Hardjanto mempersilakan Kyna dan Abram duduk berdampingan. "Kita harus segera mulai meeting ini karena saya ada meeting lanjutan dengan komisaris jam 12 siang."

"Baik, Pak Damara," sahut para peserta rapat.

Pada rapat tersebut dipaparkan ide tentang proyek PLTO 40MW dengan total biaya investasi sebesar 700 milyar rupiah. Proyek ini salah satu upaya EBI dan GreenTech mendukung program pemerintah dalam meningkatkan rasio elektrifikasi di wilayah Indonesia Timur. Selain itu, PLTO Komodo juga untuk memperkenalkan ombak atau gelombang laut sebagai salah satu energi terbarukan yang patut dilirik pemerintah.

"Jadi seperti itu Pak Damara. PLTO ini jelas alternatif ditengah pembangkit yang sumber energinya berasal dari bahan bakar fosil. Kami tentu memahami betapa pentingnya memulai proyek-proyek seperti ini di Indonesia. Khususnya di Indonesia Timur."

"Kami paham, Pak Davis. Sebelumnya kami juga sudah melakukan investasi di PLTO di Yogyakarta sebesar 300 milyar. Nilai ini tentu lebih kecil dibandingkan yang Bapak dan tim ajukan."

"Karena misi kita adalah bisa menyinari semua wilayah yang ada di sekitar Taman Nasional, Pak. Kami pikir nilai investasi sebesar itu bisa kembali kurang dari 10 tahun. Apalagi kalau suplai listrik ini benar-benar dimanfaatkan oleh hospitality industry di wilayah NTT. Bapak tentunya tau betapa pesatnya pariwisata di wilayah tersebut, bukan?"

"Ya, saya tahu," jawab Hardjanto sambil menganggukkan kepala. "Mungkin Kyna bisa menanggapi?" tunjuk Hardjanto kepada putrinya yang terlihat bingung dengan bahasan rapat mereka.

Kyna yang mengetahui ditunjuk oleh Hardjanto hanya bisa menyenggol Abram yang senyum kepadanya -melihat kebingungannya.

"Gue harus gimana," desis Kyna. "Bantuin, bego. Gue nggak paham. Lo sih nggak mau jelasin gue tadi."

Abram tertawa kecil lalu berdehem, "Biar saya saja Pak yang coba memberikan pandangan. Maaf sebelumnya Bu Kyna baru pertama kali ikut rapat seperti ini. Jadi, dia belum terlalu paham dengan proyek ini."

Abram berdiri dan menjelaskan, "Sejauh ini saya setuju dengan proyek ini. Apalagi sebelumnya kita pernah invest di proyek yang sejenis. Menurut saya, proyek PLTO jelas menguntungkan karena energi bisa diperoleh secara gratis alias tidak butuh bahan bakar. Selain itu, PLTO dapat menghasilkan energi dalam jumlah yang memadai, mudah dioperasikan, biaya perawatan rendah, serta yang terpenting adalah ramah lingkungan karena tidak mengeluarkan limbah padat, cair maupun gas."

"Nilai plus lain yang saya lirik dari proyek ini adalah kita bisa jadi pioneer dan satu-satunya pembangkit yang akan suplai listrik ke semua wilayah yang berada di sekitar Taman Nasional Komodo. Pak Davis sudah cukup bagus melirik potensi ini. Percepatan pertumbuhan ekonomi sektor pariwisata di Timur Indonesia bisa jadi alasan yang logis."

"Saya rasa kelebihan itu bisa memberikan gambaran kepada Pak Hardjanto sebagai Executive Director EBI juga Ibu Kyna, calon Vice President EBI," tutup Abram dengan menegaskan ucapan vice president EBI di akhir kalimatnya.

Kyna angkat bicara, "Kalau memang tidak membutuhkan energi dari fosil, harusnya nilai investasi tidak sebesar itu."

"Pak Davis? Ada tanggapan?" tanya Hardjanto. "Saya pikir apa yang dibicarakan saudari Kyna benar. Dengan nilai investasi sebesar itu harusnya kita bisa mendapat pasokan listrik lebih dari 40MW."

When Women Commanded (On Going)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang