____
"Ada apa lo minta gue ke ruangan lo, Abram. Zachary.Tehandradja?" Kyna bertanya dengan penuh penekanan, "Seharusnya, sebagai sebuah penghormatan dan penghargaan, lo yang nyamperin gue. You're a man," sindirnya.
Abram membalas, "Bisa gue jelas—"
Kyna memotong ucapan Abram, "Harusnya lo juga paham kalau gue itu anak pemilik perusahaan dan VP candidate, which is posisi gue lebih tinggi dari lo, tapi lo malah nyuruh-nyuruh gue ke ruangan lo. Nggak sopan, Abram."
Abram menggelengkan kepala dan tertawa kecil. Ia lalu membalas ucapan Kyna, "Aduh, sorry ya, gue nggak ada maksud untuk bersikap nggak sopan sama lo. Gue cuma mau nawarin lo makan siang. Gue tau kalau lo belum makan. Gue tadi beli Hokben dengan tambahan egg chicken rolls. Nah, berhubung gue tau lo suka makan itu, ya gue mau berbagi sama lo—"
"Kalau lo niat berbagi harusnya lo anterin lah, nggak pakai nyuruh gue dateng ke ruangan lo," potong Kyna, "sok sultan banget!"
"Denger dulu... gue bukannya nggak mau nganterin, ini gue tadi abis nelpon Kalih bahas CSR perusahaan. Lo tau kan kalau kasus karhutla? Kita mau salurkan CSR di wilayah yang terkena dampak—"
Kyna mendesah, "Ya terus korelasi CSR dengan tawaran lunch buat gue apa? Lo kebiasaan nggak jelas ya..."
Abram berdiri dari duduknya, "Ya karena gue nelpon makanya gue nggak sempat anterin makanan ke ruangan lo. Paham? Bukan karena gue sok-sokan atau sengaja."
"Oke, makanannya mana?" pinta Kyna, "Gue mau makan di ruangan gue."
"Eittss... no no," Abram melambaikan tangannya, "lo makan di sini bareng sama gue dan kita diskusi tentang CSR."
"Astaga! Cuma CSR doang pakai diskusi. Tinggal minta acc Papa aja beres. Butuh dana berapa sih?"
"Coba duduk dulu..." Abram mengarahkan Kyna duduk di sofa ruang kerjanya, "yang gue bicarain nggak sesederhana itu—"
Kyna duduk di sofa sementara Abram membawakan makanan untuk mereka berdua. "Biar apa ya Bram libatin gue dalam hal kaya gini. Dari dulu-dulu program CSR kan sudah ada timnya. Bisa nggak lo fokus aja sama pekerjaan lo tanpa ikut campur sama tugas tim lain?"
"Ya ini kan tanggung jawab gue, Kyna. Termasuk tanggung jawab lo juga. Program itu nggak bisa berjalan kalau nggak ada persetujuan dari key people perusahaan," jelas Abram.
"Dan key people perusahaan adalah Papa, Om Nanta, Om Fadli, Tante Maria-"
"Lo dan gue," lanjut Abram.
Kyna menunjuk dirinya, "Gue?" tanyanya tidak percaya. Abram mengangguk. "It means, gue resmi jadi VP?" tersenyum.
"Belum. Kan lo belom dilantik. Cuma Pak Damara minta lo terlibat. Biar paham perusahaan kata beliau. Jelas sekarang?"
Kyna mendesah. "Cuma gitu doang? Gue telepon Papa lah abis gini. Capek gue Bram. Kita terlalu sering meeting dan diskusi. Pusing gue. Belom mikirin FF, sekarang lo suruh bahas CSR. Aduh Bram... lo kenapa nggak bisa sesekali jadi gentleman dan good companion yang bantu gue sih-"
KAMU SEDANG MEMBACA
When Women Commanded (On Going)
ChickLitKyna Damara adalah anak perempuan satu-satunya Hardjanto Damara, seorang pengusaha Indonesia yang bisnisnya bergerak di bidang energi dan pertambangan. Pada mulanya, kehidupan keluarga Kyna baik-baik saja hingga ia merasa kalau kehadiran Abram Tehan...
