"... bukan, Pak Garin. Saya pikir Anda harus tegas dengan pegawai yang tidak loyal dengan perusahaan. Sikapnya jelas mencoreng nama besar IC. EBI tidak peduli dengan background-nya. Di kantor ini, attitude yang utama. No Attitude, cut!"
"... maafkan saya, Pak..."
"... saya tidak perlu tahu. Segera laksanakan perintah saya..."
Samar terdengar obrolan Abram dengan Garindra Harjopraja, operation director IC. Abram terlihat sangat marah dengan Pak Garin. Kyna yang tidak terlibat dalam obrolan mereka pun hanya bisa acuh tak acuh. Ia seperti malas berurusan dengan Abram karena masih kesal dengan ucapan pria itu beberapa waktu yang lalu.
Bodo' amat lah. Gue nggak peduli dia lagi apa nggak. Dia bukan siapa-siapa gue juga. Batin Kyna.
Dengan langkah santai, Kyna memasuki ruangan meeting IC dan menyela obrolan Pak Garin dan Abram, "Selamat siang."
"Siang, Ibu Kyna Damara," jawab Pak Garin dengan canggung.
"Pak Garindra Birma, bukan?" Pak Garin mengangguk, "Bisakah saya berbicara berdua dengan Pak Tehandradja?" pinta Kyna.
Belum Pak Garin menjawab, Abram menyahuti, "Bisa, Na. Lagipula kami sudah selesai."
"Oke," jawab Kyna sambil duduk di kursi yang kosong.
"Saya permisi dulu, Pak Abram Tehandradja," kata Pak Garin dengan ragu.
"Saya akan segera follow up, Pak Garin. Dua kali dua puluh empat jam dari sekarang," tegas Abram.
"Segera saya laksanakan semua perintah, Bapak."
Abram duduk menghadap Kyna selepas Pak Garin meninggalkan ruang meeting. "Lo mau ngomong apa sama gue?"
"Nggak penting banget sih. Gue cuma minta izin sama lo kalau besok gue mau ambil cuti. Gue mau liburan."
Abram mengerutkan keningnya, "Kenapa tiba-tiba? Inspeksi kita belum selesai, Kyna."
Kyna berdiri dan menyeruput minuman dinginnya. "Gue kira meeting tertutup dengan Adibrafi, Pak Fahtan, Nadhira, Pak Vicko, dan Pak Garindra menutup inspeksi kita."
"Sisa sehari lagi. Ada presentasi penting besok, Kyna. You can't leave..."
"Gue calon vice president EBI yang sah, Abram. Jadi, semua keputusan yang bersifat mengikat pada gue cukup disetujui oleh gue sendiri dan Papa sebagai Owner dan Executive Director EBI. Lo nggak perlu ikut campur. Gue di sini memberitahu lo sebagai bentuk penghargaan gue sama lo."
Abram tercengang mendengar jawaban Kyna, "What? Udah gila ya lo—"
"Papa sudah approved cuti gue. Lo nggak bisa bawa-bawa nama Papa lagi untuk bikin gue stay dan terjebak dalam acara inspeksi yang seharusnya sudah selesai ini. Gue selangkah lebih cerdik dari lo," kata Kyna.
Abram mengusap wajahnya, ia lalu membalas Kyna, "Baik, kalau itu mau lo. Silakan, lo bisa jalan dan liburan besok tanpa gue. Tapi—"
"Gue nggak masalah, gue malah seneng lo nggak ikut. Good for me. Enjoy your hectic day, Tehandradja," Kyna menutup obrolan mereka lalu senyum mengejek.
***
Malam hari, selepas mereka pulang dari kantor IC yang ada di Balikpapan. Abram dan Kyna berpapasan di lobby hotel tempat mereka berdua menginap.
"Lo mau cari makan?" tanya Abram pada Kyna yang terlihat sibuk dengan ponselnya.
"Gue delivery. Lagi malas makan makanan hotel. Ini mau pesen," jawab Kyna tanpa memperhatikan wajah Abram.
KAMU SEDANG MEMBACA
When Women Commanded (On Going)
ChickLitKyna Damara adalah anak perempuan satu-satunya Hardjanto Damara, seorang pengusaha Indonesia yang bisnisnya bergerak di bidang energi dan pertambangan. Pada mulanya, kehidupan keluarga Kyna baik-baik saja hingga ia merasa kalau kehadiran Abram Tehan...
