Pagi hari sebelum berangkat kerja ada tradisi sarapan bersama di kediaman Hardjanto Damara. Pria yang sebentar lagi memasuki kepala enam itu terlihat khusyu membaca koran pagi untuk mengetahui berita terkini.
Abram mengambil posisi duduk di samping kiri Hardjanto, sementara istri pria itu berada di kanannya.
Istri Hardjanto, Bintari Nasution berkata, "Pa, sarapannya bisa dimulai. Sudah hampir jam delapan."
Hardjanto menurunkan koran dan meletakkan kacamata bacanya di meja. "Anak kita belum turun. We need to wait." Melirik Abram. "Bisa kamu panggil Kyna sekarang, Abram?"
"Baik, Pa." Abram beranjak dari duduknya dan menuju lantai dua.
Pria itu mengetuk kamar Kyna dan berkata, "Na, Papa minta lo turun buat sarapan."
Kyna tidak menyahuti Abram yang membuat pria itu terus mengetuk pintu kamar wanita itu. "Mana sih nih cewek. Masa iya masih tidur jam segini. Nggak kerja apa?" gerutu Abram.
Pria itu sepertinya tidak kehabisan akal. Ia pun coba membuka pintu kamar Kyna yang ternyata tidak dikunci. Ia coba mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan tapi tidak menemukan wanita itu. "Kyna?" teriak Abram. "Kyna..."
Beberapa kali teriak memanggil nama Kyna, terdengar suara pintu kamar mandi terbuka. Cklek. "Siapa sih masuk kamar orang sembarangan. Nggak sopan!" geram Kyna.
Wanita itu masih berusaha mengeringkan rambut dengan handuk dan melihat Abram berdiri di depannya sambil bersedekap. "Lo baru kelar mandi?"
Kyna yang sedikit terkejut dengan penampakan Abram hanya berkata, "Lo nggak sopan banget masuk kamar gue!"
"Gue panggil dari luar nggak nyaut. Ya udah, gue masuk."
"Lo ada perlu apa sama gue? Hobi banget curi-curi waktu ke kamar gue. Heran."
Abram menghela nafas panjang dan berkata, "Pak Damara minta gue manggil lo. Ini sudah jam delapan, tuan putri. Bokap lo belum sarapan cuma karena nunggu lo yang jam segini belum siap."
"Not your damn businees, Tehandradja."
"Gue penyambung lidah bokap lo. Ini gue tunggu apa gimana? Gue nggak mau ya kalau disuruh naik turun sama Pak Damara cuma buat pastiin lo udah siap apa belum. Lo butuh waktu berapa lama buat dress up?"
"Setengah jam."
"What?! Gila lo!"
"Heh, laki. Lo pikir perempuan bisa dandan cepet? Dipakai otaknya."
"Lima belas menit. Dan gue tungguin."
"Lo kok pakai acara ngatur-ngatur gue segala sih. Udah turun aja. Bilang sama Papa. Bisa duluan sarapannya."
"No. I insist. I'll wait for you. Now, get dress Ms. Kyna Damara." Abram duduk di sofa yang ada di kamar wanita itu.
"Gimana gue mau ganti baju kalau lo nungguin gue sambil melotot begitu? Lo mupeng lihat badan gue?"
"Ge-er..."
"Ya kalau emang nggak, bisa dong pandangannya diturunin biar nggak kelihatan mupeng nan mesum!"
"Mupeng? Mesum? Ngaco! Nggak Mungkin." Abram tertawa kecil. "Ngapain? Kurang kerjaan banget. Kalau gue mau mesum, yang super elit lah. Ke acara VS show misalnya. Mesumin aja tuh Kendall Jenner, Barbara Palvin sampai Gigi Hadid."
"Congkak!"
Abram menjawab Kyna sambil tertawa, "Fakta..." Membaringkan tubuh di sofa. "Cut and Stop. Mending lo segera ganti baju deh. Gue tutup mata nih."
KAMU SEDANG MEMBACA
When Women Commanded (On Going)
ChickLitKyna Damara adalah anak perempuan satu-satunya Hardjanto Damara, seorang pengusaha Indonesia yang bisnisnya bergerak di bidang energi dan pertambangan. Pada mulanya, kehidupan keluarga Kyna baik-baik saja hingga ia merasa kalau kehadiran Abram Tehan...
