____
Abram terlihat santai dengan kaos polo dan celana pendek ketika ia memasuki restoran hotel untuk sarapan. Jam menunjukkan 08.15 waktu Balikpapan. Ia mendapati Kyna sudah rapi dengan makanan di atas mejanya.
Sambil membawa makanannya, Abram mendekat dan duduk di kursi yang kosong. Ia lalu berbicara pada Kyna, "Too early, right?"
Kyna meletakkan sendok dan garpu di sisi piringnya lalu menjawab Abram, "Anak perawan nggak boleh bangun siang. Nggak baik."
Abram menyeringai. "Emang masih?" godanya.
"Sialan lo!" balas Kyna.
Abram tidak membalas ucapak Kyna. Ia memilih fokus untuk memakan makanan yang sudah terhidang di piringnya. Pagi ini ia makan scrambled egg dengan avocado salad.
"Gue hubungi Rafi nggak bisa ya Bram," Kyna berkata tiba-tiba. Ia memecah konsentrasi Abram yang sedang makan, "harusnya 45 menit lagi kita berangkat. Huft!"
"Dia mungkin lupa kalau ada janji ke Cermin sama lo. Atau nggak ketiduran?" Abram menanggapi sebelum suapan selanjutnya masuk ke dalam mulutnya.
"Masa sih?" Kyna memastikan.
Adrian mengangkat bahu, "Bisa jadi. Who knows? Human."
"But I'm the boss. Dia nggak bisa dong seperti itu," kata Kyna dengan angkuh.
"Ego?" Abram menaikkan satu alisnya.
Kyna mendengus kesal dan berkata, "Kalau Rafi nggak jadi ikut. Gue ke Cermin sama siapa dong?" mengerucutkan bibir.
"Katanya terbiasa kemana-mana sendiri. Katanya independen. Katanya—" sindir Abram, namun lebih dulu dipotong Kyna. "Shut the fuck up, Abram. I'm panic! "
Abram tersenyum. "Masih ngotot mau ke Labuhan Cermin? Harus banget? Sendirian?" cecarnya.
Kyna berpangku tangan dan menjawab, "Nggak tau lah. Bete!"
Abram menggeser kursinya —lebih dekat dengan Kyna. "Gue temenin?" tawar Abram.
Kyna menarik diri dari posisinya dan terbelalak. "Maksud lo?"
"Gue gantiin Rafi sementara dia nggak bisa dihubungi. You'll be late if you're still here waiting for him," jelas Abram.
"Bukannya lo ada meeting? Kan lo workaholic orangnya," sindir Kyna. Ia sedikit tidak terima dengan ucapan Abram yang terkesan plin-plan.
"Called all the whole thing off," timpal Abram sekenanya.
Kyna menggeser kursinya lebih dekat dengan Abram. "Lo gila kali ya. Demi apa?"
Demi lo lah, Kyna. Pakai nanya lagi. Batin Abram. "Ya kan lo bilang kalau semua laporan bakal lo terima semalam. Gue pikir buat apa adain meeting sementara key personnya nggak butuh meeting. Rapat konsolidasi bisa dilakukan saat balik ke kantor pusat aja."
Kyna mendengus dan menjawab singkat, "Ya..."
"Lagipula, gue juga mau liburan lah. Emang lo doang yang bisa?" Abram menyindir Kyna, "Jangan khawatir, gue sudah izin Papa dan beliau approved. Now I'm here with you. Mau ke Cermin juga."
Kyna mengerutkan dahi, "Canda ya lo?" tanyanya.
"Gue nggak pernah bercanda dengan ucapan gue, Kyna. I'm a man. A gentleman. Gue selalu berusaha jujur dengan ucapan gue."
Gue nggak nanya. Batin Kyna. "Terus maksud lo, lo bakal berangkat ke Cermin sama gue? Gue menangkap omongan lo seperti itu."
"Gue cuma menawarkan solusi. Lagipula, Rafi nggak bakal datang. Trust me!" kata Abram dengan percaya diri.
"You're bugging me, Abram —with your words specifically."
Abram mengangkat bahu. "Terserah, lo mau percaya omongan gue apa nggak," kembali fokus makan.
***
Sejam berlalu dan Rafi tetap tidak muncul. Pria itu tidak mengangkat panggilan Kyna sama sekali. Wanita itu menggerutu, "Kenapa sih Rafi nggak bisa dihubungi? Gue kalau jadi Papa sudah gue pecat. Tidur apa semedi sih nih orang?!"
Abram menyahuti, "Gue bilang juga apa. Rafi nggak bakal datang. Nggak percaya sih lo."
Kyna menatap Abram. Ia berkata dengan sinis, "Ini semua gara-gara lo, paham? Kalau bukan karena lo suruh Rafi menginap di hotel terpisah, nggak bakal gini kejadiannya. Ide lo sungguh bagus!"
"Bukan salah gue. Emang gue yang booking kamar? Emang gue request kalau lo dan gue akan berada di hotel terpisah? Tolong dipakai logikanya," balas Abram tak kalah sinis.
"Ya terus gue harus gimana sekarang?" Kyna bertanya karena sudah kehilangan harapan. Rafi tidak bisa dihubungi.
"Gue dari tadi sudah menawarkan lo solusi. Lo saja yang terlalu ribet. Harus-sama-Rafi."
Kyna mengembuskan nafas lalu berkata, "Jadi, gue harus sama lo? Pada akhirnya?" menaikkan alis sebelah.
"Kenapa? Lo suuzan sama gue? Lo nggak mau ke Cermin kalau sama gue? Terus lo mau apa di sini? Mancing nila?" cecar Abram. Perempuan selalu saja rumit.
Kyna bangkit dari duduknya. "Bingung gue," keluhnya. "gue mau meditasi di kamar. Mau cari jawaban," berkata dengan ketus.
Abram menarik tangan Kyna dan mencegah wanita itu untuk kembali ke kamar. "Ke kamar?"
"Iya? Mau apa lo? Ngelarang gue? Lo nggak ada hak buat larang gue. Lo bukan siapapun dalam hidup gue. Just parasite —maybe."
Abram mengabaikan perkataan Kyna yang cukup menyakitkan tersebut dan hanya bertanya, "Lo sebegitu nggak sukanya sama gue sampai lo nggak mau pergi liburan sama gue?"
Kyna menatap Abram. Ia menangkap kesedihan dari wajah pria itu, namun ia tidak peduli karena Abram juga seperti tidak pernah peduli dengan perkataannya. Apalagi yang ia utarakan adalah sebuah kebenaran. Abram bukan siapa-siapa untuknya. Setiap hal yang dilakukan pria itu adalah bagian dari tanggung jawabnya sebagai "kakak". Sudah tertanam di otaknya kalau Abram hanya melaksanakan sebuah amanat dari Hardjanto Damara. Pria itu melihat dirinya tidak lebih dari seorang adik dan tanggung jawab saja. Sampai kapanpun status mereka tidak akan berubah —akan tetap kakak dan adik.
"Gue nggak bisa jalan-jalan sama orang yang nggak baik sama gue. Maaf," jelas Kyna.
"Berarti menurut lo gue itu jahat?" Abram bertanya, "Gue pernah melakukan apa sampai lo bisa berpikiran seperti itu?"
"Pikir aja sendiri!" jawab Kyna dengan ketus, "gue mau ke kamar sekarang. Gue nggak jadi ke Cermin. Mau balik ke Jakarta aja. Sumpek di sini."
Abram terkejut dengan jawaban Kyna, "Are you insane?"
"Yes, I am. And please, stop asking me question, Abram. Gue capek. Habis ini gue minta Papa pecat Rafi. Dia sudah bikin gue nunggu dan merusak rencana gue," Kyna menarik tangannya yang sedari tadi dicekal Abram, "Dan teruntuk lo, please jangan sok peduli sama gue. Jangan jadi pangeran berkuda putih yang datang di saat tidak tepat. Gue nggak suka sama orang yang terpaksa dan nggak tulus; gue nggak suka sama orang yang memanfaatkan keadaan demi kebaikannya sendiri; gue nggak suka sama orang yang menganggap gue sebagai beban dan bagian dari tanggung jawab saja; dan gue nggak suka dikasihani. Gue tegaskan sama lo, don't pity me, Abram! Gue bisa sendiri, dengan atau tanpa lo."
...
...
...
"Sekali lagi gue ingatkan posisi lo dalam hidup gue. You're just stranger. Lo bukan siapapun kecuali orang asing yang tiba-tiba jadi kakak gue. It's weird. I know. Maybe you can act like a big brother in front of my parents, tapi nggak di depan gue. FYI, we are adults now. We have boundaries. Ketika lo saja bisa memutuskan hidup lo. Gue pun begitu adanya. Lo sama sekali nggak punya hak untuk mengatur hidup gue dan intervensi atas keputusan yang gue ambil. Paham?"
Abram terdiam. Ia tidak mampu membalas ucapan Kyna. Ia sama sekali tidak menyangka Kyna akan berkata setajam itu pada dirinya. Gue salah apa sama lo?
KAMU SEDANG MEMBACA
When Women Commanded (On Going)
ChickLitKyna Damara adalah anak perempuan satu-satunya Hardjanto Damara, seorang pengusaha Indonesia yang bisnisnya bergerak di bidang energi dan pertambangan. Pada mulanya, kehidupan keluarga Kyna baik-baik saja hingga ia merasa kalau kehadiran Abram Tehan...
